
Di lantai dua hanya terdapat tiga kamar, dan sisanya ada di lantai satu. Yang di tempati oleh Reza dan Ariel. Malam ini mereka memilih untuk menempati kamar sendiri-sendiri.
Berarti suara aneh itu terdengar dari kamar Jessy, tidak mungkin dari kamar Raka yang jelas terlalu jauh.
Awalnya Meili tidak peduli, tapi kenapa suara aneh itu masih saja terdengar. "Apa Jessy nonton film hantu?" herannya.
Namun saat di dengar lebih lama lagi, mata Meili kemudian membulat. "Astaga!" Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rasa kantuk yang tadi mendera kini hilang seketika.
"Jangan bilang!!" Meili kini baru menyadari, jika itu bukan suara dari film horor. Ia pernah mendengar suara seperti itu di salah satu drama yang pernah tonton.
Meskipun adegan tidak full seperti di situs biru, tapi suara itu sama seperti di kamar Jessy sekarang. Dan bulu keduanya seketika merinding.
Pipinya pun sekarang tiba-tiba memerah. "Tadi perasaan dingin, kenapa sekarang jadi panas?" Meili mengibaskan kedua tangannya di wajah.
Tidak pikir panjang, ia memutuskan untuk keluar kamar saja.
Karena terburu-buru Meili hampir saja menabrak Raka yang juga baru saja keluar kamar. Bahkan posisi mereka sekarang tepat berdiri di depan pintu kamar Jessy.
Keduanya sejenak beradu pandang, hingga kemudian mereka sama-sama mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Sikap mereka berdua malam ini terlihat aneh, seperti orang salah tingkah. Dan raut wajah mereka tidak jauh berbeda.
"Ehm, mau minum teh hangat bersama?" Raka menawarkan. Ia tau situasi sekarang sangat canggung. Apalagi jika mengingat suara laknat dari kamar sahabatnya.
Meili menganggukkan kepalanya. "Boleh," mungkin itu lebih baik dari pada harus kembali ke kamar dan mendengar suara aneh itu.
Sekarang mereka berdua duduk di halaman belakang vila, di temani secangkir teh hangat dan beberapa toples biskuit yang memang selalu tersedia di meja.
Seperti sebelumnya, mereka hanya diam. Masih belum ada topik pembicaraan, apalagi setelah mengalami situasi yang begitu menakutkan di dalam kamar tadi.
"Gimana kabar lo?" Raka memulai obrolan. Ia menoleh pada gadis di sampingnya yang sedari tadi hanya menundukkan pandangannya.
Meili sedikit tersentak kaget. "Baik," jawabnya sembari tersenyum. "Kakak sendiri bagaimana?" Sejak mengenal Raka baru kali ini mereka bisa mengobrol berdua seperti ini.
Sejenak mereka sama-sama terdiam kembali.
"Kak!" panggil Meili. Membuat Raka menoleh ke arahnya. "Maaf untuk selama ini." Meili memilih untuk meluruskan kesalahpahaman selama ini. "Membuat Kakak merasa terganggu dengan sikap Meili." Ia memberanikan menatap Raka yang ternyata sekarang juga menatapnya. "Mungkin setelah ini kakak nggak akan --"
"Diam lah!" Dengan suara rendah Raka memotong perkataan Meili, tapi terdengar ia tidak menyukai perkataan gadis itu.
__ADS_1
"Tapi --"
"Jangan di teruskan Meili." Raka menekankan di setiap perkataannya agar gadis itu tidak meneruskan perkataannya. Sorot matanya menatap dalam pada bola mata Meili.
Jantung Meili semakin berdegup kencang, baru kali ini ia mendengar Raka memanggil namanya penuh makna.
"Minumlah teh nya sebelum dingin," Raka mengalihkan pembicaraan. Ia sendiri mulai meminum tehnya yang sudah hampir dingin.
"Hm," Meili juga meminum teh nya. Dan tentu saja dengan banyak pertanyaan yang sekarang berputar di kepalanya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka.
"Loh, kalian belum tidur?" Yang ternyata itu adalah Jessy datang bersama Nathan. Ia tadi berniat ke dapur untuk mengambil makanan, karena merasakan perutnya yang lapar kembali. Tapi ia mendengar suara seseorang dari halaman belakang.
Uhuk.
Meili dan Raka yang melihat kedatangan Jessy juga Nathan, membuat mereka tersedak bersamaan oleh teh yang baru mereka minum.
"Ya ampun kompak banget," sindir Jessy.
__ADS_1
...----------------...
...Bukan hanya dua, aku tambah satu lagi nih 😁. Jessy sama Nathan emang nggak ngerasa banget 🤭. ...