
"Jessy!" teriak Meili pada ponsel yang masih tertempel pada salah satu telinganya, dan tentu saja sambungan telepon itu seketika berakhir.
Meili melihat layar ponselnya dengan kesal, kenapa sahabatnya itu sungguh menyebalkan.
Ia masih teringat jika Jessy pernah mengatakan malas untuk pergi ke acara prom night, tapi lihatlah dia sekarang tiba-tiba mengatakan bahwa besok ia akan pergi. Padahal sekarang sudah pukul tujuh malam, dan ia tidak mempunyai persiapan. Karena ia pikir Jessy benar-benar tidak akan ikut.
Ia lalu berjalan ke arah lemari untuk melihat pakaian yang cocok ia kenakan besok.
"Dasar nggak konsisten!" Meili terus menggerutu.
"Ck," ia berdecak melihat tidak ada pakaian yang cocok untuk ia kenakan besok. Ia sendiri sudah lama tidak membeli pakaian.
Tanpa pikir panjang, ia meraih dompet juga ponselnya. Tujuannya sekarang adalah pergi ke butik untuk membeli gaun.
"Mang Didin!" panggil Meili.
"Iya Non." Supirnya itu berlari dari arah dapur.
"Mang anterin aku ya, ke butik sekarang." Meili sedang tidak ingin menyetir sendiri.
"Baik Non." Tanpa banyak bertanya Mang Didin segera menuju garasi untuk menyiapkan mobil.
Beberapa saat kemudian, Meili akhirnya tiba di salah satu butik tempat ia biasa membeli baju.
Salah satu pegawai butik langsung menghampiri Meili, mereka tau jika gadis cantik itu adalah salah satu pelanggan tetap di sana. Dan tentu saja mereka juga tau latar belakang keluarga Meili.
Meskipun Meili datang hanya menggunakan baju tidur dan sandal jepit, tapi ia tetap mendapat pelayanan yang istimewa. Uang memang membuat pandangan orang berbeda.
Meili kemudian di tuntun ke tempat dimana di sana terdapat beberapa deret gaun pesta yang tertata rapi, setelah tadi ia mengatakan membutuhkan gaun untuk acara pesta sekolahnya.
Pegawai toko itu mengambil beberapa gantung gaun, tentu saja itu adalah gaun terbaik mereka dan keluaran terbaru.
"Silahkan nona, ini adalah keluaran terbaru di butik kami." Pelayang toko itu menunjukkan satu persatu gaun yang ia bawa. Dan menerangkan detail di setiap gaunnya.
Ada satu yang mencuri perhatian Meili. Gaun merah menyala dengan panjang selutut dan potongan lengan pendek.
Meili mengambil gaun itu, dan melihat lebih jelas. Gaun itu di bagian pundak hingga dada menggunakan kain tipis dengan warna senada, bisa di pastikan jika ia memakainya kulit putihnya akan bisa di lihat.
Bisa di bayangkan gaun warna merah menyalah di padukan dengan kulit putihnya, pasti akan menjadi kombinasi yang apik.
Apalagi gaun itu terlihat simpel tanpa banyak adanya aksesoris yang menempel. "Mbak saya ambil yang ini ya."
"Baik Nona, kami akan segera menyiapkannya." Pelayanan butik itu segera mengemas gaun pilihan Meili.
Niatan yang tadi hanya ingin membeli gaun, kini merambat menjadi membeli sepatu tentu saja dengan warna yang senada dengan gaunnya. Ia memilih sepatu yang mempunyai hak lebih tinggi dari pada yang biasanya ia beli, tidak lupa juga tas tangan yang menyempurnakan penampilannya. Dan terakhir adalah anting mutiara kecil yang bewarna soft pink.
*
*
Pagi harinya Raka terlihat mengendarai mobilnya, tujuannya adalah bandara.
Hari ini orang tuanya akan kembali ke luar negeri, mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
__ADS_1
"Kamu sering-sering pulang ke rumah." Pesan Anita. Mereka sudah tiba di bandara, dan sebentar lagi mereka akan berpisah dengan putra kesayangannya kembali.
Andai saja putranya itu mau untuk ikut, dan bersekolah di sana. Sayangnya Raka lebih memilih untuk tinggal.
"Iya Ma," Raka yang menyanggupi. Ia kemudian memeluk erat wanita yang telah melahirkannya itu.
Raka kemudian beralih kepada Raja, ia juga melakukan hal yang sama. Memeluknya dengan erat.
"Kamu boleh berteman dengan siapa saja, tapi harus bisa menjaga diri. Jangan sampai kamu terjerumus dalam pergaulan bebas," pesan yang selalu di katakan Raja sebelum ia pergi seperti sebelum-sebelumnya. "Dan jangan sering-sering membawa pulang gadis ke apartemen, papa tidak mau mempunyai cucu sebelum kamu menikah." bisik nya.
Tentu saja itu membuat mata Raka melebar.
Untung saja posisi mereka masih dalam berpelukan.
"Untung saja hanya Papa yang tau, coba kalau Mama kamu juga tau! Pasti kamu sekarang sudah menikah seperti Nathan." Raja melepaskan pelukannya dengan mengulum senyum di bibirnya. Ia mengetahui sahabat putranya itu sudah menikah di saat acara wisuda kemarin.
Ia sempat terkejut mendengarnya dari Tama papa Nathan. Tapi ia juga bangga jika laki-laki seumuran anaknya sudah mampu untuk bertanggung jawab.
"Ya sudah kami pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik." Raja dan Anita yang mulai beranjak dari sana. Hingga beberapa langkah, Raja kembali menoleh ke arah putranya yang terlihat masih terkejut. "Ingat pesan papa!" teriaknya. Kemudian ia benar-benar pergi dari sana.
Raka hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar sembari melihat kepergian orang tuanya. Sudah bisa di tebak siapa yang menceritakannya, siapa lagi kalau bukan pamannya.
*
*
Malam harinya, Meili benar-benar tampil berbeda. Ia mengaplikasikan make up di wajahnya, yang membuatnya semakin mempesona.
Malam ini ia terlihat sedikit lebih dewasa.
Ia menatap dirinya di depan cermin. "Ternyata aku juga berbakat jadi MUA," ia memuji dirinya sendiri. "Sekarang waktunya berangkat."
Malam ini Meili akan lebih dulu untuk menjemput Jessy.
Ketika sudah sampai di rumah Mariam, Meili langsung saja menuju kamar Jessy.Setelah tadi Mariam memberitahunya jika sahabatnya itu masih di dalam kamar. "Jessy, sudah belum?" Meili langsung menerobos ke kamar Jessy. Ia seakan lupa jika sahabatnya itu sudah menikah.
Jessy memutar bola matanya malas melihat kelakuan sahabatnya yang tidak berubah itu. Ia mengajak Meili tentu saja ia di sana nanti tidak mau sendirian, ia tidak mungkin menyuruh suaminya untuk selalu di sisiNya. "Ya sudah ayo berangkat."
Setelah berpamitan dengan Mariam, keduanya segera meluncur ke sekolah.
Hingga tak lama, mobil yang di kendarai Meili sampai di halaman sekolah yang rupanya sudah ramai.
"Ternyata yang ikut banyak juga Jessy," seloroh Meili. "Kalau begini bisa beneran dapat jodoh." antusiasnya.
Tanpa menanggapi ucapan Meili, Jessy langsung turun dari mobil.
Setelah itu mereka berjalan menuju ruangan yang akan di jadikan prom night. Ketika kedua gadis itu mulai berjalan memasuki area, sontak saja mereka menjadi pusat perhatian.
Jessy yang terlihat anggun dan mempesona, dan Meili yang terlihat berbeda dari biasanya.
Jessy mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan suaminya, namun sama sekali tidak terlihat. "Apa belum datang ya?" gumamnya.
Sedangkan Meili, ia sudah mengedarkan pandangannya bersiap untuk mencari mangsa yang akan di jadikan calon pacar. Ia ingin membuka lembaran baru, setelah pendekatan yang ia lakukan kepada Raka yang berakhir dengan tragis. Dan sampai sekarang tidak ada titik terang di antara mereka.
__ADS_1
"Jessy, aku ambil minum dulu ya!" pamit Meili. "Mau di ambilkan juga?" tawarnya, tapi mendapat gelengan kepala dari sahabatnya itu.
Baru saja Meili pergi dari sana, Tasya berjalan mendekat ke arah Jessy.
Malam ini, Tasya juga terlihat begitu cantik dengan gaun bewarna putih. "Kak Jessy," sapa nya.
Jessy langsung menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata Tasya sudah berdiri di belakangnya.
"Selamat Kak, atas pertunangannya." ucap Tasya.
Jessy hanya tersenyum tipis mendengar ucapan adik tirinya itu, sudah berbulan bulan ia bertunangan dan baru hari ini ia mengucapkan selamat. "Terima kasih."
Selang beberapa lama, semua yang hadir di sana tiba-tiba mendadak menjadi riuh. Kedatangan seseorang membuat suasana menjadi ramai.
Jessy dan Tasya sontak mengalihkan pandangannya pada pintu masuk. Dan betapa terkejutnya mereka, ternyata itu adalah Nathan. Ia datang dengan penampilan baru, rambutnya yang sebelumnya berwarna sedikit kecoklatan sekarang berganti warnah lebih terang.
Perubahan yang di lakukan Nathan semakin membuatnya mencolok di antara yang lainnya. Tentu saja ia semakin bersinar dengan ketampanannya.
Nathan hanya berjalan lurus, yang ia tuju sekarang adalah di mana tempat istrinya berdiri dengan pandangan tak berkedip menatapnya. "Maaf sayang, aku terlambat." Ia begitu saja memeluk Jessy, membawanya ke dalam dekapan.
Hal itu semakin membuktikan bahwa mereka benar-benar tak terpisahkan, bahkan sikap Nathan begitu berubah jika di dekat Jessy. Ia yang biasanya terlihat datar, kini berubah begitu hangat dan romantis.
Sedangkan pasangan suami istri itu sekarang tidak menyadari kehadiran Tasya di dekat mereka.
Tasya meremas gaunnya kuat, menahan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan kencang. Hanya satu yang ia rasakan sekarang, sakit.
Ia berlalu berlalu begitu saja dari sana sebelum hatinya bertambah perih.
"Jadi gara-gara ini, mulai dari kemarin sama sekali tidak terlihat?" sungut Jessy setelah pelukan mereka terlepas.
Awalnya tadi ia memang terpesona dengan penampilan baru suaminya yang semakin tampan, namun kemudian ia berpikir ulang. Jika suaminya bertambah tampan pasti akan lebih banyak yang ingin mendekati suaminya, karena jaman sekarang mereka tidak peduli meskipun sudah berstatus suami orang masih saja di libas. Jiwa kepemilikannya seketika muncul, ia tidak rela jika suaminya itu menjadi santapan mata-mata nakal.
Nathan hanya terkekeh mendengar ocehan istrinya. Sebenarnya ia hanya ingin berpenampilan sedikit berbeda saja agar terlihat lebih segar dan itu buat istrinya. Ia menarik pinggang istrinya agar lebih merapat, ia tidak peduli semua mata yang sedang tertuju padanya. "Jangan marah, nanti semakin menjadi cantik. Aku akan susah menahan diriku jika seperti ini."
"Menahan apa," sahut Jessy yang masih dengan nada sewot.
Nathan mendekat ke arah telinga Jessy. "Menahan untuk tidak membawamu ke ranjang," bisik nya. Dan itu langsung di hadiah capitan panas oleh istrinya.
"Dasar tidak tahu tempat!" sembur Jessy.
"Woy!" Ariel dan Reza membuyarkan keromantisan pasangan suami istri itu. "Di tunda nanti kan bisa!" cibir Ariel.
"Iya, mentang-mentang dah halal." Reza ikut menimpali.
Nathan sama sekali tidak menanggapi ocehan temannya, dalam sekejap ia berubah kembali dalam mede datar. Tapi tidak dengan Jessy, tentu saja ia merasakan malu dan ia hanya bisa menyembunyikan rona pipinya.
"Raka kemana?" Nathan tidak melihat keberadaan sahabatnya itu.
Reza dan Ariel juga baru menyadari jika sahabat mereka menghilang, padahal tadi mereka datang bersama.
"Loh, kemana tuh anak?" Ariel mengedarkan pandangannya. "Apa lagi mules ya?" kekeh nya.
...----------------...
__ADS_1
...Seperti biasa gengs ritualnya ðŸ¤, vote, like dan komen. Lope lope sekebon jagung buat kalian 🥰...