
Semua tamu bergantian memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru. Dan terakhir adalah giliran Meili.
Bagaimana tidak, gadis itu merasa terkejut, kesal, senang, bahagia menjadi satu.
"Huaaaaaaa!" Baru saja berdiri di hadapan Jessy, tapi Meili sudah menangis.
Jessy sendiri merasa terkejut dengan kehadiran Meili, tapi tidak dengan Nathan. Nathan sudah bisa menebaknya jika Meili akan ikut dengan papa nya, karena ia tau jika papi Tama dengan papa Meili berteman baik.
"Meili, kenapa lo nangis?" Jessy yang sudah bisa meredam keterkejutan nya.
"Kenapa masih tanya?" sungut Meili. "Tentu saja karena kamu tidak memberitahuku, dan mengajakku langsung ke pernikahan mu." ucapnya dengan sedikit kesal.
Jessy hanya memutar bola matanya malas mendengar itu. "Udah, nggak usah drama deh!"
Meili melotot. "Kamu jahat!" Tapi setelah itu ia memeluk Jessy dengan erat, tidak lupa dengan tangisnya yang semakin kencang.
"Meili, diam lah!" Jessy yang berusaha melepaskan pelukan Meili, tapi sahabatnya itu justru semakin erat memeluknya. "Meili gue nggak bisa nafas!"
Meili seketika melepaskan pelukannya, dan dengan tidak bersalahnya ia hanya tersenyum lebar. "Maaf," dan mengusap ingusnya.
Jessy berdecak kesal melihat kelakuan Meili.
Meili kemudian menoleh ke arah Nathan. "Kak Nathan selamat ya," ia mengulurkan tangannya. "Kak Nathan mulai hari ini jangan hukum Jessy kalau dia sering terlambat masuk sekolah," ujarnya.
Hal itu sontak saja membuat mata Jessy mendelik. Kurang ajar sekali sahabatnya itu membuka aibnya di sini.
Nathan hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Meili, lalu menoleh ke arah Jessy yang sekarang terlihat kesal. "Kita lihat saja nanti."
Setelah hari menjelang siang, semua tamu dan saudara sudah memutuskan untuk pulang. Hanya tersisa keluarga inti saja dan Meili yang berada di Vila. Meili memutuskan untuk tinggal karena Mariam nenek Jessy menyuruhnya untuk menemani Jessy.
*
*
"Sayang lagi ngapain?" Mariam melihat Meili di depan pintu kamar Jessy.
"Mau cari Jessy Nek! Pinjam baju, udah gerah." Meili hampir saja memutar kenop pintu.
"Nanti saja," cegah Mariam. Karena di pikiran Mariam sekarang cucunya berada di kamar sedang melakukan ritual pengantin baru. Bisa sawan jika Meili melihatnya. "Ayo kita main tok tok saja! Oma tadi ngajakin," katanya. (Oma, neneknya Nathan)
__ADS_1
"Tok tok?" Mata Meili berbinar mendengar itu. Salah satu aplikasi yang sedang booming. "Ayo Nek." Ia seketika melupakan niatnya untuk meminjam baju Jessy.
Dan benar saja, di taman samping vila. Oma sedang bermain tok tok dengan hebohnya.
"Ayo sini!" Begitu Oma melihat kedatangan Meili dan Mariam.
Meili tidak menyangka di usia yang tidak lagi mudah, Nenek dan Oma masih sangat lincah jika bergoyang.
Bahkan tiga wanita beda generasi itu begitu lihai dalam memainkan aplikasi tok tok.
Dengan bantuan dari supir keluarga Nathan yang bertugas mengambil video, tiga wanita itu terus bergoyang menikmati irama lagu yang menghentak.
"Ayo nek, oma, goyang pargoy nya lebih slebew!" teriak Meili.
*
*
Setelah hari pernikahan Jessy, semua kembali seperti semula. Tapi Meili sedikit heran, karena Jessy memintanya untuk tidak menceritakan ke siapapun tentang pernikahannya. Termasuk Tasya.
Dengan berjalannya waktu, Meili senang akhirnya Tasya berubah seperti dulu. Namun ternyata itu tidak bertahan lama, semakin kesini Meili seperti tidak mengenali sosok Tasya yang dulu. Sahabat yang selalu ramah.
Meili membolak balikkan tubuhnya di atas ranjang. Rumah mewahnya seakan tidak berpenghuni, setiap hari yang ia rasakan hanya kesepian.
Ponsel yang sedari tadi di pegang nya seakan tak berguna, ia mencoba menghubungi Jessy tapi sahabatnya itu sama sekali tidak meresponnya. "Jessy tumben nggak angkat telepon? Biasanya selalu di angkat!" gerutunya.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan matanya masih setia terbuka lebar. Ia kemudian mengambil jaket dan dompetnya tidak lupa dengan kunci mobil.
"Nona mau kemana?" tanya salah satu scurity rumahnya ketika Meili masuk ke dalam mobilnya bersiap pergi.
"Keluar sebentar pak," sahut Meili. Tapi waktu ia akan melajukan mobilnya ia kemudian memanggil scurity itu lagi. "Nggak usah bilang-bilang papa ya! Awas kalau sampai bapak ngadu," pesannya di sertai ancaman. Dan satpam itu hanya menganggukkan kepalanya.
Entah akan kemana Meili pergi, ia hanya berputar putar mengelilingi jalanan tanpa arah.
Hingga akhirnya, mobil Meili berhenti di supermarket 24jam. Ia memutuskan untuk memborong saja snack untuk menemaninya begadang.
Di dalam supermarket, ternyata Meili benar-benar mengisi trolinya dengan penuh snack dan beberapa minuman kemasan.
Setelah selesai membayar, tujuan Meili sekarang adalah pulang ke rumah.
__ADS_1
"Ternyata sudah sangat sepi," Meili mengedarkan pandangannya pada jalanan yang ia lewati. Hanya beberapa orang saja yang masih melintas.
Di saat Meili mengendarai mobilnya, pikiran Meili menerawang jauh. Ia teringat kepada Mamanya yang sudah jarang menghubunginya, mungkin karena sibuk dengan keluarga barunya.
Brak.
Gara-gara tidak fokus menyetir, Meili tidak sengaja menyenggol sepeda motor yang baru menyalip mobilnya. "Mati aku!"
Tanpa pikir panjang Meili langsung keluar untuk melihat keadaan sang pengendara. "Mas, tidak apa-apa?" tanya Meili khawatir pada pengendara sepeda motor yang ternyata dua orang laki-laki. "Maaf saya tidak sengaja," ucapnya dengan panik.
Dua laki-laki tadi yang sempat terjatuh kemudian berdiri dan menatap ke arah Meili. "Lo nggak lihat, gue jatuh karena lo tabrak!" bentaknya, dan itu semakin membuat Meili takut.
"Lo harus ganti rugi!" laki-laki satunya menimpali. "Lo harus ganti dua puluh juta." imbuhnya.
Mata Meili melotot mendengar itu, ia kemudian melihat keadaan sepeda motor yang ternyata baik-baik saja dan hanya beberapa bagian yang pecah itu pun skala kecil. Kedua laki-laki itu juga tidak ada yang terluka, hanya lecet-lecet sedikit.
Rasa takut yang tadi menghampiri Meili seketika berubah jadi rasa kesal. "Mas yang benar saja dong, mas nya mau ganti rugi atau meras?" Sebenarnya Meili masih mampu jika harus mengeluarkan sejumlah uang yang mereka minta, tapi itu tidak masuk akal untuk keadaan mereka yang baik-baik saja.
"Tadi lo yang nabrak, jadi lo harus tanggung jawab." gertak dua laki-laki itu yang terus menyalahkan Meili. Mereka yakin jika di lihat dari penampilan Meili adalah anak orang kaya.
"Tapi mas nya juga tadi tiba-tiba nyalip," Meili membela diri. "Saya mau tanggung jawab bawa mas berdua ke rumah sakit dan untuk sepeda motornya akan saya biayai servis nya." putus Meili.
Kedua laki-laki itu saling pandang seperti mengisyaratkan sesuatu, kemudian mantap Meili dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada senyuman aneh yang terlihat di wajah mereka.
"Ok kalau lo nggak mau ganti rugi, gimana kalau lo nemenin kami berdua. Setelah itu kita anggap impas," setelah berkata seperti itu dua lelaki itu tertawa.
Meili merasakan bulu kuduknya merinding, apalagi melihat kedua ekspresi laki-laki di hadapannya yang begitu menyeramkan. Ia sudah merasakan tidak aman, apalagi jalan yang semakin sepi. "Kalian jangan kurang ajar ya!" bentak Meili. "Kalau kalian tidak mau ya sudah," Meili memutuskan pergi dari sana.
Tapi baru saja ia membuka pintu mobil, kedua laki-laki itu mencekal tangan Meili. "Nona, kalau berbuat harus berani bertanggung jawab." ucapnya di iringi kekehan.
"Lepas!" Meili menyentak tangan laki-laki itu tapi tidak berhasil. Mereka bahkan mencengkeram kuat tangan Meili.
"Kalau galak seperti ini, tambah semakin menggemaskan." Para lelaki itu bahkan tidak peduli dengan Meili yang meronta ingin melepaskan diri. "Kita akan bermain cepat, paling setengah jam kita berdua sudah selesai."
Meili yang mendengarkan perkataan mereka semakin di landa rasa takut, sekarang masa depannya sedang di ambang batas. "Tolong!" teriak Meili. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
...----------------...
...Maaf kemarin nggak up 🙏, lagi ada kesibukan di dunia nyata. ...
__ADS_1