Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Cucu


__ADS_3

Meili merebahkan dirinya di atas ranjang, setelah selesai membersihkan diri.


"Tidak ganti baju dulu?" Raka sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat istrinya yang masih mengenakan handuk.


"Aku capek!" keluh Meili.


Bagaimana tidak, di mall tadi ia mencoba semua wahana di mall bersama Alex. Bahkan Raka harus berkali kali mengingatkan jika istrinya itu dalam keadaan hamil.


Raka hanya menggelengkan kepala kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


*


*


Baru saja akan terlelap tiba-tiba Meili seketika membuka matanya ketika teringat akan sesuatu. "Ya ampun!" Ia seketika duduk.


"Ada apa?" Raka yang juga terkejut, ia tadi juga hampir terlelap.


Meili menoleh ke arah suaminya. "Sayang, Mama dan Papa belum di kasih tau?"


Namun Raka hanya diam, ia tidak paham apa yang di maksud istrinya.


"Ck," Meili berdecak. "Cucu!" katanya.


"Astaga! Aku lupa." Raka yang juga tidak mengingatnya.


"Ayo telepon Mama sekarang." kata Meili dengan antusias.


Raka kemudian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Anita.


Butuh beberapa waktu untuk sambungan video call itu di angkat.


"Halo Nak!" Anita di seberang sana. Ia melihat putra dan menantunya yang tampak tersenyum. "Hei, ada apa? Kenapa kalian tersenyum seperti itu?" tanyanya dengan curiga.


Ponsel Raka seketika di ambil alih oleh Meili. "Mama!" panggilnya dengan semangat, hingga suara cempreng nya menggema di kamar.


"Ya ampun sayang, suara kamu semakin hari semakin mirip bom atom." Anita tergelak.


"Hahahaha," Meili yang juga tertawa.

__ADS_1


Raka memutar bolamatanya malas, jika sudah begini biasanya ia tidak di perlukan oleh para wanita itu.


"Ma!"


"Hm... !"


Meili terdiam dan menatap serius ke arah anita, namun bibirnya begitu terlihat jika ia sedang menahan senyum. "Aku punya sesuatu untuk Mama."


"Apa?" Anita yang sama sekali tidak curiga.


"Sebentar!" Meili mengambil tasnya, dan mengambil selembar foto yang dominan warna hitam. "Taraaaaa!!!" ia memperlihatkan ke arah layar ponselnya.


Anita yang tadinya masih tersenyum kini matanya memicing memastikan apa yang ia lihat, ia bahkan mendekatkan wajahnya ke arah ponsel agar apa yang di lihatnya benar-benar jelas.


"Astaga!" Mulutnya menganga, rasa terkejut dan bahagia datang secara bersamaan hingga menciptakan suasana haru.


"Cucu Mama." ujar Meili dengan antusias.


"Mama akan jadi Nenek?" Anita yang masih tidak percaya.


"Iya. Dan Papa jadi Kakek."


Anita di seberang sana seketika memanggil Raja, mengabarkan hal bahagia itu. Dan Raja juga merasakan apa yang istrinya rasakan, mereka akan mendapatkan cucu pertamanya delapan bulan lagi.


*


*


Pagi-pagi sekali ketika Meili baru saja membuka matanya, ia melihat suaminya yang sudah rapi. "Kak!"


Raka menoleh sembari mengancingkan kemejanya, ia tampak tampan seperti biasanya. Apalagi jika ia di balut oleh jas putih kebesaran ya, itu akan membuatnya lebih tampan sempurna. "Apa aku membangunkanmu?"


"Kakak ada panggilan kerja?" Meili justru melontarkan pertanyaan. Bukan pertama kalinya ia mendapati suaminya yang tiba-tiba harus pergi ke rumah sakit meskipun sekarang hari minggu, bahkan di tengah malam pun Raka pernah mengalaminya.


"Iya, ada aprasi darurat." jelas Raka, ia kemudian mendekat ke arah Meili yang kemudian duduk di tepi ranjang. "Aku tinggal ya! Kamu lanjutkan tidur saja lagi."


"Hmm.. "


Sebelum berangkat tidak lupa Raka meninggalkan sebuah kecupan dan pelukan hangat untuk istrinya, rutinitas yang tidak boleh terlewatkan.

__ADS_1


Dan seperti ucapan Raka, Meili kembali merebahkan tubuhnya melanjutkan mimpi indahnya yang sempat terjeda.


*


*


Meili mengerjapkan matanya saat sinar matahari tidak sengaja mengenai wajahnya. "Apa sudah pagi ya?"


Ia melihat jam di ponselnya, yang ternyata pukul delapan pagi. "Ya ampun, aku tidur apa pingsan!" Ia merutuki kelakuannya sendiri.


Karena biasanya ia tidak pernah bangun sesiang ini meskipun hari libur.


Ia kemudian memutuskan keluar dari kamar setelah mencuci wajahnya. Yang ia tuju sekarang adalah meja makan, ia merasa perutnya begitu lapar.


Setelah sampai, terlihat beberapa makanan yang tersaji di atas meja.


"Nyonya mau makan sekarang? Biar saya panaskan." Salah satu bibi menghampiri Meili.


Meili memperhatikan semua makanan di atas meja, sebenarnya semuanya enak-enak hanya saja ia tidak ingin memakannya.


Meili menggelengkan kepalanya. "Bibi simpan saja semua makanan ini, buatkan saja aku salad buah sama es jeruk."


"Baik nyonya."


Tidak membutuhkan waktu lama, bibi sudah membawakan apa yang di inginkan oleh Meili.


"Hm... enak!" Meili memejamkan matanya ketika rasa segar yang di hasilkan oleh beberapa buah yang ia makan melebur jadi satu di mulutnya. Apalagi es jeruk yang menjadi pendampingnya, rasanya semakin sempurna.


Apalagi menikmati sarapan sembari menonton film kesukaannya.


Di saat ia tengah menikmati sarapan, terdengar suara deru mobil yang masuk ke dalam halaman rumahnya. "Mobil siapa ya?" Meili yang tau jelas itu bukan mobil suaminya.


Hingga tidak lama terdengar suara yang sedang memanggilnya.


"Sayang.... Mama pulang!" Yang ternyata adalah Anita.


Meili mendengar itu langsung meletakkan sarapannya, ia segera menghampiri asal suara. "Mama... !" Meili melihat Anita di ambang pintu.


Namun baru saja ia akan menghampiri, Anita lebih dulu mencegahnya.

__ADS_1


"No, stop!" Anita menginterupsi. "Kamu jangan lari sayang, diam di situ ok. Biar Mama yang lari," setelah itu ternyata Anita benar-benar berlari menghampiri Meili.


...----------------...


__ADS_2