
Pagi ini Meili sudah terlihat cantik. Polesan makeup tipis di wajahnya semakin membuatnya mempesona.
Hari ini adalah hari di mana wisudanya akan di langsungkan.
"Sempurna." Meili memuji dirinya sendiri, setelah itu ia keluar dari kamar. "Bibi sudah siap?" Begitu ia melihat bibi yang sudah rapi.
Seperti sebelum sebelumnya, kali ini pun sama. Bibi yang akan menemaninya, karena ternyata hingga sekarang papa nya belum juga kembali dari urusan pekerjaannya.
"Sudah Non." jawab Bibi.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang."
Di depan ternyata Mang Didin sudah siap untuk mengantar mereka.
Di dalam perjalanan, sesekali bibir Meili mengembang membentuk sebuah senyuman. Ia masih tidak menyangka sebentar lagi ia akan meninggalkan sekolah SMA, di mana masa-masa indah pernah ia alami.
Mulai menemukan sahabat sejati hingga menemukan cinta pertamanya. Ah, rasanya sungguh kenangan manis.
Beberapa saat kemudian ia sudah sampai di sekolah. Ternyata di sekolah sudah lumayan banyak yang sudah tiba.
Setelah turun dari mobil, sejenak ia mengedarkan pandangannya. Senyum yang tadi sempat menghiasi bibirnya kini perlahan menghilang.
Pandangan di depan matanya sungguh menyadarkan dirinya, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang yang kita sayang ada saat kita butuhkan.
Lihatlah semua raut wajah temannya terlihat begitu bahagia karena hari ini di temani oleh orang tersayang, orang tua ataupun saudara.
__ADS_1
Sedangkan dirinya?
Perlahan mata Meili mulai memanas, dadanya tiba-tiba saja terasa sesak merasakan itu. Ia kemudian menoleh ke arah Bibi. "Bi, tunggu sebentar ya. Meili mau ke toilet sebentar."
Ia lalu berlalu begitu saja dari sana, bahkan sebelum sampai di toilet air matanya sudah mengalir tanpa bisa ia tahan.
Sang Bibi yang melihatnya, hanya bisa mengelus dada. "Bersabarlah Non, semoga suatu saat Nona akan mendapatkan keluarga yang menyayangi Nona." Do'anya.
Ia tahu betul bagaimana Nona nya selalu terlihat tegar di depan orang lain, meskipun hatinya sangat rapuh.
Ketika baru sampai di toilet, Meili terkejut karena mendapati Jessy sudah berada di sana. Sontak saja ia menghentikan langkahnya, dan dengan cepat menghapus air matanya.
Secepat kilat, senyum yang biasa menghiasi wajahnya kini sudah kali terlihat.
Jessy memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan konyol sahabatnya. "Lah lo sendiri ngapain di sini?"
"Lah, di tanya balik nanya."
"Emang kalau di toilet mau ngapain?"
"Ya buang air kecil lah, kalau nggak gitu ya poop. Eh ada juga yang dandan di toilet."
"Kirain mau konser," sahut Jessy dengan tersenyum miring.
"Jessy kamu kok sekarang tambah lemot sih?" keluh Meili yang menganggap serius omongan sahabatnya.
__ADS_1
Mata Jessy mendelik mendengar itu, enak saja ia di katai lemot. "Meili, lo--"
"Oh ya aku baru inget!" sela Meili ketika ia teringat sesuatu. Sebenarnya ini bukan haknya untuk bertanya, toh sahabatnya itu punya suami. Jadi jika apa yang di pikirkan nya benar jadi wajar wajar saja, tapi jiwa kepo di dalam dirinya sudah meronta ronta. "Jessy, kamu--" Meili melihat di sekitarnya dan ternyata sepi. "Kamu lagi isi?"
"Isi? Isi apaan?" ia masih belum mengerti.
"Ya ampun!" Meili menepuk keningnya. "Ternyata beneran lemot," gumamnya sembari melirik ke arah Jessy. "Maksud aku hamil?"
Lagi-lagi mata Jessy membola. "Ngawur lo bicaranya," ia masih tidak ingat jika suaminya sudah lama tidak memakai balon ajaib ketika mencari kenikmatan bersamanya.
"Kenapa ngawur?" Sekarang giliran Meili yang terheran.
"Nggak mungkin lah," sahut Jessy yakin.
"Yakin?"
"Iya."
"Emang udah di tes?"
Jessy terdiam mendengar pertanyaan Meili yang terakhir.
...----------------...
...Sedikit dulu gengs, otaknya lagi nggak sejalan 😣. ...
__ADS_1