
Meili menghempaskan punggungnya di sandaran ranjang. Setelah baru saja ia pulang dari acara wisuda di sekolahnya.
Raut wajahnya tak secerah biasanya, tentu saja karena hasil akhir yang tidak memuaskan. Meskipun ia sudah di nyatakan lulus, tapi ia tetap saja masih gusar.
Yang menjadi ketakutan terbesarnya sekarang adalah melihat reaksi papanya yang sudah ia pastikan akan marah.
Tapi ia harus bagaimana lagi, ia sudah berusaha sekuat tenaga.
"Nanti, pasti rasanya sakit lagi." Membayangkan rasanya yang selalu sama di setiap pengambilan raport, apalagi sekarang adalah hari kelulusan. Ia bisa membayangkan rasanya pasti akan lebih sakit dari biasanya.
Hingga malam tiba, Irfan nyatanya baru sampai di rumah. Rasa lelah terlihat jelas di wajahnya.
Matanya tidak sengaja menangkap keberadaan putrinya yang sedang menikmati acara televisi, dan itu membuatnya ingat dengan apa yang di sampaikan kepala sekolah tadi siang.
Ketika ia menanyakan hasil nilai putrinya, yang ternyata hasilnya masih sama seperti sebelum sebelumnya.
Tentu saja itu membuat rasa marah menyelimuti dirinya, di tambah rasa lelah yang sekarang ia rasakan semakin membuatnya bertambah.
Langkah tegap itu menuju di mana putrinya berada sekarang.
"Meili." Suara bariton itu jelas saja mengagetkan Meili. Ia langsung menoleh ke arah asal suara yang ternyata ayahnya sudah berdiri tegap dengan sorot mata yang tajam. Itu seketika saja membuat tubuhnya menegang. "Pa," lirih nya.
Meili sudah bisa menebak jika Papa nya akan membahas tentang wisudanya.
"Meili Papa sudah dengar hasil nilai akhir kamu dari kepala sekolah." kata Irfan.
Meili hanya bisa terdiam, kenyataan memang nilainya tak seperti yang papa nya inginkan.
"Papa kan sudah bilang, kamu harus bisa jadi lebih baik Meili!" Dada Irfan sedikit memburu, rasa amarah kini bercampur dengan kecewa. "Kenapa selalu saja seperti ini! Kamu itu anak pemilik yayasan. Jadi sepantasnya kamu itu menjadi contoh bukan malah membuat malu." Suara Irfan menggelegar ke penjuru ruangan.
Bibi yang tadinya berniat istirahat seketika terhenyak, dan betapa terkejutnya mereka melihat ayah dan anak itu sedang dalam situasi yang tidak baik.
Sebenarnya mereka iba dengan nasib nona nya, tapi mereka hanyalah seorang pekerja yang tidak mampu untuk membelanya.
Sekuat hati Meili menahan rasa sakit yang mulai muncul, meskipun ini sudah terjadi untuk yang kesekian kalinya tapi rasanya selalu sama. "Maaf Pa," lirih nya.
__ADS_1
Mata indahnya tak sanggup menatap ke arah Irfan.
"Kamu selalu saja mengucapkan kata maaf, tapi selalu kamu ulangi lagi dan lagi." Semakin lama suara Irfan semakin meninggi, seolah itu mewakili apa yang ia rasakan sekarang. "Jika seperti ini lebih baik kamu tidak usah kuliah, kamu menikah saja seperti teman kamu. Itu lebih baik." bentaknya.
Meili seketika mengangkat pandangannya, ia menggelengkan kepalanya. "Nggak Pa, Meili nggak mau." Ia sama sekali tidak berpikir untuk menikah mudah.
Meskipun ia melihat sahabatnya yang bahagia dengan pernikahannya, tapi ia tidak ingin seperti itu. Ia masih ingin mengejar cita-cita nya.
"Terus kamu mau apa? Jika kamu kuliah, hasilnya akan sama. Buang-buang waktu." Kata-kata yang keluar dari mulut Irfan semakin lama semakin tidak terkontrol. Karena bagi pembisnis seperti dirinya waktu sangat berarti, bukankah selogan mereka memang time is money.
Tapi yang Irfan lupa adalah, waktu berharga bersama putrinya yang telah lama ia lupakan.
Satu tetes air mata Meili mengalir begitu saja, betapa tega papa nya berkata seperti itu padanya. Bukankah seharusnya papanya merasa bersalah karena selama ini sudah menukar waktu kebersamaan mereka dengan pekerjaannya. "Apa Papa sadar, jika perkataan Papa sangat menyakitkan untuk Meili?" Bibirnya bergetar menahan sakit yang teramat dalam. Untuk pertama kalinya ia berbicara seperti ini.
"Jika kamu merasa sakit dengan ucapan Papa, seharusnya kamu tunjukkan jika kamu bisa menjadi apa yang Papa mau." Irfan seolah tidak peduli dengan tatapan sendu putrinya. Ia menghembuskan nafasnya kasar. "Keputusan Papa masih sama, jika kamu tidak mau mengikuti keinginan Papa! Silahkan kamu memilih jalan hidup kamu sendiri."
Irfan melangkahkan kakinya pergi setelah mengatakan itu.
"Apa Papa belum puas melihat kehidupanku tanpa Mama?" Ucapan Meili berhasil membuat langkah Irfan berhenti.
"Karena Meili tidak tahu, makannya Meili tidak pernah bertanya kenapa Papa dan Mama berpisah." Meili terisak, ia teringat di mana hari itu adalah hari yang sangat menyakitkan untuknya. "Dan Meili harus menjalani di mana Meili harus hidup tanpa kasih sayang Mama."
"Waktu itu Meili mencoba berbesar hati menerima keadaan Meili, hidup dengan orang tua yang terpisah. Karena Meili yakin kasih sayang kalian berdua tidak akan pernah berubah pada Meili, tapi kenyataannya kalian EGOIS." Rasa yang selama ini ia pendam tanpa sadar keluar begitu saja.
Hujan malam itu seperti hati Meili sekarang, luka yang dulu ia rasakan kini harus terbuka kembali.
"Kalian hanya mementingkan perasaan terluka kalian tanpa mau memikirkan bagaimana perasaan Meili."
"Mama hidup bahagia dengan keluarga barunya, dan lupa dengan anak kandungnya."
"Sedangkan Papa! Papa tega menukar waktu bersama putrinya dengan pekerjaan."
Tangis gadis itu semakin pecah setelah mengungkapkan isi hatinya.
Plak.
__ADS_1
Satu tamparan mendarat tepat di pipi mulus Meili.
"Asal kamu tau Papa bekerja juga untuk kamu!" Irfan menegaskan.
Meili menggelengkan kepalanya, merasa tidak setuju dengan papanya. "Tidak, semua yang Papa lakukan bukan untuk Meili. Tapi untuk Papa sendiri."
Tangan Irfan seketika melayang ke udara, bersiap kembali ia layangkan pada pipi putrinya. Namun ia terhenti ketika mendapati putrinya yang sekarang menatapnya tanpa rasa takut.
"Apa dengan begini Papa akan puas?" tanya Meili. "Jika Papa dan Mama memang tidak peduli dengan Meili, kenapa kalian tidak membuang Meili saja agar tidak membuat beban untuk kalian!!" Meili rasanya sungguh lelah dengan kehidupannya.
Tangan Irfan terkepal kuat, tapi setelah itu ia memilih untuk meninggalkan putrinya yang sedang menangis pilu.
Melihat kepergian Papa nya, semakin membuat hatinya hancur. Tidak bisakah papa nya itu mengucapkan kata maaf padanya untuk rasa sakit yang telah mereka berikan padanya.
Meili berlari keluar dari rumah, ia segera masuk kedalam mobilnya dan melaju pergi dari sana. Teriakan Mang Didin pun tak ia hiraukan.
Mobilnya membelah lebatnya hujan malam itu, sesekali ia memukul dadanya yang terasa sesak. "Kenapa kalian memberikan luka sedalam ini?"
Beberapa saat mengendarai mobilnya tanpa arah tidak membuat tangis Meili berhenti. Hingga kemudian mobilnya sedikit oleng, yang membuatnya harus menepi.
Tanpa memperdulikan hujan yang masih lebat, ia keluar dari mobilnya. Ternyata ban depan mobilnya yang bocor.
"Aaaaa!!" teriak Meili sembari menendang ban mobilnya. Kenapa nasib sial sekarang menimpah nya, tidak cukupkah Tuhan memberikan luka di hatinya hingga kini ia tertimpa kesialan kembali.
Apalagi kini mobilnya berhenti di area yang cukup sepi.
Ia terduduk di trotoar tepat di samping mobilnya, air matanya kini bercampur hujan yang mulai membasahi nya.
Beberapa saat kemudian tanpa Meili sadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya. "Kenapa di sini, nanti lo sakit?"
Meili mengangkat pandangannya, melihat seseorang yang berdiri di depannya sembari membawa payung.
...----------------...
...Sabar ya Meili ðŸ˜...
__ADS_1