Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Menjenguk


__ADS_3

Setelah mengantarkan Meili ke rumah Mariam, Raka masih tidak habis pikir jika kehidupan gadis seceria itu ternyata menyimpan sejuta luka.


Padahal yang ia tau, Meili tampak gadis yang tidak punya kekurangan apapun. Dari segi materi ataupun yang lainnya.


Raka tiba-tiba merasa bersalah tatkala mengingat ketika dulu ia mengabaikan gadis itu saat dia mencari perhatiannya. Betapa hancurnya hati Meili saat itu, jika dia sudah terluka oleh kedua orang tuanya di tambah oleh sikapnya.


"Hhaahh!" Raka mengusap wajahnya kasar. Ia lalu keluar dari mobilnya kemudian berjalan menuju di mana unit apartemen nya berada.


Sedari tadi ia hanya berdiam di dalam mobil karena ingatannya hanya tertuju pada Meili.


Ketika keluar dari lift, ia melihat Rosi yang berdiri di depan pintu unit nya.


Rosi tersenyum begitu melihat kedatangan Raka. "Raka!" panggilnya.


Raka hanya terdiam seperti biasanya.


"Boleh minta tolong?" tanya Rosi.


Raka sejenak melihat jam tangannya, dan waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.


"Lampu di dapur apartemen gue mati, bisa minta tolong perbaiki?" kata Rosi.


Raka menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


Membenarkan lampu?


Menunggunya hingga lewat tengah malam?


"Bagaimana?" Rosi melihat Raka diam saja. Raut wajah gadis itu sedikit berubah, karena takut lelaki di depannya tidak mau membantunya.


"Tunggu sebentar," jawaban Raka tentu saja membuat Rosi kembali tersenyum.


Raka mengambil ponselnya, dan mengotak atiknya. Ia seperti sedang melakukan panggilan telepon.


"Halo!" Ketika sambungan terhubung. "Tolong kirim seseorang untuk membenarkan lampu di unit 205," kata Raka.


("")


"Baik, Terima kasih." Sambungan itu kemudian terputus.


*


*


Setelah jam kuliahnya selesai, Raka bergegas untuk pergi dari kampusnya.


"Ka!" panggil Ariel yang ternyata ia baru datang. Membuat Raka mengurungkan menghidupkan mesin mobilnya. "Mau kemana? Buru-buru amat."

__ADS_1


"Gue ada perlu," jawab Raka. "Ya udah gue pergi dulu," pamitnya.


Beberapa saat lalu ia menerima kabar dari Nathan jika Meili sedang demam, dan di rumah hanya bersama Mariam.


Raka menghentikan mobilnya ketika melihat pedagang buah di pinggir jalan.


Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah mendapatkan satu kranjang buah dengan berbagai jenis buah.


Saat mobilnya semakin dekat dengan rumah Mariam, ia merasakan dadanya semakin berdegup kencang. Rasanya sungguh membuat ia gugup, padahal ia hanya berniat menjenguk gadis yang kemarin di tolong nya.


Di dalam rumah Mariam, tepatnya di kamar Meili. Gadis itu tidak bisa memejamkan matanya, padahal rasa pusing dan demam sedang menderanya. Obat yang di berikan Jessy tadi sepertinya tidak mengurangi rasa sakitnya.


Apalagi sepeninggal sahabatnya, diam-diam ia kembali menangis. Tentu saja itu semua karena ia teringat tentang keluarganya yang berantakan, dan kini ia tidak tau harus bagaimana lagi.


Kini bahkan ia harus merepotkan orang lain demi mendapatkan tempat tinggal.


Di luar rumah Mariam, Raka sudah bersiap untuk bertamu. Tangannya sedari tadi sudah terulur untuk menekan bel, tapi beberapa saat kemudian ia urungkan. Dan itu terjadi hingga beberapa kali.


"Hhhaa." Raka membuang nafasnya kasar, kemudian ia benar-benar menekan bel rumah Mariam.


Beberapa saat kemudian pintu rumah itu terbuka, Mariam yang melihat kedatangan Raka dengan sekeranjang buah hanya tersenyum simpul. "Loh, pacarnya Meili ya?" katanya seolah lupa dengan Raka.


"Ha?"

__ADS_1


...----------------...


...Raka bisa juga deg-degan 🤭...


__ADS_2