Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Bukan Murni Kecelakaan.


__ADS_3

Pagi harinya, terlihat Raka duduk di ruang rawat Meili. Sekarang waktunya Mama Dena yang bertugas menjaga Meili, meskipun begitu Raka sama sekali tidak mau beranjak dari sana.


Ia memberikan waktu untuk mereka berdua, mungkin ada sesuatu yang ingin di ungkapkan oleh Dena. Dan Raka tidak mau mengganggu nya.


Wajah Raka sendiri tampak terlihat sedikit lebih pucat, mulai kemarin ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Itu semua ia lakukan untuk menunggu Meili membuka matanya, tapi sayangnya gadis itu masih nyenyak dalam ketidak sadarannya.


Tapi menurut Dokter yang melakukan pemeriksaan tadi pagi, keadaan Meili baik-baik saja pasca operasi.


"Bagaimana keadaan Meili?" Jessy yang baru saja sampai bersama suaminya.


Raka hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan lalu menggelengkan kepalanya. "Dia masih belum sadarkan diri." katanya sembari menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


"Ya sudah kalau begitu, gue masuk dulu mau lihat keadaan Meili."


"Hhmm!"


Setelah itu Jessy masuk ke dalam ruang rawat Meili, sedangkan Nathan memilih untuk menemani sahabatnya.


"Lo nggak pulang?" Nathan bertanya.


"Gue gak akan pergi kemana-mana."


"Lo juga butuh istirahat."


Tidak ada sahutan dari Raka.


"Oh ya, tadi gue berpapasan sama senior lo." Nathan mengingat tadi berpapasan dengan Rian di Koridor rumah sakit, ia menyangka jika pemuda itu baru saja menjenguk Meili. Ia tahu jika Meili juga mengenal Rian.


Raka mengerutkan dahi. "Siapa?"


"Yang sering bersama Meili ketika di kampus."


Raka berpikir. "Rian!" tebaknya kemudian.


"Oh iya, Rian."


"Tidak, tadi tidak ada yang kesini sebelum kalian. Hanya Mama Meili yang sedang berada di dalam."


"Mungkin dia sedang menjenguk saudaranya." ujar Nathan kemudian.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Raka, ia menebak jika Rian sebenarnya ingin menjenguk Meili. Hanya saja ia tidak tau kenapa Rian tidak ke ruangan Meili.


Nathan kemudian teringat sesuatu. "Apa lo tau apa penyebab kecelakaan Meili?"


Raka seketika menoleh ke arah Nathan. Ia bahkan tidak berfikir ke arah sana, karena yang ada di pikirannya kemarin hanya ingin melihat Meili selamat.


"Meili bukan murni kecelakaan, ada seseorang yang sengaja membuatnya celaka. Dan lo pasti tau siapa orangnya." tutur Nathan.


Ketika kemarin Meili sedang di operasi, rupanya ia juga ikut mendengarkan penuturan polisi yang menyelidiki kasus kecelakaan Meili.


Ia hanya bisa prihatin dengan nasib yang di alami sahabatnya, cinta buta seorang wanita membuatnya seperti ini.


Tubuh Raka rasanya menegang mendengar apa yang di sampaikan oleh sahabatnya, tangannya tanpa sadar mengepal dengan sendirinya. Ada kilatan amarah dalam matanya. "Siapa?"


Nathan menghembuskan nafasnya pelan. "Rosi dalang dari kecelakaan ini, dan dia meninggal di tempat akibat kecelakaan itu. Bukan hanya Rosi saja, supir Meili juga di nyatakan meninggal di tempat."


Flashback On.


Hingga club hampir tutup, Rosi masih berada di sana. Keadaanya yang mabuk berat membuatnya hanya bisa mengoceh tidak jelas di meja bar.


"Nona kami akan tutup, jika Nona mau kami bisa memesankan taksi untuk mengantar Nona pulang." salah satu pegawai bar menghampiri Rosi.


Rosi mengerjabkan matanya beberapa kali untuk memastikan siapa yang berbicara kepadanya.


Dengan jalan sempoyongan, Rosi keluar dari bar menuju mobilnya terparkir. "Kenapa mobilnya banyak sekali?" gerutunya.


Padahal mobil yang terparkir hanya beberapa saja, tapi karena keadaannya yang mabuk berat membuat pandangannya menjadi sedikit berhalusinasi. "Ah... gue tau." ucapnya sembari tersenyum.


Ia mengambil kunci mobilnya dalam tas, dan segera ia tekan. Hingga membuat mobilnya berbunyi seketika. "Gue pinter kan!"


Rosi kemudian berjalan ke arah mobilnya, tidak lama setelah itu mobilnya mulai melaju keluar dari area parkir club.


Di dalam mobil, ia mengoceh tidak jelas. Tentu saja yang ada di pikirannya sekarang di penuhi oleh pujaan hatinya yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.


Mobil Rosi berkali-kali hampir saja menabrak pembatas jalan, untung saja keadaan jalan masih sangat sepi karena jam masih menunjukkan pukul empat pagi.


Tanpa di sadari, Rosi melajukan mobilnya bukan ke arah apartemennya, melainkan ke arah rumah Meili. Rumah Meili yang ia tahu dari beberapa hari yang lalu, ia yang dengan sengaja mengikuti Meili ketika pulang dari kampus.


Rosi mematikan mesin mobilnya ketika berjarak beberapa meter dari rumah Meili, matanya menatap lekat rumah mewah itu. "Apa gara-gara lo anak orang kaya, makannya Raka lebih memilih lo?" ocehnya.

__ADS_1


Hingga pagi sudah tiba, ternyata Rosi masih berada di sana. Ponselnya yang sedari tadi berdering tidak ia hiraukan.


Terlihat di layar ponselnya beberapa pesan masuk dari Mila yang menanyakan keberadaannya.


Tidak lama, ia melihat mobil Meili keluar dari gerbang. Ia sudah bisa menebak jika di dalamnya adalah Meili, terlihat mobilnya di hias indah yang biasa di gunakan calon pengantin.


Ada senyuman tipis di bibir Rosi. "Kalau Raka nggak bisa buat gue, maka lo juga jangan harap bisa mendapatkannya."


Ia kemudian mulai mengikuti mobil Meili. Dan beberapa saat kemudian ia beruntung bisa berada tepat di mobil Meili.


Rosi menyeringai dengan rencana yang melintas di pikirannya. Pengaruh alkohol membuatnya tidak sadar dengan bahaya apa yang akan ia hadapi. "Lebih baik lo pergi selamanya dari sisi Raka!" Dan benar saja ia langsung menginjak pedal gas mobilnya, hingga membuat mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan Meili sendiri di dalam mobil, ia sama sekali merasa tidak tenang. Mulai kemarin malam, ia merasakan sesuatu yang tidak enak dalam benaknya.


Mobilnya berhenti ketika lampu lalu lintas bewarna merah, dan ia berada di garis paling depan.


Brakkk.


"Papa...!" pekik Meili begitu mobilnya di hantam mobil lain dari belakang, yang tak lain adalah mobil Rosi.


Irfan yang duduk di samping Meili reflek memeluk tubuh putrinya, memastikan agar baik-baik saja. "Tenanglah kamu pasti baik-baik saja, ada Papa." ujar Irfan.


Padahal sekarang mereka dalam posisi terjepit karena tabrakan tadi. Belum sempat mereka bernafas lega, ada truk yang berjalan ke arah mereka.


Karena mereka tadi berada di area lingkar timur, hingga membuat mobil mereka kini berada di tengah jalan. Dan di detik berikutnya, truk itu sendiri tidak sempat untuk mengerem.


"Papa...!" lirih Meili begitu truk itu semakin mendekat ke arahnya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Irfan menoleh, di mana truk itu melaju dari ara samping tepat di mana ia duduk. "Pejamkan matamu, sayang." Irfan semakin memeluk erat tubuh Meili. "Papa sangat menyayangimu." bisik nya.


Brak.


Dan kedua mobil itu terguling beberapa kali setelah di tabrak oleh truk.


Flashback Off.


...----------------...


...😭😭😭😭...

__ADS_1


...Dasar kau ya Rosiii ...


...Seperti biasa gengs dukungannya 🤧...


__ADS_2