Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Malam Yang Dingin


__ADS_3

Meili bisa bernafas lega, makan malam mereka akhirnya selesai. Dan kedua mertuanya sudah kembali lebih dulu.


Ia benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu dengan mertuanya di hotel tempat mereka menginap, dan yang lebih membagongkannya lagi mertuanya teryata juga menginap di sana.


Meili mengusap wajahnya, ia merasa benar-benar lega.


"Ada apa?" Raka memperhatikan istrinya.


Meili mencebikkan bibirnya mendengar pertanyaan suaminya. "Aku malu Kak...!" rengeknya. "Bagaimana kalau mereka tau tentang ini." Ia memegang lehernya yang tertutup rapat oleh syal.


Meili tidak menyadari jika bagian leher hingga dada nya begitu banyak kissmark, ia mengetahui ketika ia sedang mandi.


Karena panik, ia tidak bisa berpikir jernih. Padahal tanda kepemilikan suaminya bisa ia tutupi dengan foundation, hanya saja semua itu tidak terpikirkan olehnya.


Dan Raka harus pergi ke luar mencari syal untuknya, jika tidak ia tidak akan bisa keluar dari kamar hotelnya.


Untung saja udara di sana cukup dingin, hingga penampilannya tidak terlalu aneh.


Tanpa di sadari Meili, Raka tersenyum tipis mendengar ocehan istrinya. Entah kenapa ia justru senang melihat hasil karya nya itu.


*


*


"Beneran nggak mau jalan-jalan?" Raka menawari.


Setelah makan malam, istrinya memilih untuk kembali ke kamar mereka.


Meili menggelengkan kepalanya. "Di kamar aja." Ia masih tidak nyaman jika harus berjalan terlalu lama.


Tentu saja karena di pusat intinya yang masih terasa mengganjal.


Meili memilih untuk menikmati malam di balkon, duduk di sana sembari merasakan semilir angin yang cukup dingin hingga menusuk tulang.


Pemandangan di sana begitu indah, tidak seperti di kota yang di penuhi oleh gedung-gedung pencakar langit.


Hingga hampir larut malam, mereka masih betah berada di balkon.


"Ayo masuk, udaranya mulai sangat dingin." ajak Raka.


Raka beranjak lebih dulu, kemudian di susul oleh istrinya. Memang benar apa yang di katakan suaminya, udara mulai sangat dingin. Bahkan telapak tangan juga wajahnya sudah terasa begitu dingin.


Setelah menutup jendela, Raka kemudian menghampiri istrinya yang hampir mencapai ranjang. Ia memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya pada bahu Meili membuat istrinya seketika membeku.


"Apa tidak dingin?" Raka bertanya, bibirnya sedikit menyentuh kulit leher Meili. Hingga menimbulkan sensasi tidak biasa.


Kenapa perasaanku tidak enak?


Kalau aku jawab tidak, pasti tidak percaya. Kalau aku jawab dingin, apa akan terjadi sesuatu?


"Apa tidak dingin?" Raka mengulangi pertanyaannya karena istrinya hanya diam saja.


"Iya, dingin." Meili merasa gugup.


Raka membalikkan tubuh Meili, ia kemudian duduk di ranjang dan menarik Meili agar duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Kenapa tidak mau melihatku?" Raka melihat istrinya yang memandang arah lain.


Meili perlahan mulai menatap ke arah suaminya. "Karena aku malu," lirih nya. Bahkan hampir tidak terdengar.


Raka tersenyum mendengar itu. "Apa kamu tau? Jika seperti ini kamu mengingatkanku pada seseorang?"


Meili yang tadinya terlihat malu-malu, seketika berubah. Ia merasa sedikit tidak suka suaminya itu menyebut wanita lain, apalagi jika mereka sedang berdua seperti ini.


"Dulu ada gadis yang begitu ceria, bahkan aku beru pertama kali bertemu gadis yang seperti itu." Raka mulai bercerita, dan Meili hanya terdiam mendengarkan.


"Dia selalu ada di sekitarku, awalnya aku tidak memperdulikan nya karena selalu ada di mana-mana dimanapun aku berada." Raka mulai menerawang jauh.


"Hingga suatu saat aku menyadari akan sesuatu, dimana aku mulai mengharapkan kehadirannya saat dia mulai menjauh. Awalnya aku tidak mengerti apa yang sedang aku rasakan, tapi waktu itu aku berharap akan selalu melihatnya kembali."


"Kak..." Meili merasa tidak suka ketika suaminya mengingat masa lalu, apalagi menceritakan padanya. "Aku tidak suka." katanya.


"Hei, dengarkan aku dulu. Ok." Raka menakup wajah istrinya agar mau melihatnya.


"Aku waktu itu memang bodoh, karena menyia-nyiakan nya." Raka kembali bercerita.


"Stop." potong Meili, ia bahkan akan beranjak dari pangkuan Raka. Namun suaminya itu menariknya kembali, hingga membuatnya duduk di pangkuan Raka dengan berhadapan.


Cup.


Raka memberinya kecupan di bibir Meili. "Hingga kemudian aku benar-benar merasakan sakit saat melihatnya sudah tidak lagi berada di sekitarku, apalagi ketika aku melihatnya dengan pria lain. Di saat itulah aku tersadar jika aku mencintainya dan menginginkannya, hingga rasa sesal memenuhi diriku kenapa aku tidak mengungkapkannya sejak dulu."


"Sejak kami masih satu sekolah SMA, gadis ceria yang mampu mengalihkan duniaku." Raka mengakhiri ceritanya dengan menatap lekata bola mata Meili yang sekarang juga menatapnya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tampan.


Meili berpikir sejenak, kemudian ia mencerna baik-baik dan menggabungkan semua memorinya ketika SMA.


Ceria?


Kenapa sepertinya itu...!


"Dan untung saja penyesalan itu tidak terlambat jauh, hingga kini aku memilikinya sebagai pendamping hidupku." Raka berhasil membuat wajah istrinya merona.


Bibir Meili terkatup rapat, rasanya ia tidak bisa berkata-kata. Namun matanya memancarkan sebuah kebahagiaan, di susul genangan air mata yang muncul begitu saja.


"Terima kasih masih memberikan rasa itu untukku, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kembali." Akhir kalimat Raka di susul dengan ia yang menggapai bibir istrinya untuk merasakan bibir yang selalu terasa manis yang kini mulai bergetar.


Di sela-sela kegiatan bibir mereka yang saling berpangutan, Meili tidak bisa menahan air mata yang akhirnya mengalir. Membuat Raka menjeda kegiatan mereka.


"Jangan menangis," Raka mungusap air mata Meili. "Aku tidak ingin melihatnya."


"Tapi ini air mata bahagia," ujar Meili.


...Area 21+...


Hingga kemudian Raka kembali meneruakan kegiatan mereka, yang di sambut dengan rasa harus oleh Meili.


Salah satu tangan Raka melingkar di pinggang ramping Meili, dan satunya berada tepat di tengkuk istrinya.


Kegiatan mereka yang awalnya lembut, kini semakin lama semakin menuntut. Di barengi oleh hawa panas yang mulai menjalar, hawa dingin yang tadi mereka rasakan kini perlahan menghilang.


Bibir Raka mulai turun untuk menyusuri leher Meili, menambah maha karya nya di sana.

__ADS_1


Tangan yang awalnya berada tengkuk kini berubah tempat, tangan itu perlahan mencari tempat ternyaman nya. Yaitu dua bulatan yang menjadi favorit nya sejak tadi siang.


"Ungh...!" Meili melenguh ketika suaminya mulai menghisap lehernya bersamaan tangan kokoh yang meremas salah satu bulatannya.


Matanya terpejam, menikmati sensasi gelayar aneh pada dirinya. Namun ia mulai menyukai itu.


Tangannya tanpa sadar sudah dia kalungkan di leher suaminya, ia merasa dirinya tak akan kuat jika tidak berpegangan.


Raka perlahan mulai mengangkat dress Meili bagian depan ke atas, ia menahan dress itu di atas dua bulatan yang kini sudah terlihat di hadapannya.


Di mana benda kenyal itu masih terbungkus oleh kain bewarna hitam, hingga membuat kontras antara warna kulit istrinya yang putih.


Meili melihat suaminya yang tidak berkedip menatap dada nya, di mana ia tadi siang juga merasakan nikmatnya saat Raka bermain di sana.


Raka semakin menelan ludah, benda favorit nya itu kembang kempis mengikuti nafas Meili yang semakin memburu.


Matanya memerah, dadanya juga bergemuruh ia merasa tubuhnya semakin memanas. Tangannya yang tadi berada di pinggang Meili kini mulai menurunkan cup penutup itu ke bawah.


Membuat dua bulatan itu semakin menantang di tempatnya, tanpa menunggu lama Raka segera mendekatkan wajahnya hingga mulutnya bisa menggapai salah satu puncak bulatan Meili yang telah mencuat.


"Ehm..." Meili kembali memejamkan matanya saat merasakan suaminya menghisap salah satu asetnya, tubuhnya mengejang merasakan debaran jantungnya yang kian cepat berdetak.


Raka seolah kehilangan akal sehatnya, ia sudah tidak lagi memikirkan apapun. Yang ia mau sekarang hanya kembali mengulangi kenikmatan dunia seperti tadi siang.


Semakin lama Meili merasakan hisapan suaminya semakin kuat, hingga menimbulkan sedikit nyeri di bagian ****** nya. Apalagi di tambah remasan yang kian lama juga semakin kuat, namun begitu ia tidak berniat untuk menghentikannya.


Bahkan ia semakin mengerang di buatnya.


Beberapa saat kemudian, ternyata mereka berdua sudah polos tanpa sehelai benang pun. Dan dengan posisi Meili yang sudah terlentang di ranjang, sedangkan Raka sudah berada di atasnya.


Di sela-sela kegiatan Raka yang masih menikmati salah satu bulatan istrinya, perlahan ia juga mulai melebarkan kaki Meili.


Hingga kemudian perlahan ia mulai memasuki pusat inti istrinya, yang tidak sesusah tadi siang.


"Akh," Meili memekik merasakan itu. Meskipun bukan yang pertama kalinya, tetap saja ia masih merasakan sedikit perih.


Tapi itu semua perlahan menghilang, ketika suaminya perlahan menghentak. Hingga rasa perih itu tergantikan oleh rasa nikmat yang tidak bisa di ibaratkan.


Mengulangi kegiatan yang begitu menyenangkan untuk mereka berdua.


Beberapa saat kemudian, Raka mempercepat hentakannya di saat ia merasakan di ambang batas pertahanannya. Begitupun Meili yang pusat inti nya semakin kuat mencengkeram milik Raka di bawah sana, ketika ia merasakan sudah di ambang batasnya.


Dan di detik berikutnya, keduanya saling menggeram ketika pelepasan menghantam keduanya secara bersamaan.


Setelah itu keadaan berubah hening.


...----------------...


...Kaburrrr...


...Ada yang melting? 🤭...


...Ada yang panas atau dingin? 🤭...


...Tapi tetap seperti biasa jangan lupa like, komen sama hadiahnya 😁...

__ADS_1


__ADS_2