Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Pulang


__ADS_3

Kehadiran Reza dan Ariel membuat ruang rawat Meili terdengar riuh. Keduanya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenal Rian, karena mereka sebelumnya juga sudah sering bertemu di kampus beberapa kali.


Dan di sana, hanya Raka yang terlihat datar seperti biasa. Namun kali ini ada yang berbeda, tatapannya begitu dingin mengarah pada Meili dan Rian secara bergantian.


Tapi rasa tidak suka terhadap Rian lebih mendominasi.


"Ya udah, gue pamit pulang dulu." Rian memutuskan untuk pulang setelah setengah hari berada di rumah sakit.


"Kenapa pulang?" Meili seakan tidak rela di tinggal pergi oleh Rian. Ia senang hari ini banyak yang menemaninya, sejenak melupakan kesepian dalam hidupnya.


Rian seperti biasa akan selalu mengusap kepala Meili jika gadis itu terlihat menggemaskan seperti ini. "Nanti sore ada kerjaan, besok gue datang lagi."


Reza dan Ariel saling menyikut mengetahui jika Raka sedang tidak suka dengan keadaan ini.


"Benarkah?" Meili memastikan.


"Hm," sahut Rian. "Ya udah gue pulang." Ia kemudian pergi dari sana setelah juga berpamitan pada ketiga pemuda yang berada di sana.


"Gerah banget!" cetus Reza sembari melirik ke arah Raka.

__ADS_1


"Masak sih?" Mata Meili kemudian melirik ke arah AC yang menyala. "AC nya hidup kak." tunjukknya.


Reza dan Ariel kemudian tertawa, ternyata gadis di depannya itu tidak menyadari yang di maksud mereka adalah Raka.


Meili menatap heran ke arah Reza juga Ariel. "Kalian aneh!" Meili sampai bergidik melihat tawa mereka.


Tapi dua pemuda itu justru semakin tertawa.


Namun tidak dengan Raka, ia justru merasakan hatinya yang seperti di kelilingi oleh kobaran api.


*


*


Keadaan Meili sudah membaik, sehingga Dokter sudah memperbolehkannya pulang.


Pagi tadi perawat sudah melepas infusnya setelah Dokter melakukan pemeriksaan terakhirnya.


"Aku bisa sendiri Kak!" Lihatlah sekarang Meili hanya duduk manis di atas ranjang dan melihat Raka yang sedang membereskan semua keperluannya. Untung saja pagi-pagi sekali tadi ia sudah mengemasi pakaiannya dan hanya tinggal barang-barang lainnya.

__ADS_1


Tadi pagi begitu Raka datang, ia langsung mengambil alih apa yang di kerjakan Meili. "Istirahat saja." Kata itu yang sedari tadi ia ucapkan setiap kali Meili ingin merapikan barangnya. Ia tidak ingin Meili melakukan hal apapun, mengingat gadis itu baru saja sembuh.


Meili menghembuskan nya pelan, tidak tahukah ia sekerang merasa sungkan kepada Raka.


Lelaki itu beberapa hari ini sudah menjaganya dengan baik selama di rumah sakit.


"Oh ya, Jessy dan Nenek nggak pernah datang! Apa mereka sedang pergi?" Meili sama sekali belum berjumpa dengan mereka sejak ia sadarkan di di rumah sakit. Yang ia tahu, Nenek sempat menemaninya ketika ia belum sadar.


Pertanyaan gadis itu sontak menghentikan kegiatan Raka. Ia menghembuskan nafasnya kasar, mungkin lebih baik ia menceritakan kebenarannya saja.


"Apa Nenek dan Jessy sedang pergi?" Meili mengulangi pertanyaannya karena Raka justru seperti sedang melamun.


Raka kemudian menyelesaikan kegiatannya dengan segera, ia lalu menghampiri Meili. "Mereka sebenarnya ada di sini!" Raka menatap serius ke arah Meili, seolah memastikan gadis itu akan baik-baik saja setelah mendengarnya. Ia tahu jika Meili begitu menyayangi mereka.


Wajah Meili tentu saja berbinar mendengar itu. "Benarkah?" katanya. "Di mana? Kenapa mereka tidak masuk?" Ia mencoba melihat ke arah luar lewat jendela kaca. Ia mengira jika mereka berada di luar.


Raka menggelengkan kepala. "Mereka tidak ada di luar, setelah ini kita temui mereka."


...----------------...

__ADS_1


...Maaf gengs habis libur dua hari 🙏, sulit bagi waktu buat kerjaan di dunia nyata sama di sini. ...


__ADS_2