
Acara untuk kendungan Meili yang ke tujuh bulan berjangsung begitu khidmat. Sesi demi sesi telah di lalui, proses adat dari keluarga Raka maupun Meili.
Meskipun Irfan sudah meninggal, namun keluarga Raka masih menghargai dari mana Meili berasal.
Tamu yang datang ternyata di luar dari bayangan Meili, acara itu memang tampak seperti acara pernikahan.
Dimana Kerabat, sahabat, dan para pembisnis juga Dokter hadir di acaranya.
Bahkan mertuanya juga mengundang para sahabatnya, dan mengenalkannya sebagai menantu. Karena dari mereka masih ada yang belum tau jika Anita sudah mempunyai menantu, hingga ada yang terkejut ketika menerima undangan. Bukannya udangan resepsi pernikahan, melainkan undangan tujuh bulanan.
Untuk Meili dan Raka, mereka membuat konsep untuk para sahabatnya. Sahabatnya harus menggunakan pakaian warna pink atau biru, sebagai tanda sahabatnya akan menebak laki-laki atau perempuan bayinya kelak jika lahir.
Karena hingga saat ini Meili maupun Raka juga tidak mengetahui laki-laki atau perempuan, bagi mereka laki-laki atau perempuan sama pentingnya untuk mereka.
*
*
Meili sudah berganti pakaian, ia mengenakan dress berwarna pink. Sedangkan Raka memakai kemeja berwarna biru muda di balut dengan jas berwarna biru dongker.
Mereka berdiri di panggung kecil, untuk menerima ucapan dari para tamu yang hadir.
Dari sekian banyaknya tamu, Meili menangkap keberadaan seseorang dari kejauhan.
__ADS_1
"Ada apa?" Raka menangkap gelagat aneh dari istrinya.
"Aku tadi seperti melihat seseorang."
"Siapa? Bukannya di sini memang banyak orang!"
"Ish... Kakak ini," bibir Meili mencebik di buatnya. "Aku tadi seperti melihat mantan Kakak." Meili yang masih mengedarkan pandangannya.
Alis Raka saling bertautan. "Mantan? Kamu ngaco!" Ia dulu tidak pernah merasa menjalin hubungan dengan seseorang selain bersama dengan istrinya.
"Beneran Kak, aku tadi lihat Tasya!" kata Meili kemudian.
Raka sempat terkejut, namun itu hanya sesaat. Ia mencubit pipi Meili dengan gemas. "Aku tidak pernah mempunyai hubungan dengannya." Raka menegaskan.
"Tapi kan Kakak dulu--"
"Stop sayang!" Raka menginterupsi. "Bisa di pastikan kita akan bertengkar jika terus membahas soal ini."
Meili mengerucutkan bibirnya.
"Apa kamu mau aku cium di sini?" Raka berbisik.
Mata Meili membulat mendengar itu. "Kakak nantang aku!" Katanya tidak mau kalah. "Ayo, siapa takut. Kakak tinggal pilih aku duluan atau Kakak yang mulai?"
__ADS_1
"Hei... kenapa kalian malah bertengkar?" Jessy menghampiri bersama Nathan. Kini giliran mereka untuk memberikan selamat.
"Iya, nanti saja bertengkarnya." Ariel menimpali. Malam ini Ariel terlihat begitu menggemaskan karena memakai jas berwarna pink. Itu berarti ia menebak jika anak sahabatnya kelak adalah perempuan.
Sedangkan Reza berada dalam urutan terakhir.
"Aku tidak bertengkar, tadi aku hanya bilang sama Kak Raka kalau aku lihat --"
Belum sempat Meili meneruskan ucapannya, Raka lebih dulu meciumnya. Rasanya Raka gemas sekali melihat istrinya yang tidak bisa diam, apalagi membahas seseorang yang berpintensi membuat mereka bertengkar.
Para sahabatnya hanya bisa menganga melihat pemandangan itu, sedangkan dari arah lain terdengar suara sorakan. Sepertinya orang-orang mulai menyadari kelakuan sangat tuan rumah.
"Astagah!" Anita yang juga terkejut. "Papa, kenapa anak Papa jadi adegan live dewasa?" Adunya pada Raja yang berdiri di sebelahnya.
"Mereka anak Mama juga." ujar Raja.
"Ah iya lupa."
...----------------...
...Nah loh, haduh kelakuan mereka berdua 🤦♀️...
...Bener nggak ya yang di lihat Meili itu Tasya?...
__ADS_1