Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Memasak Bersama


__ADS_3

Ketika Meili dan Jessy akan sampai di rumah, terlihat beberapa pemuda berjalan ke arah Mereka. Pemuda itu membawa keranjang yang di pikul di punggungnya. Sepertinya mereka akan memetik daun teh.


"Pagi Teh!" Sapa mereka begitu berpapasan dengan Jessy dan Meili.


Jessy mengenali mereka karena sudah beberapa kali berpapasan dengan mereka sebelumnya, dan mereka adalah warga sekitar sini.


"Pagi juga," balas Jessy ramah.


Pemuda itu lalu melihat ke arah Meili, dan kembali menoleh ke arah Jessy. "Ieu sobatna ti kota?" tanya nya.


"Ha?" Jessy tidak mengerti. Meskipun sudah beberapa bulan ia tinggal di sana, namun ia masih belum paham bahasa Sunda. Biasanya ada Bibi yang akan menerjemahkannya, karena Bibi yang biasanya menemaninya jalan pagi.


Meili yang melihat ekspresi sahabatnya hanya bisa menepuk keningnya. Ia lalu mendekat ke arah Jessy. "Kenapa nggak di jawab?" bisik nya.


Jessy kemudian juga mendekat ke arah Meili. "Gue nggak ngerti bahasa orang sini."


"Astaga! Udah beberapa bulan di sini masih belum juga ngerti," Meili mencibir.


"Kalau bahasa Jawa gue ngerti," Jessy membela diri. "Biasanya ada Bibi yang translate."


"Anjeun geulis euy, tapi sigana aya nu bodo teuing." cibir Meili.


Entah apa yang di ucapkan Meili, namun Jessy merasa jika sahabatnya itu sedang mengoloknya. "Koe ngomong opo? OJK mbok kiro aku gak ngerti boso Sunda terus gak ngerti seng mbok maksud. Ketoro teko raimu Meili." kata Jessy panjang lebar.


Meili hanya menggelengkan kepalanya tidak menanggapi, dengan senyum manisnya ia menoleh pada pemuda itu. "Enya, kuring babaturan ti kota." jawab Meili. "Punten, rerencangan teu tiasa basa Sunda." imbuhnya.


"Oh punten lajeng," Pemuda itu merasa tidak enak.


"Henteu masalah A'" jawab Meili.


"Meili, ayo kita masuk." Jessy menginterupsi.


"Sebentar," sahut Meili. Namun tiba-tiba saja Raka datang menghampiri mereka. Lebih tepatnya ke Meili.

__ADS_1


Nathan yang berada di halaman hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap sahabatnya yang mulai posesif terhadap Meili. Sedangkan ia sudah mengenal pemuda itu karena juga beberapa kali pernah bertemu.


*


*


Setelah membersihkan diri, Meili terlihat begitu segar. Meskipun masih terlihat jelas mata pandai nya.


"Kemana semua orang?" Ia yang baru keluar kamar dan tidak melihat siapa-siapa, padahal tadi sudah ada yang bangun.


Akhirnya ia memutuskan pergi ke dapur, di sana ia melihat Bibi yang sudah menyelesaikan beberapa masakannya. "Mau di bantuin Bi!" tawarnya.


Bibi itu sedikit terkejut dengan kehadiran Meili yang tiba-tiba. "Tidak usah Non." tolaknya halus.


"Tidak apa-apa, saya juga biasanya masak." Meili lalu melihat bahan apa saja yang belum di olah. "Tinggal membuat sayur?" tebalnya. Karena ia melihat kol, sawi dan wortel yang masih belum di bersihkan.


"Iya, mau buat sayur sop." jawab Bibi.


"Beneran Non? Nanti ngerepotin!" Bibi merasa sungkan. Bagaimana pun Meili adalah tamu di rumah itu, bahkan sudah seperti cucu bagi Oma dan Nenek.


"Iya nggak apa-apa," Meili memastikan.


"Ya sudah kalau begitu, Bibi tinggal beberes rumah dulu." Bibi akhirnya pergi dari sana.


Meili mulai mengupas dan memotong sayuran. Setelah itu menyiapkan bumbu apa saja yang ia perlukan, ternyata juga ada daging yang di beli bibi. Sekalian ia buat menjadi isian sop, juga sebagai kaldu nya.


Setelah semuanya siap, sekarang ia mengedarkan pandangannya untuk mencari panci yang akan ia gunakan memasak. "Lah ini di mana pancinya?" bingung nya.


Hingga beberapa saat kemudian, matanya menangkap posisi panci yang berada di rak paling atas. "Itu kenepa panci bisa ada di sana?" herannya.


Ia mencoba mengambilnya, namun tangannya tidak bisa menggapai panci itu. "Ini Bibi kalau masak sambil terbang atau gimana?" gerutunya.


Deg.

__ADS_1


Tapi kemudian ia seketika membeku saat seseorang berada di belakangnya, dan ia melihat ada tangan kokoh yang mengambil pancinya.


"Kalau nggak sampai, kenapa nggak minta tolong?"


Meili hafal betul dengan suara itu, suara seseorang yang sejak semalam sudah menjadi kekasihnya.


Meili lalu membalikkan badan, dan ternyata Raka yang sedang mentapnya. Ia lalu mengahlikan pandangannya, melihat sorot mata Raka saja rasanya sudah membuat jantungnya berdebar. "Kenapa seperti di adegan drakor ya?" batin Meili. Tapi tentu saja ia sebenarnya merasa senang.


"Tadi nggak ada orang," jawab Meili lirih tanpa melihat ke arah Raka.


"Mau masak apa?" Raka menaruh panci di atas kompor.


"Mau masak sop," Meili kemudian berdiri di sampingnya.


"Oh!" Tanpa banyak bicara Raka lalu mengambil alih pekerjaan Meili.


"Kak Raka mau apa?" Melihat Raka mulai mengisi pancinya dengan air lalu menyalakan kompornya.


"Mau masak," jawabnya. Tanpa melihat ke arah Meili yang sepertinya keberatan.


"Nggak usah biar--"


"Diamlah," serga Raka.


Hingga akhirnya sip itu matang di tangan Raka.


Meili yang melihat itu semakin mengagumi sosok kekasih nya, selain tampan ternyata juga pandai urusan dapur.


...----------------...


...Cie cie, yang lagi kasmaran 🤭🥰 Dunia milik berdua ye 😁. ...


...Untuk bahasa Sunda nya, punten kalau ada yang salah 🙏, Terima kasih 🥰...

__ADS_1


__ADS_2