
...21+ gengs, seperti biasa. Yang bocil minggir dulu ya, kalau kepingin othor nggak tanggung jawab 🤭...
Di sela-sela aksinya, diam-diam tangan Raka perlahan mulai membuka kacing piama Meili satu persatu.
Setelah berhasil terlepas semua kancing, bibir Raka mulai turun. Menyusuri mulusnya leher Meili, hingga tak jarang ia memberi tanda kepemilikinnya di sana.
"Akh..." Meili memekik merasakan suaminya menghisap kulit lehernya. Terbukti sekarang tanda merah keunguan menghiasi lehernya.
Setelah puas, Raka kembali turun. Hingga kini ia tepat di hadapan dua bulatan favorit nya. Tidak menunggu lama, ia menghisap salah satunya sembari sebelah tangannya yang meremas satunya.
"Ah..." Mata Meili terpejam merasakan aliran daranya mengalir begitu deras. Sensasi yang selalu mendebarkan untuk nya namun ia sukai.
Tangannya mencengkeram kepala Raka, tatkala merasakan hisapan suaminya semakin kuat yang berarti membuatnya semakin melayang.
Raka menghisap puncak kedua bulatan itu secara bergantian, hingga membuat puncak itu semakin mencuat.
Di rasa puas dengan pemanasannya, Raka mulai melucuti semua kain yang menempel pada tubuh istrinya lalu melepas juga apa yang menempel padanya.
Setelah tidak sehelai benang pun menempel, Raka mulai mengatur posisi. Ia memiringkan tubuh Meili, kemudian ia berada di belakangnya.
Sudah tidak ada jarak di antara mereka, menandakan pertempuran akan segera di mulai.
__ADS_1
"Ahh..." Meili begitu merasakan suaminya mulai memasukinya. Rasanya alat tempur suaminya memenuhi seluruh inti tubuhnya.
Tidak hanya Meili, Raka juga merasakan hal yang sama. Pusat tubuh istrinya membuatnya candu, rasa hangat dan cengkeramannya membuat ia selalu hilang kendali.
Perlahan Raka memulai untuk bergerak, memacu dirinya untuk mencari kenikmatan hakiki bersama istrinya. Tangannya menggapai salah satu bulatan untuk dia remas, dan sesekali mempermainkan puncaknya.
Keringat mulai membanjiri kedua tubuh suami istri itu, hawa panas seakan lebih mendominasi hingga pendingin ruangan tak mampu mereka rasakan.
Beberapa saat kemudian, hentakkan itu semakin lama semakin cepat. Rasanya Raka sudah tak mampu lagi untuk mengendalikannya, di saat puncak gelombang gairah sudah datang melanda.
Meili sendiri juga tidak berhenti meracau, yang sedari tadi terus memanggil suaminya. Ia sendiri rasanya sudah menggila, merasakan nikmat yang begitu menggelora.
Di detik berikutnya, Raka menghentak kuat dan dalam begitu ia sudah di ambang batasnya. Membiarkan alat tempurnya menuntaskan apa yang di keluarkan nya.
"Terima kasih sayang, i love you." Raka memberi kecupan di bahu Meili yang sedikit berkeringat.
"I love you too," sahut Meili sembari menggenggam tangan suaminya yang masih berada di perut buncit nya.
*
*
__ADS_1
Pagi menjelang, terlihat Meili yang sedang berjalan kaki di temani oleh suaminya. Kegiatan yang sudah ia lakukan beberapa bulan terakhir.
Berjalan berkeliling komplek, menikmati udara pagi yang menyegarkan.
"Pagi Bu!" sapa seorang wanita yang berumur sekitar empat puluh tahunan. Ia salah satu tetangganya, dan beberapa kali bertemu ketika Meili sedang berjalan-jalan.
"Pagi juga Bu," sahut Meili yang tak kalah ramah.
Seperti biasa mereka akan terlibat obrolan ringan, lebih tepatnya basa basi. Karena Meili tidak bisa berlama-lama mengobrol, tentu saja merasa tidak enak dengan suaminya yang menunggu.
Apalagi Raka sendiri bukan tipe orang yang suka membicarakan suatu hal yang tidak penting, kecuali terhadap orang terdekatnya.
Setelah selesai mengobrol, Meili dan Raka melanjutkan untuk membeli bubur ayam sebagai menu sarapan pagi. Tidak terlalu jauh, sudah terlihat gerobak penjual bubur yang sudah ramai pembeli.
"Kak seperti biasa ya." Meili tersenyum sembari memperlihatkan ke dua jarinya, yang seperti biasa ia akan menghabiskan dua mangkuk bubur ayam.
Karena jika hanya satu, ia beralasan akan lapar lagi jika berjalan sampai rumah.
Raka menggelengkan kepalanya, namun ia tidak pernah protes dengan apa yang di inginkan istrinya.
...----------------...
__ADS_1
Nah tinggal satu part lagi ya flashback nya, di tunggu 😁