Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Kehadiran Raka


__ADS_3

Setelah beberapa hari menjalani UN, hari ini semua murid bisa bernafas lega. Di mana hari ini adalah hari terakhir mereka menjalani UN.


Meskipun begitu mereka tetap saja merasa was-was menanti hasil ujian mereka.


Kini Raka dan teman-temannya mendinginkan otaknya di kantin.


Kantin yang tidak begitu ramai karena hanya kelas tiga yang masuk.


"Kalian mau kuliah di mana?" Ariel membuka suara.


"Gimana kalau kita satu kampus saja?" Reza menimpali.


"Masih belum tau!" sahut Nathan. Karena ia sendiri belum membicarakannya dengan sang istri akan kuliah dimana.


Di saat semuanya sedang membahas langkah apa selanjutnya, Raka justru hanya diam dengan memandangi layar ponselnya.


Ia tidak mengotak atik ponselnya, hanya menghidupkan lalu melihat apa ada notifikasi atau tidak. Hingga layar ponsel itu mati kembali dan dihidupkannya lagi, dan hal itu terus berulang sampai beberapa kali.


"Woi! ngelamun aja." Reza mengagetkan Raka. Ia kemudian melirik ke ponsel temannya itu. "Kalau kangen ya udah samperin aja, nggak usah nunggu di telpon dulu." cibirnya.


Temannya itu setiap hari setelah melaksanakan ujian, hanya seperti itu kelakuannya.


Raka hanya menatap malas pada Reza, ia kemudian memasukkan kembali ponselnya pada saku seragamnya. "Gue duluan." Ia kemudian beranjak dari sana dan menuju parkiran.


"Gitu aja ngambek, makanya seperti gue. Gentle." sombong Ariel. "Coba kalau Jessy belum menikah, pasti gue kejar tuh."


Plak.


Reza langsung memukul kepala Ariel.


"Ouch," pekik Ariel menatap tidak Terima pada Reza.


"Inget woy, dia bini temen kita." Reza mengingatkan yang hanya di tanggapi cengiran oleh Ariel.


Nathan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua temannya itu. "Gue pergi dulu," ia kemudian bersiap pergi.


"Ngambek juga?" tanya Reza.


Nathan menyunggingkan senyumnya. "Nggak, gue cuma kangen istri gue." Ia langsung pergi dari sana setelah mengatakan itu.


"Asem," umpat Reza. "Mentang-mentang udah punya bini," gerutunya.


Tidak lama kepergian Nathan, Lisa dan Tia menghampiri meja kedua cowok itu.


"Loh Nathan mana?" Lisa celingukan murid paling menawan di sekolah itu.

__ADS_1


"Sudah pulang," cetus Ariel. "Ngapain sih nyari yang nggak ada, kan ada gue."


Lisa dan Tia sama-sama memperagakan seseorang yang ingin muntah. "Nggak deh." kedua gadis itu kemudian pergi dari sana.


Meskipun Ariel juga memiliki wajah tampan, namun yang menjadi incaran Lisa dan Tia tetaplah Nathan.


Reza hanya tertawa melihat nasib Ariel yang di tinggalkan Lisa dan Tia.


"Lo jangan ketawa, inget! Lo juga jomblo." cibir Ariel seketika membuat tawa Reza berhenti.


*


*


"Meili istirahat dulu!" ujar Mariam. Sedari tadi ia sudah menyuruh gadis itu, namun selalu saja menundanya.


Meili yang baru saja mengantarkan pesanan pelanggan itu hanya tersenyum. "Nanti saja Nek, kalau Meili sudah capek pasti istirahat." jawabnya tersenyum. Ia menoleh pada pelanggan yang masih terus berdatangan. "Masih banyak pengunjung, kasian kalau nggak langsung di layani." Ia lalu meneruskan pekerjaannya.


Mariam menggelengkan kepalanya, meskipun Meili sifatnya terkesan manja namun ada juga sisi mandirinya.


Hingga beberapa saat Meili mendudukkan dirinya, ia sudah merasakan lelah. Terlihat dari keningnya yang sedikit berkeringat.


Pelanggan pun sudah tak seramai tadi.


Baru saja keringatnya kering, lonceng pintu rumah makan Mariam sudah berbunyi. Menandakan ada yang datang.


Meili langsung saja berdiri untuk melayani.


"Silahkan ..." Meili sedikit terkejut ketika mengetahui pengunjung itu adalah Raka.


Raka sendiri memutuskan untuk membeli makanan sebelum pulang ke apartemen. Karena kulkas di apartemen sedang kosong.


Meili menarik nafas dalam dan menghembuskan nya secara perlahan untuk menetralkan degup jantungnya yang berdetak cepat. Ia kemudian menghampiri Raka setelah merasa lebih tenang. "Silahkan duduk Kak." Meili memilihkan tempat kosong untuk Raka makan.


"Mau pesan apa?" tanya Meili setelah Raka duduk di tempatnya.


Bukan hanya Meili yang terkejut, Raka pun sedikit terkejut melihat keberadaan Meili di sana. Pasalnya ia memang tau jika rumah makan itu milik nenek Jessy, tapi ia tidak menyangka jika Meili juga membantu di sana.


"Kak mau pesan apa?" Meili mengulang pertanyaannya saat melihat Raka hanya diam saja.


"Oh," Raka seketika tersadar. "Nasi campur dan jeruk hangat saja."


Meili mencatat pesanan Raka. "Ok, tunggu sebentar."


Raka melihat punggung gadis yang dulu selalu menempel padanya semakin menjauh. Senyum di wajah cantiknya memang benar-benar sudah berubah.

__ADS_1


Jika dulu mata indahnya selalu berbinar jika menatapnya, dan sekarang semua itu tidak ada lagi.


Setelah Meili sampai di dapur, ia segera menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia memegang dadanya yang semakin berdebar. "Kenapa rasanya masih sama?"


Ia tidak mengerti dengan detak jantungnya sendiri, ia sudah mencoba untuk tidak lagi mengharapkan Raka. Tapi setiap bertemu dengannya, detak jantungnya masih sama seperti dulu.


"Kenapa?" Mariam heran melihat kelakuan Meili.


Meili hanya tersenyum kaku. "Nek nasi campur dan jeruk hangat." Bukannya menjawab, Meili malah menyebutkan pesanan Raka.


Mariam semakin menautkan kedua alisnya, gadis di depannya itu terlihat semakin aneh.


Ia kemudian melirik ke arah pelanggannya yang sedang menikmati makan siang. Dan kehadiran Raka menyita perhatian Mariam, ia lalu menoleh kembali pada Meili. "Bukannya itu teman Nathan."


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.


Sedetik kemudian, Mariam tersenyum. Kini ia mengerti kenapa kelakuan Meili menjadi aneh. "Kamu suka sama dia ya?" godanya.


Meili semakin gelagapan, dan segera menggelengkan kepalanya. "Nggak Nek!" Tapi rona di pipinya kian memerah.


"Halah, Nenek juga pernah muda. Jika cinta bilang aja, nggak usah nunggu dia yang bilang. Udah nggak jaman yang begituan," setelah mengatakan itu Mariam melenggang pergi untuk menyiapkan pesanan milik Raka.


Meili hanya terbengong mendengar ucapan Mariam. Ternyata nenek temanya itu sungguh keren.


Ketika pesanan Raka sudah siap, Meili langsung mengantarkannya. Dan tentu saja ia sekuat tenaga menyimpan rasa tegangnya. "Silahkan kak." Ia meletakkan sepiring nasi campur dan segelas jeruk hangat di meja depan Raka.


"Maka--" Belum sempat Raka mengucapkan terima kasih, sudah ada seseorang yang menghampiri gadis di hadapannya itu.


"Cantik!" panggil seorang laki-laki yang ternyata adalah Rian.


"Kak Rian!" Meili menyapanya dengan senyum di wajah cantiknya.


"Seperti biasa ya," ucapnya yang di angguki Meili. Lalu ia memilih meja yang masih kosong.


Tidak membutuhkan waktu lama pesanan Rian sudah di bawah kan oleh Meili. "Silahkan di makan kak."


Baru saja Meili akan pergi, Rian sudah mencekal tangan gadis itu.


"Temani aku dulu," Rian menatap sekitar, semua pelanggan sudah mendapatkan pesanannya. "Masih belum ada yang datang lagi kan!"


Meili juga mengedarkan pandangannya, hingga akhirnya ia duduk di depan Rian yang terhalang meja.


...----------------...


...Selamat menanti waktu berbuka puasa gengs 😊, dan jangan lupa tinggalkan jejak 🤭. Lope lope buat kalian 🥰...

__ADS_1


__ADS_2