
Setelah menghabiskan waktu berdua seharian, kini waktunya Raka untuk mengantar Meili pulang.
Jalanan sore itu lumayan ramai, dan sudah di pastikan mereka akan menghabiskan waktu lebih lama di mobil.
"Kakak kenapa tidak pulang ke rumah saja?" Meili menanyakan apa yang sedari tadi menjadi rasa penasarannya.
"Karena di rumah sepi, tapi mungkin suatu saat nanti akan pulang."
"Kapan?"
"Jika sudah menikah."
Mendengar jawaban Raka, tanpa sadar membuat wajah Meili memanas. Entah kenapa, yang menjadi bayangannya adalah dirinya dan Raka kelak yang akan menikah.
Raka sendiri pun tersenyum dalam diam, kerena bayangannya tidak jauh berbeda dengan Meili.
*
*
Meili sudah terlihat rapi, ia memakai celana jins dan kaos over size untuk berangkat kuliah. Hari ini ia mendapatkan jadwal kuliah pagi.
Sembari menyelesaikan sarapannya, ternyata ia sedang melakukan VC dengan Raka.
"Kakak masuk siang?" Meili melihat Raka yang masih setia bergulat dengan samsak nya.
__ADS_1
"Hm" sahut Raka. Nafasnya tersengal, hampir satu jam ia berolah raga dan rasa panas sudah memenuhi tubuhnya. Keringat bahkan sudah membasahi tubuhnya.
Melihat keadaan Raka yang seperti itu, membuat Meili susah untuk mengalihkan perhatiannya. Mulutnya terus mengunyah makanan, tapi tidak dengan pikirannya yang melayang jauh.
Karena Raka meletakkan ponselnya sedikit jauh dari posisinya sekarang, membuat Meili bisa melihat tubuh Raka secara keseluruhan.
"Jangan melamun nanti tersedak," Raka mencibir. Ia tahu jika kekasihnya sedari tadi memperhatikannya tanpa berkedip.
Dan, benar apa yang di katakan Raka. Belum beberapa detik, Meili sudah tersedak makanannya.
Ia lalu mengambil minumnya dan menenggaknya hingga tinggal setengah.
"Apaan sih!" Meili menahan malu. "Nggak ada yang ngelamun, ya udah aku berangkat sekarang." Tanpa menunggu jawaban Raka, ia begitu saja mematikan VC nya.
Setelah menyelesaikan sarapannya ia bergegas untuk segera pergi, sebelum itu ia memastikan terlebih dahulu semua pintu dan jendela terkunci dan kompor dalam keadaan mati.
Namun baru saja ia akan mengunci pintu, Meili melupakan sesuatu. "Siti!"
Ia menepuk keningnya ketika belum memberikan sarapan untuk Siti, benar saja ketika ia ke halaman belakang. Kucing jantan itu tampak duduk di depan mangkok makanannya yang masih kosong. "Maaf Siti, lupa!" kata Meili sembari terkikik.
Meow.
Siti seolah mengerti apa yang di ucapkan oleh Meili.
Meili lalu menuang makanan kering berbentuk ikan di mangkok Siti. Tidak menunggu lama Siti langsung memakannya dengan lahap.
__ADS_1
"Ingat ya, kalau jalan dengan Karina jangan sampai kebablasan." Meili memperingatkan. Ia bahkan seperti orang tua yang menasehati anaknya.
Meow.
Sahut Siti di sela-sela makannya.
"Aku nggak mau kalau sampai babunya Karina ngadu kalau Karina hamil, dan inget satu lagi. Kalau nongkrong sama si usep jangan lama-lama, nggak ada yang jaga rumah!"
Setelah menyelesaikan ceramahnya, Meili kemudian pergi dari sana untuk ke kampus.
*
*
Suasana di kampus pagi itu cukup ramai, ternyata hari ini banyak yang mendapatkan jam kuliah pagi.
Ketika ia turun dari mobil, seperti biasa Meili langsung menuju kelas tanpa mau mampir ke mana-mana.
Di kampus Meili tidak mempunyai teman dekat seperti di SMA dulu, semuanya hanya teman biasa seperti pada umumnya.
Saat dia berjalan di koridor, entah kenapa banyak mahasiswa yang melihat ke arahnya. Sebenarnya Meili tidak ambil pusing jika mereka hanya sekedar melihat, namun dari tatapan mereka yang tidak biasa membuat Meili menjadi risih.
...----------------...
...Mulai nih konfliknya, biasa gengs cerita kalau nggak ada konflik itu nggak sedep 🤭. Tapi tenang aja, aku cinta perdamaian jadi bisa di pastikan nggak terlalu berat. 😁...
__ADS_1