
Setelah menghabiskan dua porsi bubur ayam, kini Meili dan Raka saatnya pulang. Dan di saat seperti inilah Meili selalu malas jika ingin pulang.
Bukannya ia tidak mau kembali ke rumah, namun rasanya berat tubuhnya yang membuatnya malas berjalan untuk pulang.
"Kakak... capek aku nya." Meili segera mendaratkan tubuhnya pada kursi taman.
"Mau istirahat dulu." Raka yang ikut duduk di sampingnya.
"Hm... " Meili menganggukkan kepalanya. "Rasanya badanku tambah bulet deh," keluh Meili. "Tambah lama kalau jalan tambah berat."
Raka tersenyum ia kemudian menggapai tangan istrinya untuk ia genggam. "Seandainya saja kalau bisa, biar aku yang menggantikan dan merasakan. Biar kamu tidak kecapean," yang segera mendapat gelengan dari istrinya.
"Nggak, aku nggak apa-apa kok kalau hamil. Hanya saja kalau habis makan seperti ini susah aja jalannya karena berat." Meili sendiri begitu menikmati kehamilannya, apalagi ini adalah momen yang di tunggu-tunggunya sejak lama.
Ia bahkan bersyukur karena tidak mengalami mual dan muntah yang di rasakan oleh ibu hamil lainnya, sehingga makanan apapun bisa ia makan tanpa memilih.
*
*
Raka dan Meili terlihat begitu segar setelah membersihkan diri, namun Raka setelah ini bersiap akan ke rumah sakit.
Apa yang di ucapkan nya semalam benar terjadi, ketika tadi baru sampai di rumah ia mendapatkan panggilan untuk operasi darurat.
"Kak, nanti aku aja ya yang jemput Mama sama Papa." Meili meminta izin sembari berjalan mengantarkan suaminya ke teras rumah. "Aku juga ingin pergi ke mall dengan Jessy, boleh?"
Raka langsung berhenti, ia memandang wajah istrinya yang berharap mendapatkan izin darinya. Ia sadar jika dirinya memang akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit ketimbang dengan istrinya, dan bersyukur istrinya tidak mempermasalahkan itu.
Tapi jika membiarkan istrinya keluar tanpa dirinya ia sendiri rasanya juga tidak tega.
"Bagaimana, boleh?" Meili kembali bertanya.
Raka menghembuskan nafasnya perlahan.
"Nggak boleh ya!" tebak Meili. Melihat perubahan raut wajah suaminya.
"Bukannya tidak boleh, hanya saja aku khawatir." Raka menjelaskan. "Kandungan kamu sudah besar sayang, jadi aku khawatir. Begini saja, kamu boleh pergi nanti setelah aku pulang kerja. Nanti aku temani."
Senyum Meili yang tadinya sempat menghilang kini terbit kembali. "Ok," ia yang menyetujui. "Kalau jemput Mama dan Papa gimana?"
"Hanya jemput ok," Raka mengizinkan.
"Ok," Meili langsung memeluk suaminya.
*
*
Ketika pukul sepuluh pagi Meili bersiap ke bandara, ia sudah tampil cantik dengan dress bewarna peach.
"Punggung ku kok sakit banget ya?" Meili memegangi punggung bawahnya yang terasa nyeri beberapa saat lalu.
Tidak biasanya ia mengalami itu.
"Apa karena kelamaan jalan kaki tadi pagi ya?" pikirnya. "Ya sudah lah nanti mungkin akan hilang sendiri."
Ia lalu mengambil tas, kemudian menuju mobil yang sudah siap di teras. Ia akan di antar oleh supir untuk ke bandara.
Di perjalanan, nyatanya nyeri itu tak kunjung hilang. Malah bisa di bilang semakin bertambah nyeri.
"Nyonya tidak apa-apa?" Sang supir melihat Meili yang seperti tidak nyaman.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pak," sahut Meili.
Hingga beberapa saat kemudian, matanya menangkap keberadaan Ariel. Sahabat suaminya itu terlihat kacau di pinggir jalan.
"Menepi Pak." pinta Meili yang segera di lakukan oleh supir. "Kak!" Ia membuka kaca jendela mobilnya.
Sedangkan Ariel yang melihat Meili tanpa pikir panjang langsung masuk kedalam mobil istri sahabatnya itu.
"Kakak lagi ngapain di pinggir jalan? Nggak aneh-aneh kan?" Meili melihat Ariel tidak seperti biasanya.
Ariel memutar bola matanya malas. "Mobil gue di derek gara-gara salah parkir, dompet sama hape ada di dalam mobil." jelasnya.
Sebenarnya ia sedari tadi mencari taksi namun tidak ada yang lewat.
"Lo sendiri mau kemana? Nanti anterin gue pulang ya!"
"Mau ke bandara jemput Mama sama Papa," jawab Meili. "Kalau begitu nanti habis dari bandara aja aku anterin."
Mobil kemudian melaju menuju bandara.
"Ya kali mertua lo juga nganterin gue, nggak enak lah." Ariel kemudian berpikir. "Gue pinjem uang lo deh!"
"Aku nggak bawa cash." sahut Meili.
"Ck," Ariel berdecak mendengarnya. "Gue pinjem hape lo aja kalau gitu."
Belum sempat Meili memberikannya, Meili lagi-lagi merasa punggungnya kembali sakit. Bahkan kini di sertai dengan perutnya yang terasa mulas.
"Akh..." Meili memegangi perutnya.
"Lo kenapa? Jangan nakutin gue?" Ariel sedikit panik melihat istri sahabatnya kesakitan. Apalagi melihat perut besar Meili, ia sedikit ngeri.
"Ah...!" Ariel merasa cengkeraman Meili begitu kuat. "Lo nggak akan lahiran di mobil kan?" Ia yang sekarang panik dan takut.
"Kata Dokter masih kurang satu minggu lagi," Meili menjawab dengan suara yang terputus putus. Rasa sakit yang ia rasakan sungguh luar biasa.
"Tapi kenapa lo sakitnya sekarang? Ahh..." Ariel menjerit kembali saat merasakan Meili mencengkeramnya lebih kuat.
Di detik berikutnya, ada cairan kekuningan yang mengalir di kaki Meili.
"Air, air. Di kaki lo ada air." Ariel melihatnya.
"Kak rasanya aku mau ngelahirin!" Meili teringat tanda-tanda akan melahirkan yang ia baca di buku kehamilan.
"What!" Ariel terkejut, wajahnya memucat. "Lo mau lahiran di mobil?" Pertanyaan bodoh yang ia tanyakan.
Sedangkan supir Meili tanpa berpikir panjang segera mengarahkan mobilnya ke rumah sakit Raka bekerja, yang kebetulan jarak paling dekat dari mereka sekarang.
"Kakak jangan berisik, perut aku sakit." Meili berganti menjambak rambut Ariel. Ia sekarang bahkan setengah menangis akibat merasakan sakit di perutnya.
"Meili... !" Teriak Ariel, sembari memegangi kepalanya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit, dan segera di beri tindakan oleh Dokter.
Ariel mau tidak mau harus ikut masuk ke ruang IGD bersama Meili, karena sedari tadi tangannya yang di cengkeraman oleh Meili.
Sang supir mencoba menghubungi Raka, namun tidak di angkat. Hingga kemudian hanya mengirimkan pesan, memberi tahu jika istrinya berada di rumah sakit yang sama dan akan melahirkan. Tidak lupa ia juga mengabarkan kepada Anita, Raja juga Dena. Setelah itu ia pergi ke bagian administrasi.
"Pasien pembukaan penuh, segera siapkan ruang persalinan." Dokter perempuan berbicara kepada salah satu perawat yang kemudian pergi dari sana.
Ariel terdiam rasanya ia tak mampu mencerna dengan keadaan sekarang ini, semuanya serba tiba-tiba dan ia tidak tau harus melakukan apa.
__ADS_1
Sedangkan Meili hanya pasrah apa yang akan terjadi setelah ini, ia tidak mampu memikirkan hal lain. Rasa sakit lebih mendominasi sekarang ini, dan ia berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Anda suaminya?" Dokter bertanya pada Ariel. Namun yang di tanya hanya diam. "Anda suaminya?" Dokter mengulangi.
Ariel menggelengkan kepala cepat begitu tersadar. "Bukan!"
"Dia kakak saya," Meili menyela.
Sepertinya Dokter itu adalah Dokter baru, karena tidak mengenali Meili sebagai istri Raka.
Mata Ariel membulat mendengar pernyataan Meili.
*
*
Di dalam ruang bersalin Meili sudah siap untuk melakukan persalinan, ia pun sudah berganti baju pasien.
Meili juga di tangani Dokter kandungan, dan mengetahui jika ia adalah istri Raka.
Dari kabar salah satu perawat di sana, Raka memang sedang di ruang operasi. Tapi semuanya masih belum mengetahui jika Ariel bukan Kakak kandung Meili.
Ariel di sana terlihat begitu tertekan, bagaimana tidak ia harus menemani istri sahabatnya melahirkan. Hal yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan. Ia yang biasanya di cap sebagai Casanova, hari ini tidak tidak terlihat. Ia lebih mirip seseorang yang habis di serang induk ayam.
Meili bersikeras menyuruh Ariel menemani nya karena tidak mau sendirian, ia yang sedari tadi menarik ujung jas Ariel.
"Baik Bu kita akan mulai, ikuti instruksi dari saya ya." Sang Dokter memulai.
Ariel hanya bisa membuang pandangannya ke arah lain, ia sungguh tidak berani. Tangannya di cengkeram kuat oleh Meili, dan ia hanya bisa menahan nya.
"Baik Bu, tarik nafas... keluarkan." Ujar sang Dokter dan di ikuti oleh Meili. Tanpa di sadari mereka rupanya Ariel juga melakukannya, mungkin itu adalah efek dari ketakutannya. "Baik Bu, lakukan sekali lagi ya."
"Tarik nafas lagi Bu yang dalam, dan... mengejan." kata Dokter.
"Eungh..." Meili mencoba mengeluarkan seluruh kekuatannya tapi belum berhasil. "Kakak, kenapa kakak ikut-ikutan." kesalnya pada Ariel. Entah kenapa di saat seperti ini ia rasanya kesal pada sahabat suaminya itu.
"Gue cuma reflek." Ariel me. bela diri.
Dokter yang menangani Meili menggelengkan kepala, melihat dua orang yang di sangkanya saudara itu.
"Baik Bu kita ulangi lagi." Hingga percobaan berikutnya, Meili rupanya belum berhasil, terlihat keningnya sudah di banjiri oleh keringat.
Rasa sakit yang ia rasakan rasanya meremukkan semua tulang-tulangnya secara bersamaan.
Hingga beberapa saat kemudian Meili belum juga berhasil, ia rasanya ingin sekali menangis.
"Jangan menyerah Bu, kita coba lagi." Dokter menyemangati.
Disinilah Meili mencoba mengumpulkan semua kekuatannya.
"Meili lo ngejannya yang kuat, anggap aja lo ngeliat Raka selingkuh." kata Ariel menyemangati, tapi bukannya semangat Meili justru menatapnya tajam.
"Kak Ariel!" teriak Meili. Yang lalu ia tarik tangan Ariel dan menggigitnya.
"Aaa..... !"
Flasback Off.
...----------------...
...Tuh kan partnya panjang ðŸ¤...
__ADS_1