Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Rian Patah Hati


__ADS_3

Di rumah makan pagi menjelang siang itu, terlihat Rian yang datang.


"Hai!" sapanya begitu melihat Meili membawa pesanan pembeli.


"Kak Rian!" Meili sedikit terkejut. "Kakak mau makan di sini? Soalnya aku mau--"


"Gue ingin bicara sebentar!" sela nya.


"Tapi--"


"Hanya sebentar!" Mohon nya.


Meili akhirnya mengalah untuk mendengarkan apa yang akan di katakan Rian sebelum ia berangkat kuliah.


Setelah mengantarkan pesanan pelanggan, Meili sekalian bersiap untuk berangkat.


Kini mereka berdua di bangku yang berada disudut rumah makan.


"Kak Rian mau bicara apa?" Meili melihat Rian yang tidak seperti biasanya. "Oh ya, Kak Rian kemarin juga mau bicara apa?" Meili teringat.


"Oh itu!" Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rian berusaha menata kalimat sebaik mungkin sebelum menyatakan perasaannya, dan hal yang paling membuatnya takut jika gadis di depannya itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


"Apa ada sesuatu?" Meili berpikir jika Rian mempunyai masalah, dan ingin bercerita padanya.

__ADS_1


Rian menganggukkan kepalanya.


"Kakak punya masalah?" Meili dengan raut wajah khawatirnya.


Riang menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, tidak. Bukan begitu, tapi ini tentang perasaan."


Kedua alis Meili seketika saling bertautan karena heran.


"Mungkin ini adalah waktu yang tepat," batin Rian.


Ia benar-benar berusaha tenang sebelum mengatakannya.


"Di awal pertemuan kita, gue melihat lo adalah gadis yang penuh senyuman. Bahkan gue sempat anggap lo adik yang begitu lucu dan manis," Rian terkekeh mengingat hari awal pertemuannya.


Ria melihat mata Meili begitu dalam. "Tapi entah sejak kapan, rasa itu perlahan berubah. Dan sekarang gue baru menyadari rasa sayang gue ke elo bukan sebagai adik, tapi sebagai perempuan yang udah nyuri sebagian hidup gue."


Meili rasanya tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya, sungguh ia tidak pernah berharap Rian yang sudah di anggap nya kakak akan mengatakan hal itu. Ia sendiri sedari dulu sudah menganggapnya kakak yang selalu ada untuknya, dan tidak pernah berubah hingga sekarang.


Suasana rumah makan yang begitu ramai, kini rasanya begitu hening untuk mereka.


"Kak!" Meili sama sekali tidak berani untuk menatap mata Rian yang masih menatapnya lekat, ia hanya bisa menundukkan pandangannya. "Maaf." lirih nya.


Ia tidak tau harus bicara apa, tapi semoga dengan kata maaf Rian bisa mengerti maksudnya. Sejujurnya ia takut jika Rian tidak bisa menerima keputusannya dan akan menghancurkan hubungan mereka yang terjalin selama ini.

__ADS_1


Rian tersenyum kecut mendengar itu, ketakutannya benar-benar terjadi. Gadis itu telah menolak perasaannya.


Sejenak mereka terdiam.


"Tidak apa-apa," sahut Rian kemudian. "Apa sudah ada seseorang yang menempatinya lebih dulu?"


"Ehm, itu --"


"Sayang!" Raka yang menghampiri Meili, ia melihat kekasihnya dan Rian secara bergantian. Sebenarnya sadari tadi ia berada di sana, dan mendengarkan semuanya. Namun ia tidak langsung menghampiri karena ingin tahu bagaimana jawaban dari Meili.


Raka melihat jam pergelangan di tangannya. "Jika tidak berangkat sekarang, nanti akan terlambat," ujarnya.


Padahal sebenarnya ia dan Meili tidak berjanjian akan pergi ke kampus.


Meili dan Rian terdiam dengan pikirannya masing-masing. Tapi Meili terdiam karena Raka memanggilnya dengan sebutan sayang, ia bagaikan seperti mendapat lotre.


"Uhm, baiklah." Meili segera bangkit dari duduknya. Ia kemudian menoleh ke arah Rian yang masih duduk. "Kak Rian aku berangkat dulu!"


"Baiklah!" Rian dengan berat hati melepas kepergian Meili. Ia hanya bisa menetap punggung Meili yang semakin menjauh. "Jadi sudah tidak ada kesempatan lagi?" gumamnya.


...----------------...


...Malam gengs maaf libur beberapa hari. Sempat sakit, tapi pas udah enakkan si kecil minta liburan jadinya nggak sempet buat up. Malam ini aku double up ya 😊...

__ADS_1


__ADS_2