
Sebelum acara pernikahan yang di selenggarakan esok hari, hari ini Meili berniat menemui sang Mama setelah mendapatkan alamat tempat tinggalnya dari Irfan.
Ia memutuskan untuk menemui sendiri, tentu saja di antar oleh Mang Didin. Ia tidak mengatakan kepada Raka tentang hal ini, karena ia tahu jika pertemuan ini pasti akan sangat sulit untuknya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Mang Didin memasuki komplek perumahan elit. Kemudian ia berhenti tepat di rumah mewah yang bernomor sepuluh.
Sebelum turun Meili melihat rumah itu yang tampak begitu sepi, hanya beberapa penjaga yang terlihat di pos depan rumah.
Ia menghembuskan nafasnya beberapa kali, tidak di pungkiri ia merasakan gugup. Pasalnya ia sudah lama tidak bertemu dengan Mamanya, dan sekarang ia bertemu untuk memberitahu acara pernikahannya besok.
"Mang tunggu di sini saja ya!" kata Meili.
"Baik Non."
Meili kemudian berjalan mendekat ke arah pos satpam. "Permisi Pak!" Membuat satpam yang berjaga menghampirinya. "Apa benar ini kediaman Ibu Dena?"
"Benar Non," sahut satpam itu. "Apa Nona ada perlu dengan beliau? Atau sudah membuat janji?" tanya satpam yang tidak mengenali Meili.
Meili menggeleng. "Saya belum membuat janji, tapi boleh bapak sampaikan jika Meili ingin bertemu."
"Baik, kalau begitu tunggu sebentar." Satpam kemudian melakukan sambungan telepon.
Tidak membutuhkan waktu lama, satpam itu kemudian membuka gerbang setelah menutup teleponnya. "Silahkan Non," mempersilahkannya. "Nona masuk saja, nyonya ada di dalam."
"Teri.a kasih," setelah itu Meili berjalan masuk, semakin dekat langkahnya rasanya semakin gugup pula yang ia rasakan.
Tepat ia berada di ambang pintu, Dela rupanya juga berjalan menuju ke arahnya.
Meili sejenak terdiam, melihat sosok Mama nya membuat kenangan indah dan pahit tentang Mamanya melintas secara bersamaan di ingatannya.
__ADS_1
Kenangan pahit saat ia lelah menanti kedatangan Mamanya namun tidak kunjung datang, hingga saat ini.
"Sayang!" Melihat Meili yang terdiam, Dela mendekat begitu saja dan membawa putrinya ke dalam pelukannya. "Mama sangat merindukanmu."
Rindu?
Bernarkah?
Dela melepas pelukannya begitu merasakan putrinya hanya diam saja. "Ayo masuk," ajaknya menggandeng tangan Meili untuk ia tuntun ke ruang keluarga.
Di ruang keluarga, ternyata semua keluarga baru Dela berada di sana. Suami dan termasuk dua anak sambungnya.
Sedangkan Meili sendiri duduk di sofa, dan di sebelahnya ada Dela.
Dari tatapan mereka, hanya tatapan suami baru Mama nya yang begitu hangat menerima kedatangannya.
Setelah perkenalan singkat, Meili memutuskan untuk cepat menyelesaikan tujuannya. Karena semakin lama ia berada di sana, rasanya ia semakin sesak. Apalagi melihat saudara sambungnya yang begitu manja terhadap Mama nya, dan usianya yang hampir sama dengannya.
Meili menggeleng cepat. "Tidak, Terima kasih Om." Bibirnya masih terasa keluh jika harus memanggilnya Papa. "Meili ke sini hanya ingin menyampaikan kalau Meili besok akan menikah." Penuturan Meili membuat semuanya sedikit terkejut, ia lalu menoleh ke arah Dela. "Jika Mama tidak sibuk, Meili harap Mama bisa datang." Setelah mengatakan itu Meili beranjak dari duduknya. "Kalau begitu Meili pulang dulu," ia rasanya tidak bisa menahan diri lagi. Meili berpamitan dengan mencium punggung tangan Dela dan suaminya secara bergantian. "Permisi," ia segera berlalu dari sana.
"Meili... " Dela mencoba memanggil, namun Meili sudah keluar dari rumahnya. Begitu ia keluar dari rumah ternyata Meili sudah tidak terlihat lagi.
Di dalam mobil, Meili baru bisa melepaskan apa yang ia rasa. Terbukti, air matanya yang mengalir begitu saja. Rasa rindu dan kecewa kini memenuhi hatinya.
"Non Meili baik-baik saja?" Mang Didin khawatir dengan keadaan gadis itu.
Meili langsung menghapus air matanya seraya tersenyum. "Iya Mang, Meili tidak apa-apa." Kemudian ia teringat sesuatu. "Mamang jangan cerita apa-apa ya sama Papa!"
Dengan ragu Mang Didin hanya bisa mengiyakan.
__ADS_1
*
*
Di rumah, Meili makan malam bersama Irfan seperti biasanya. Rutinaitas rutin yang terjadi beberapa hari ini.
"Papa kira kamu akan makan malam bersama Mama di sana!" Irfan berucap di sela-sela makan malam mereka.
Meili langsung menggelengkan kepala. "Tidak Pa, Meili masih ingin makan malam bersama Papa." katanya tersenyum.
"Ya, siapa tau saja kamu ingin menghabiskan waktu bersama."
Tapi Meili lagi-lagi hanya menggeleng.
Selesai makan malam, kini mereka menghabiskan waktu untuk menonton acara televisi bersama. Dan acara yang mereka tonton adalah serial kartun animasi dua anak kecil berkepala pelontos, tentu itu adalah pilihan Meili.
"Nggak terasa kamu udah mau ninggalin Papa!" kata Irfan, namun matanya masih terfokus kan oleh TV.
"Huh... " Meili menoleh ke arah Irfan. "Pa, Meili hanya menikah. Bukannya pergi jauh," Meili mengkoreksi. Ia lalu kembali mengarahkan pandangannya pada TV.
Irfan mengulas senyum tipis. "Tapi bagi Papa kamu tetep aja ninggalin Papa, karena bagaimana pun setelah menikah pasti kamu akan ikut dengan suami."
"Meili akan sering mengunjungi Papa."
"Apa kamu tau? Setelah kepergianmu kemarin, Papa baru menyadari jika semua apa yang Papa miliki tidak ada artinya jika kamu tidak ada adi sisi Papa." Irfan menatap putrinya yang kini juga sedang menatapnya. "Dan Papa juga menyadari jika Papa juga sudah begitu dalam menyakitimu."
"Pa!" Meili merangsek untuk memeluk Irfan. "Jangan bicara seperti itu, Meili jadi sedih." katanya. "Kalau nanti Meili menangis, besok pasti akan kelihatan jelek. Meili tidak mau menikah dengan penampilan seperti itu," Meskipun ia mencoba tersenyum. Namun getaran suaranya tidak bisa ia tutupi.
Irfan mengusap kepala Meili. "Besok pasti kamu akan menjadi pengantin yang paling cantik."
__ADS_1
...----------------...
...Ya ampun, rasanya nano nano deh ðŸ˜...