
Hingga malam hari tiba, Meili hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar. Matanya menerawang jauh, mengingat kejadian beberapa hari kebelakang yang membuat harinya bewarna.
Namun, ternyata semuanya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan nya. Harapan tinggallah harapan, seseorang yang ia perjuangkan ternyata menaruh hati dengan sahabatnya.
Meskipun persahabatan mereka sedang renggang, bukan berarti ia tega menganggu hubungan Tasya. Ia tidak sampai hati jika melakukan itu.
"Hhaa!" Meili menghembuskan nafasnya kasar, sungguh rasanya sesak sekali.
Ia akhirnya memutuskan untuk tidur saja, siapa tau jika ia terbangun di pagi hari. Ia dapat melupakan semuanya.
Ketika ia sudah bersiap tidur, matanya tidak sengaja melihat ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Lagi-lagi itu mengingatkannya pada Raka.
Biasanya di jam jam sekarang ia akan mengirimkan pesan pada Raka, meskipun tidak ada balasan dari cowok itu.
Sekarang ia semakin tersadar, kenapa selama ini Raka sama sekali tidak merespon apa yang ia lakukan.
Meili hanya tersenyum kecut membayangkan itu. "Ya ampun! Nasibku udah jomblo merana lagi."
*
*
Dua hari berlalu.
Keadaan Meili sedikit membaik, sekuat tenaga ia mencoba untuk melupakan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.
"Ini rumah kapan ramainya?" Melihat keadaan rumahnya yang terlihat sepi.
Hari ini adalah hari pertama ia libur sekolah, karena sekarang sedang berlangsung UN.
"Ngapain ya?" Ia berjalan ke arah kolam renang. Dan hasilnya tetap sama, sepi.
Hingga ia menemukan ide. "Apa pergi ke rumah Jessy aja! Sekalian ambil mobil."
Kemarin Raka telah mengantarkan mobilnya, namun Meili menyuruhnya untuk mengantarkan ke rumah Nenek Mariam saja.
Tidak membutuhkan waktu lama, Meili sudah sampai di rumah yang halamannya di penuhi oleh tanaman anggrek. "Terima kasih Pak!" Meili memberikan dua lembar uang bewarna biru pada supir taksi online.
"Kembaliannya Non!" Supir taksi yang melihat Meili keluar dari mobil.
"Nggak apa-apa, buat bapak saja." Setelah itu Meili berjalan ke arah rumah Mariam.
Sudah beberapa kali ia mengetuk pintu, namun pintu itu tidak kunjung terbuka. "Kenapa nggak ada yang buka!"
__ADS_1
Meili akhirnya mengotak atik ponselnya, dan no Jessy yang menjadi tujuannya.
Benda pipih itu sudah menempel di telinganya, namun dari seberang sana belum juga mengangkatnya.
Hingga panggilan kelima, barulah panggilan itu tersambung. "Jesssssyyyy!!!" teriak Meili.
*
*
Klek.
Meili menggelengkan kepala melihat penampilan sahabatnya. Matahari sudah hampir meninggi tapi sahabatnya itu terlihat baru saja bangun tidur.
Hingga beberapa saat di rumah Jessy, nyatanya ia seperti sendirian di sana.
Lihatlah, sahabatnya itu sedari tadi fokus menikmati acara televisi yang menampilkan dua bocah dengan kepala pelontos, kalau tidak Jessy akan menonton acara animasi seorang anak kecil perempuan bersama beruang.
Meili akhirnya memutuskan untuk bersantai di taman samping rumah Mariam, menikmati udara yang cukup sejuk karena tanaman hijau yang cukup rindang.
Di saat sendiri seperti ini, lagi-lagi ia teringat dengan Raka. Ia ingin melupakannya, namun kenyatannya tidak semudah itu.
"Meow"
Kucing jantan Mariam yang tiba-tiba menghampiri Meili.
"Meow"
Meili tersenyum mendengar itu, ia merasa sepertinya Siti mengerti dengan apa yang ia ucapkan. "Apa yang harus aku lakuin?" Ia menatap Siti lekat. "Apa semua orang yang jatuh cinta juga harus merasakan sakit?"
"Meow"
"Haahh!" Meili menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, dengan tangan yang masih membelai Siti.
Tanpa sadar Meili terus saja mencurahkan isi hatinya pada Siti, meskipun hanya mendapat tanggapan 'meow'
Setelah puas curhat, Meili melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Siti, sudah dulu ya! Lain waktu di sambung lagi." Meili beranjak dari sana untuk menemui Jessy.
"Meow"
"Jessy, Jalan-jalan yuk! Bosen nih!" Meili melihat sahabatnya itu masih dalam posisi yang sama terakhir ia tinggal tadi.
__ADS_1
Jessy melihat sekilas ke arah Meili, kemudian melanjutkan kembali menonton acara animasi yang ada di televisi. "Gue lagi PW Meili."
"Ck," Meili berdecak mendengar itu. Kemudian ia mengedarkan matanya, ia baru menyadari jika tidak melihat Nenek sedari tadi. "Nenek ada di rumah makan?"
"Iya," sahut Jessy tanpa melihat ke arah Meili.
"Ya sudah, aku mau pergi ke Nenek saja kalau begitu!" Meili lebih memilih ke rumah makan Mariam dari pada menemani Jessy yang hanya bermalas-malasan di rumah.
*
*
Ketika ia sudah di depan rumah makan milik Mariam, ia melihat pembeli yang cukup ramai. Mungkin bertepatan akan memasuki jam makan siang.
"Nenek!" sapa Meili, begitu melihat Mariam yang baru saja mengantarkan makanan untuk pelanggannya.
"Sayang, kamu di sini!" Mariam melihat Meili datang. "Jessy ada di rumah!" beritahu nya.
"Iya, tadi Meili juga dari rumah. Terus pengen ke sini," katanya sambil tersenyum. "Meili bantu ya!"
"Nanti kamu capek!" Mariam sedikit tidak setuju.
"Cuma gini doang nggak akan capek Nek!" ucapnya yakin.
"Ya sudah, ya sudah. Kalau begitu kamu tanya pesanan pelanggan yang baru datang!" Mariam akhirnya mengijinkan Meili membantu.
Tidak perlu di beritahu dahulu, Meili sudah cekatan dengan apa yang ia lakukan. Pembawaannya yang ramah, membuat pelanggan juga merasa senang dengan pelayanan Meili.
Apalagi, senyum cantiknya yang membuat seseorang juga ikut tersenyum.
"Nek, pegawai baru! Cantik bener!" Seorang pemuda yang pesanannya baru saja di antarkan oleh Meriam. Rian.
Ia adalah mahasiswa yang menjadi salah satu pelanggan di rumah makan Mariam.
Mariam mengikuti arah pandang Rian yang sedang memperhatikan Meili sedang melayani pelanggan lain.
"Dia bukan pegawai Nenek, dia cucu Nenek!" ucap Mariam yang tidak terima Meili di sebut sebagai pegawainya.
"Benarkah! Kenapa kemarin-kemarin tidak kelihatan?" tanya Rian.
"Dia masih sekolah, tentu saja sekolah!" Setelah mengatakan itu Mariam meninggalkan Rian yang masih saja terus memandangi Meili.
Tanpa terasa bibir Rian juga tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, tatkala melihat Meili tersenyum ramah kepada pelanggan lainnya.
__ADS_1
...----------------...
...Nah lo, Raka ada saingan tuh ðŸ¤...