
Meili begitu terkejut dengan kedatangan Raka.
"Mau apa?" Raka mengulangi pertanyaannya.
"Nenek Mariam apa ada di luar?" Meili yang masih memegang botol infusnya. Jujur ia begitu khawatir dengan nenek Mariam, ia takut terjadi sesuatu.
Raka sejenak terdiam, namun ia kemudian berjalan ke arah Meili. "Nenek tidak apa-apa, tadi baru saja pulang." Seperti biasa Raka bersikap tenang. Tapi ia sebenarnya takut tidak bisa meyakinkan gadis di depannya itu. Ia lalu mengambil alih botol infus yang berada di tangan Meili kemudian mengembalikannya di tempat semula.
"Benarkah!" Meili sedikit tenang, apa yang di takutkan nyatanya tidak terjadi.
"Hm," sahut Raka. "Sekarang istirahatlah kembali."
Entah sadar atau tidak ia begitu saja menggendong Meili dan membaringkannya di ranjang.
Kesadaran itu kembali ketika pandangan matanya tidak sengaja terkunci oleh Meili yang juga menatapnya, apalagi jarak mereka yang cukup dekat.
Suasana di ruang rawat inap Meili tiba-tiba saja menjadi hening, keduanya seperti merasakan desiran halus dalam darah mereka. Jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Ehm," Raka langsung memberi jarak di antara mereka. "Mau makan?" tawarnya untuk mengalihkan susana canggung.
"Tidak." Pipi Meili sendiri rasanya sungguh memanas.
"Baiklah, kalau begitu tidur saja."
"Tapi aku baru bangun."
Raka rasanya merutuki kebodohannya, jelas-jelas gadis itu baru saja tersadar ketika ia masuk tadi. "Lalu mau apa?"
__ADS_1
Meili kemudian menoleh ke arah nakas, dimana di sana hanya ada makanan dan minuman. "Entahlah," ia sendiri juga tidak tau. Biasanya dia akan memainkan ponselnya, tapi sepertinya ponselnya itu berada di kamar. "Mungkin lebih baik, aku tidur lagi saja." katanya kemudian mulai memejamkan mata.
Ia lebih memilih untuk tidur, karena tidak tau harus membicarakan apa. Sebenarnya ia ingin bertanya tentang Tasya juga, tapi mengingat sikap Tasya terakhir kali membuatnya enggan untuk meneruskannya.
Raka memutuskan untuk duduk di sofa yang tersedia di sana.
Jessy dan Nathan rupanya menempatkan Meili di ruang VIP.
Meili sudah berusaha untuk tidur, tapi ia masih saja belum bisa tidur. Apalagi jika di tunggu oleh lelaki tampan seperti Raka.
Ia mencoba membuka matanya sedikit untuk mengetahui Raka sedang melakukan apa, namun baru saja sebelah matanya yang terbuka justru ia melihat Raka yang sedang duduk sembari melihat ke arahnya. Ia buru-buru kembali menutup lagi matanya.
Sudut bibir Raka sedikit tertarik ke atas membentuk senyuman, tatkala mengetahui kelakuan konyol Meili. "Kalau nggak bisa tidur jangan di paksa."
Meili bergeming. Gadis itu tetap memejamkan matanya.
Klek.
Terlihat wanita paru baya masuk kedalam ruangan Meili. "Meili belum bangun?" tanya nya pada Raka.
Dia adalah Nilam, Mama dari Nathan.
"Sudah Tante, tapi baru saja tidur lagi." jawab Raka.
"Syukur lah kalau begitu," Nilam merasa lega. Ia tidak menyangka selain menantunya nasib Meili rupanya tidak jauh berbeda.
Ia kemudian menaruh tas yang lumayan besar di lemari yang ada di sudut ruangan. Tadi ia sengaja membelikan beberapa perlengkapan pribadi Meili, dan beberapa pakaian.
__ADS_1
"Oh ya, ini ponsel Meili tadi Tante ambil di rumah Nenek. Nanti kalau sudah bangun tolong berikan padannya." Ia memberikannya pada Raka. "Tante tidak bisa lama-lama, titip jaga Meili ya!"
"Iya Tante." sahut Raka.
Setelah kepergian Nilam, ponsel yang masih berada di tangan Raka bergetar.
Terdapat beberapa pesan yang masuk di aplikasi WA nya. Raka bisa membaca pesan apa yang masuk di ponsel Meili meskipun ia tidak membuka nya.
Ternyata itu adalah pesan dari Rian.
💌 Kenapa tidak ada kabar? Lo baik-baik aja kan?
💌 Apa terjadi sesuatu
Raka yang melihat itu rasanya sangat tidak menyukainya, ingin sekali ia membanting ponsel Meili. Tapi ia tersadar, kenapa ia merasa tidak suka?
"Kenapa gue lama-lama jadi seperti ini?" Raka merasa aneh pada dirinya sendiri.
Belum juga kekesalannya hilang, ponsel Meili kembali berdering. Lagi-lagi nama Kak Rian yang muncul di layar ponsel Meili yang ingin melakukan panggilan telepon.
Raka mendengus kasar. Tanpa berpikir panjang, ia kemudian menerima panggilan dari Rian.
"Meili, sedang tidak ada." Setelah mengucapkan itu Raka langsung memutus sambungan telepon, ia bahkan tidak memberikan kesempatan Rian berbicara. "Kenapa dia selalu saja menempel?" gerutunya.
...----------------...
...Aa Raka kerjaannya sewot Melulu ðŸ¤...
__ADS_1