
Setelah kembalinya Dika, kini rumah menjadi sedikit sepi kembali.
Malam itu Meili melihat suaminya yang sedang mempersiapkan keperluannya, seperti baju, beberapa buku dan yang lainnya.
Dua hari lagi Raka akan pergi keluar kota untuk meneruskan pendidikannya, dan mau tidak mau ia harus rela di tinggal oleh suaminya itu.
( Narasumber dari mbah google ya, jadi maaf jika ada yang salah. Maklum yang buat cerita bukan anak kuliahan )
Raka di tempatkan di salah satu rumah sakit yang berjarak dua kota dari Jakarta.
"Kakak nggak mau aku bantuin?" Meili menawarkan diri.
Raka sekilas menoleh ke arah istrinya, sebelum kemudian melanjutkan kembali kegiatannya. "Nggak usah sayang, bentar lagi juga selesai."
Benar saja tidak membutuhkan waktu lama, Raka sudah menyelesaikan kegiatannya. Barang-barangnya sudah tertata rapi dalam koper, setelah itu ia simpan di samping lemari.
"Kakak kenapa sih senyum-senyum? Jadi merinding deh." Meili melihat suaminya berjalan ke arahnya dengan raut wajah mencurigakan.
"Aneh apanya sih?" Raka mengelak, namun ia terus mendekat ke arah istrinya yang sedang duduk di ranjang.
"Tuhkan jadi semakin aneh?" Meili semakin mendur, ketika Raka naik ke atas ranjang kemudian merangkak mendekatinya.
"Aku hanya ingin bermanja dengan istriku."
Meili memutar bola matanya malas, ia tau apa yang di maksud suaminya.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Pasangan suami istri itu menoleh ke arah sumber suara, dan Raka mengurungkan niatnya lalu berjalan menuju pintu. Setelah pintu terbuka, terlihat Mama Anita di sana.
Mereka terlibat obrolan serius, dari wajah mereka berdua bisa di pastikan ada sesuatu.
Raka kemudian masuk kembali ke dalam kamar, ia mengambil jaket istrinya juga miliknya.
"Kakak ada apa?" Meili merasa khawatir.
Setelah mengambil apa yang ia butuhkan, Raka mengampiri Meili. Menatap nya serius. "Kita ke rumah sakit sekarang."
*
*
Semua orang sudah berkumpul di depan ruang ICU, termasuk Dena juga suaminya.
Di antara semua orang Meili lah yang paling terpukul, dirinya tidak menangis. Namun kediamannya menunjukkan betapa ia sangat takut dengan keadaan ini.
Ia berada di pelukan Raka, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang mungkin saja mampu mengurangi rasa takut di hatinya.
Semua orang di sana berharap dan berdoa semoga tidak akan terjadi apa-apa, berharap Irfan akan segera sadarkan diri.
Tidak lama pintu ruang ICU terbuka, menampilkan sosok Dokter laki-laki yang berwajah lesu.
Dokter itu segera di hampiri oleh semua orang, namun Meili yang menjadi paling terdepan. "Bagaimana keadaan Papa saya?"
Padahal ia belum tau keadaannya, tapi mengucapkan kata itu sudah membuat bibirnya bergetar. Matanya yang seketika memanas.
Dokter itu menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Sebagai Dokter, di saat seperti inilah yang terasa sangat menyayat hatinya. "Nona, dan keluarga. Kami sudah berusaha sebisa mungkin tapi--"
"Nggak," Meili memotong ucapan Dokter begitu saja. Ia merasakan sesuatu yang sebentar lagi mungkin saja akan membuat dunianya runtuh.
__ADS_1
Lagi-lagi Dokter itu menghembuskan nafasnya perlahan, ia sendiri merasa gagal. Tapi ia tetap harus menyampaikannya. "Pasien tidak dapat bertahan, tadi pasien sempat mengalami gagal jantung sebelum meninggal."
"Papa nggak mungkin meninggal, Papa akan baik-baik saja." Meili seakan memaksa Dokter itu untuk menghidupkan kembali Irfan.
"Kak, Papa baik-baik saja kan?" Ia mencoba mencari kebenaran pada suaminya, namun Raka hanya bisa diam dengan matanya yang juga memerah. "Kak, kenapa kakak diam saja!"
Meili yang kemudian histeris, tangisnya pecah ketika melihat semua orang hanya diam saja dan menangis. Seolah membenarkan apa yang di sampaikan oleh Dokter.
Raka hanya mampu memeluk erat tubuh istrinya yang sedang memberontak, dengan takdir baru yang membuatnya hancur.
Tidak ada satu kata yang keluar dari mulut Raka, ia tau jika tidak ada perkataan yang mampu meredam istrinya. Begitupun semuanya, mereka terisak dalam tangisnya masing-masing.
*
*
Pagi harinya, di salah satu pemakaman terlihat banyak orang di sana. Mereka memanjatkan do'a untuk seseorang yang baru saja di makamkan. Irfan.
Pakaian yang dominan warna hitam itu pun, menunjukkan jika suasana di sana masih berkabung.
Mulai dari kerabat, tetangga, sahabat, hingga kolega semuanya datang untuk mengantar Irfan ke peristirahatan terakhirnya.
Meili berjongkok di samping pusaran, di dalam pelukan suaminya tangannya tak pernah lepas dari batu nisan sang Papa.
Bayangan masa-masa indah yang ia lalui bersama Irfan terus berputar di ingatannya, hingga ketika kecelakaan itu terjadi. Irfan lah yang memeluknya dengan erat, agar ia baik-baik saja.
Matanya begitu sembab, bagaimana tidak! Ia menangis mulai semalam hingga hampir pagi menjelang. Meskipun sekarang ia tidak terisak, namun air mata itu terus mengalir tanpa ia bendung.
"Aku kehilangan cinta pertamaku."
...----------------...
...Ya Allah... sabar ya Meili ðŸ˜...
__ADS_1