
"Kenapa Mama sama Papa nggak bilang kalau mau datang, nanti Meili jemput di bandara."
Setelah beberapa saat melepas rindu kini mereka bersantai di halaman belakang.
"Nanti Mama takut kamu kecapean kalau ke bandara." Anita sendiri setelah mendapatkan kabar dari menantunya kemarin langsung memesan tiket untuk pulang.
"Mama mu tidak sabar untuk pulang." Raja menimpali.
Meili bahagia mendengarnya, ia tidak menyangka jika mertuanya akan pulang secepat ini tidak lama ia memberitahu tentang kehamilannya.
*
*
Hingga malam hari tiba, Raka baru pulang dari rumah sakit.
"Kakak..." Meili menyambutnya begitu ia keluar dari mobil. Ia bahkan langsung memeluknya, rasanya ia begitu merindukan suaminya karena seharian ia tidak bertemu. "Kangen." katanya kemudian.
Raka tersenyum mendengar itu, ia begitu senang melihat istrinya begitu manja seperti ini. "Sama aku juga kangen."
Mereka yang kemudian berjalan masuk.
"Mama sama Papa di mana?" Raka melihat keadaan rumah sudah dalam keadaan sepi, padahal tadi istrinya mengabati jika orang tuanya datang.
"Kelihatannya Mama sama Papa capek, jadi kemungkinan sudah tidur setelah makan malam." Meili memang tidak melihat mertuanya lagi setelah masuk kamar. "Tadi mereka pas baru datang, belum istirahat."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tadi Mama ajak aku jajan, dan Papa ikut."
"Kamu nggak bilang." Raka mencubit pipi tembem istrinya dengan gemas.
Sedangkan Meili hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Lupa."
"Jajan kemana?"
"Di gang depan, jalan kaki juga. Tadi beli banyak makanan, enak enak makanannya. Ada martabak, ada bakso, ada seblak, cilok, es boba. Pokoknya banyak." Meili menceritakan.
"Kamu habisin semuanya?"
"Kan aku makannya sepiring berdua sama Mama hehehe."
"Terus Papa?"
Percakapan mereka berlanjut hingga masuk ke dalam kamar. Seperti biasa Meili menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
"Kak, udah siap air hangatnya." Meili kuar dari kamar mandi.
Ia menuju lemari untuk menyiapkan pakaian ganti suaminya.
"Gimana keadaan babby hari ini?" Raka memeluk istrinya dari belakang, tangannya mengusap lembut perut Meili yang masih rata.
"Kelihatannya baik, tapi aku kok rasanya aneh ya?" Meili merasa tidak seperti ibu hamil lainnya.
"Aneh kenapa?" Raka menyandarkan dagu nya pada bahu Meili.
__ADS_1
"Katanya ibu hamil itu biasanya muntah-muntah, terus katanya nggak bisa makan makanan yang biasanya di makan. Tapi aku nggak ngalami itu semua."
"Bukannya itu bagus, jadi nutrisi babby sama ibunya akan terpenuhi lebih baik lagi. Karena jika ibu hamil yang susah makan itu, dia akan memaksa untuk makan demi nutrisi bayinya meskipun ia harus menahan mual."
"Seperti itu!"
"Hm..."
"Kak, udah sana mandi nanti dingin airnya." Meili yang sudah mengambil pakaian ganti.
"Apa babby nya tidak merindukan Papa nya hari ini?" Tiba-tiba pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Raka, hingga ada sebuah ide kecil yang sekarang bersarang di otaknya.
"Kakak, babby nya masih kecil." Meili menjawab apa adanya. "Mungkin dia masih belum mengerti soal begituan." Meili merasa jika bayi yang ada di perutnya belum faham tentang itu, mungkin jika bayinya sudah bisa bergerak ia bisa mengetahui lewat pergerakannya. Seperti pada ibu hamil pada umumnya, jika kandungannya sudah besar akan merespon dengan tendangan bila di ajak berkomunikasi. pikirnya.
Raka terkekeh, rupanya otak mereka sekarang tidak sejalan. "Aku bisa membuat babby selalu merindukan Papa nya."
Meili bergidik ngeri, apalagi merasakan nafas suaminya yang menerpa kulit lehernya. "Sayang aku sudah mandi." Kini ia tau apa yang di maksud.
Tapi Raka tidak menyerah begitu saja. "Tidak apa, nanti aku mandikan lagi. Lagi pula aku ingin mengunjungi anakku."
Meili memutar bola matanya malas.
"Kak... !" teriak Meili begitu Raka menggendongnya, yang kemudian membawanya ikut masuk ke dalam kamar mandi.
...----------------...
...Pagi-pagi gengs jadi nggak ada adegan anu, di bayangin sendiri ya ðŸ¤. ...
__ADS_1