
"Minumlah!" Raka memberikan obat yang selalu tersedia di mobilnya. Ia masih tidak menyangka jika gadis secerewet Meili takut dengan jarum suntik.
Meili menoleh ke arah Raka. "Apa itu?" Ia menggigit bibirnya menahan rasa nyeri yang kembali muncul. Bahkan pendingin mobil tidak mampu menghalangi keringatnya yang terus keluar.
"Obat pereda nyeri." Ia juga memberikan sebotol air ketika Meili sudah menerima obatnya.
Meili tidak punya pilihan, rasa nyeri yang di rasakan nya sekarang sungguh menyiksanya.
Hingga beberapa saat berlalu, rasa sakit di perutnya sedikit mereda.
Jalanan yang hampir sore itu sedikit lebih ramai, di dominasi oleh beberapa murid sekolah yang juga memasuki jam pulang sekolah.
"Rumah lo di mana?" Raka memilih mengantarkan Meili pulang ke rumahnya, mengingat gadis itu kekeh tidak mau ke rumah sakit.
Hening.
"Rumah lo di mana?" Raka mengulangi pertanyaannya saat gadis di sampingnya tidak menjawabnya. Namun hasilnya masih sama.
Sesaat ia mengalihkan pandangannya. "Pantas!" gumamnya.
Ternyata Meili sudah terlelap, bahkan ia terlihat begitu nyenyak dengan posisinya yang tidak begitu nyaman.
Sembari mengemudi, Raka memikirkan harus membawa Meili kemana.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawanya saja ke apartemen.
Sesampainya di apartemen, tidak sedikit seseorang yang melihat ke arah Raka yang menggendong Meili. Hanya saja Raka tidan memperdulikan itu, ia terus saja membawa Meili hingga sampai di unit ia tinggal.
Dengan hati-hati ia membaringkan Meili yang sama sekali tidak terusik oleh apapun, sejenak ia memperhatikan raut wajah Meili yang tampak masih pucat.
Setelah itu Raka keluar dari kamar yang di tempati Meili dan melakukan panggilan telepon, entah ia menghubungi siapa.
Tidak lama, terdengar bel apartemen nya yang berbunyi.
Klek.
"Kamu sakit?" Seorang pria paruh baya menelisik Raka mulai dari atas hingga bawah. Ia adalah seorang Dokter sekaligus pamannya.
"Bukan Raka yang sakit, tapi temen." kata Raka yang kemudian berjalan ke arah kamar Meili.
Ketika sampai di dalam kamar, sontak saja Dokter itu seketika menoleh ke arah Raka dengan terkejut. "Temen kamu perempuan?"
"Hm!" jawab Raka singkat.
Pamannya hanya menggelengkan kepala melihat sikap Raka yang masih kaku itu. Tapi ia kemudian segera melakukan pemeriksaan kepada Meili.
"Dia habis makan pedas!" ujar Raka memberitahu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, paman Raka sudah selesai memeriksa Meili. "Dia harus di infus, dia sudah banyak kehilangan cairan." Merasakan tubuh Meili sedikit dingin.
Raka sejenak terdiam, ia ingat jika gadis itu takut akan jarum. Tapi sekarang Meili sedang tertidur pulas, mungkin dia tidak akan merasakannya. "Paman lakukan saja apa yang terbaik."
Paman Raka akhirnya mulai mengeluarkan peralatan untuk memberikan infus pada Meili.
Benar saja, Meili sama sekali tidak terbangun. Padahal jarum infus sudah tertancap di tangannya.
"Ingat, kalian jangan macam-macam. Di sini cuma ada kalian berdua!" Pamannya mengingatkan sebelum pergi. Tentu saja ia tidak mau hal-hal buruk menimpa Raka, mengingat pergaulan sekarang sangat mengkhawatirkan.
"Hm!" sahut Raka.
"Dan jangan lupa berikan obatnya!" ingatkan nya lagi.
"Hm!"
Plak
"Ishh!" Raka mengusap belakang kepalanya ketika mendapat pukulan dari sang paman.
"Kamu harus merubah sikapmu!" Setelah mengucapkan itu, sang paman benar-benar pergi dari sana.
*
*
Kamar?
Ia langsung membuka matanya lebar-lebar menyadari jika saat ini yang di tempati bukan kamarnya, lalu di mana ia sekarang. "Ini di mana?" bingungnya dengan mengedarkan pandangan.
Kamar yang bercat putih dan abu-abu khas seperti kamar milik pria.
Hingga rasa nyeri di tangan kirinya mengalihkan perhatiannya, betapa terkejutnya ternyata itu adalah jarum infus.
"Ish," Meili mendesis. "Takut jarum suntik, kenapa malah di infus. Untung saja pas nggak sadar."
Klek.
Raka datang dengan membawa nampan yang berisi teh hangat dan bubur yang masih sedikit mengepul kan asap. "Sudah bangun?" ia berjalan ke arah Meili dan menaruh nampan itu di atas meja kecil samping ranjang gadis itu berbaring.
Tidak ada jawaban dari Meili, gadis itu hanya diam saja. Bahkan sekarang ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Raka menghembuskan nafasnya pelan, gadis di depannya ini sedikit berubah. Suara cerewet yang biasa ia dengar kini seperti lenyap di telan bumi. "Makan dulu!"
Namun Meili masih saja diam. Ia heran kenapa Raka berbuat seperti ini terhadapnya, memberikan perhatian seolah-olah dia memberikan harapan. "Aku mau pulang saja." putusnya, karena ia merasa tidak nyaman berdekatan dengan seseorang yang pernah ia perjuangkan.
Lagi-lagi Raka hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, sisi lain gadis yang biasanya cerewet itu ternyata juga keras kepala.
__ADS_1
Kalau saja tadi Meili bisa menjawab saat ia bertanya di mana rumahnya, tentu saja sekarang ia tidak akan berada di apartemennya.
Karena saat Meili menolak untuk pergi ke rumah sakit, Raka memberikan obat pereda sakit yang ada di mobilnya. Memang obatnya bekerja dengan baik, bahkan membuat Meili bisa tertidur. Namun karena terlalu pulas, gadis itu sampai tidak terbangun ketika ia bertanya alamat rumahnya. Hingga terpaksa Raka membawanya ke apartemen jarak terdekat saat itu.
"Makanlah!" Setelah mengatakan itu Raka pergi dari sana.
"Dasar tembok," umpat Meili. Melihat sikap Raka yang selalu saja datar. Entah bagaimana bisa ia dulu bisa mengejarnya untuk mendapatkan cintanya.
*
*
Meili melirik makanan yang tadi di bawakan oleh Raka. Meskipun ia masih kesal dengan Raka, namun perutnya lebih mendominasi untuk segera di isi. Ia tidak peduli siapa yang membawakannya, yang penting sekarang ia ingin makan. Setelah tadi isi perutnya terbuang habis, sekarang ia benar-benar merasa lapar.
Suara sendawa Meili terdengar cukup keras, setelah menghabiskan makanannya tanpa sisa.
"Kenyang," ucapnya dengan mengusap perutnya.
Klek.
Terlihat Raka membawa sesuatu di tangannya. Sejenak ia melirik mangkok bubur dan segelas teh hangat yang sudah tandas. "Ini," ia menyodorkan obat yang tadi ia tebus di apotik.
"Apa ini?" tanya Meili. Padahal sudah jelas itu obat untuk dirinya. Tidak mungkin ia tidak meminum obat, sedangkan infus saja harus di berikan untuk menggantikan cairan.
"Tentu saja obat," jawab Raka. "Cepat Minum," ia memberikannya pada Meili.
Setelah itu ia beranjak dari sana, namun ketika ia sampai di pintu, ia teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Meili yang mulai membuka kemasan obatnya. "Jangan lupa kabarin orang tua lo, nanti mereka khawatir." Setelah itu Raka benar-benar keluar.
Meili menatap pintu di mana Raka yang baru saja menutupnya, ia tersenyum kecut mendengarnya. "Orang tua? Yang ada mereka yang udah ngelupain aku." gumamnya.
Mamanya sibuk dengan keluarga barunya, dan papanya yang terlalu cinta dengan pekerjaannya.
Hingga tengah malam, rupanya Raka masih belum tidur. Matanya masih tetap terjaga, ia duduk di ruang tengah dengan sesekali mongotak atik ponselnya.
Hingga kemudian pandangannya tertuju pada pintu kamar yang di tempati oleh Meili. "Apa dia sudah tidur?" gumamnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk melihat keadaan Meili. Ketika ia membuka pintu dengan perlahan, terlihat cahaya temaram di kamar itu.
Raka kemudian mendekat ke arah Meili yang rupanya sudah terlelap. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, melihat keadaan Meili yang mulai membaik.
Di detik berikutnya, Raka tersenyum tipis mengingat tindakannya. Baru kali ini ia membawa seorang gadis ke apartemennya, bahkan temannya pun jarang ia perbolehkan main.
Apalagi gadis itu yang selalu menempel padanya.
Setelah di rasa keadaan Meili membaik, ia memutuskan untuk tidur.
...----------------...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya 😁. Lope lope buat kalian 🥰...