
Jessy hanya bisa menggelengkan kepala setelah mengetahui jika sahabatnya itu sedang terlelap, padahal tadi pagi-pagi sekali Meili menghubunginya untuk cepat-cepat pergi ke apartemen Ariel karena ingin rujakan buah bersama yang lainnya.
Namun sekarang sang pemeran utama sedang terlelap dalam tidurnya.
Satu kantong kresek berisi berbagai macam buah itu teronggok begitu saja di atas meja.
Ariel pun yang tadinya berniat pergi akhirnya harus di batalkan.
Sedangkan Alex, ia sudah anteng dengan menonton televisi yang menampilkan animasi robot kesayangannya.
"Sebenarnya kalian ini mau apa?" Ariel yang merasa hari nya tiba-tiba terasa suram.
"Tadi Meili menelpon katanya mau ada acara di apartemen lo, makanya suruh cepat-cepat datang." Reza menjelaskan. Ia datang setelah Nathan.
"Acara apa?" Ariel mendengus.
"Mana gue tau!"
"Katanya mau rujakan," Jessy menyela. "Makannya gue bawah buah." Ia melirik ke arah kantong kresek yang berisi buah. "Eh... nggak tau nya malah molor."
Jessy sendiri juga sedikit kesal.
Sedangkan Nathan hanya mendengarkan, sembari matanya yang mengawasi keberadaan Alex.
Beberapa saat kemudian, Raka ternyata terbangun.
__ADS_1
Segera saja ia mendapat umpatan dari sahabatnya, yang merasa hari libur mereka telah di kacaukan oleh Meili.
Tapi Raka hanya diam saja tidak menanggapi, seolah semua itu masih dalam batas wajar. Lagi pula ada baiknya juga, di selah kesibukan mereka, akhirnya bisa berkumpul bersama.
"Meili udah sering seperti ini?" Nathan membuka suara.
Raka mengerutkan dahi merasa tidak mengerti.
"Kelakuannya, apa ada yang berbeda dari biasanya?"
Raka mencoba mengingatnya, sedangkan yang lain diam menyimak.
"Tidak, semuanya normal." sahut Raka setelah tidak menemui keanehan pada istrinya.
Nathan menganggukkan kepalanya, sepertinya apa yang sedang ia pikirkan salah.
Yang lain Jessy dan Reza menganga mendengar itu.
Nathan hanya tersenyum simpul mendengarnya.
"Jadi kemarin es oyen itu langsung dari bandung?" Jessy memastikan, dan Ariel mengangguk.
Membuat tawa Jessy seketika meledak, bagaimana tidak es yang ia makan kemarin ternyata dari luar kota, padahal di Jakarta tidak kurang yang menjualnya.
"Sebenarnya ada apa sih? Hubungannya apa?" Reza tidak mengerti.
__ADS_1
"Jatah lo nggak ada yang berkurang satu bulan ini?" Nathan bertanya sembari tersenyum penuh arti.
"Woi... kenapa kalian malah ngomongin jatah!" kesal Ariel.
"Iya, mentang-mentang kalian udah punya bini!" Reza menimpali.
"Lo Dokter, masa lo nggak tau?" Nathan mencibir. Meskipun Raka bukan Dokter kandungan, tapi masalah seperti ini seharusnya ia tau.
Nathan yang sudah mempunyai putra, tentunya ia sedikitnya lebih berpengalaman tentang hal ini. Apalagi dulu istrinya juga begitu ketika hamil.
Dan ia menebak jika Meili telah mengandung saat ini.
Kini Raka tau apa yang di maksudkan oleh Nathan, ia sendiri belum mendapatkan jatah libur ketika tamu agung istrinya itu datang. Dan ia mengingat jika tamu agung itu datang biasanya di pertengahan bulan, kini bahkan hampir awal bulan lagi.
Istrinya sering kecewa ketika saat melakukan tes kehamilan yang hasilnya selalu negatif, sehingga sudah beberapa bulan Meili sudah tidak pernah melakukannya lagi.
Jessy yang mendengarnya seketika matanya membulat. "Meili hamil!" ia yang masih tidak percaya, kalaupun betul. Tentu ia juga ikut merasakan bahagia.
Ia tau bagaimana sahabatnya itu berharap cepat mendapatkan momongan.
"Apa!" sahut Ariel dan Reza bersamaan.
"Loh kalian udah datang!" Meili yang berada di ambang pintu, dengan rambut berantakan. "Kalian kenapa?" Ia merasa aneh karena semuanya sedang menatapnya.
...----------------...
__ADS_1
...Loh, kenapa Ariel dan Reza yang shock ðŸ¤. ...