
Suasana rumah yang biasanya sepi, kini sedikit berbeda. Sang pemilik rumah sudah kembali, tapi sepertinya hanya untuk beberapa hari.
Setelah acara makan malam usai, semua orang menuju kamar mereka masing-masing. Apalagi orang tua Raka yang baru tiba abeberpaa jam yang lalu.
Di kamar Raka hanya berbaring di tempat tidurnya, entahlah pikirannya melayang entah kemana.
Hingga kemudian ia beranjak, seperti biasanya ia akan berolahraga.
*
*
Di lain tempat, Meili hanya bisa menggulingkan badannya ke sana kemari di atas ranjang.
Beberapa hari ini ia merasa kesepian, Jessy yang biasa bermain dengannya akhir-akhir ini sedang sibuk. Entah sibuk apa ia sendiri juga tidak tau.
Getaran dari ponselnya membuat Meili segera melihat siapa yang menghubunginya. Di layar ponselnya ternyata nomer kontak Rian yang muncul, laki-laki yang udah ia anggap sebagai kakak.
"Ya Kak!" sahut Meili begitu sambungan telepon terhubung.
"Kecil, ayo keluar!" ajak Rian dari seberang sana.
"Nggak ah, lagi males keluar."
Terdengar Rian yang menghela nafasnya dalam.
"Kak Rian sama temen kak Rian aja!" kata Meili.
"Mereka semua sedang ada urusan, makanya gue ajak lo."
Sekarang giliran Meili yang mendengus.
"Berarti aku cuma buat serepan!" sungut Meili.
Rian tidak menjawab, namun terdengar tawa yang cukup keras dari seberang sana.
"Bukan gitu!" elak Rian.
"Sudahlah!" Meili sedang tidak ingin berdebat.
Akhirnya mereka berdua terlibat percakapan hingga larut malam.
__ADS_1
Pagi harinya.
Anita, Mama Raka sudah terlihat bersiap pergi setelah acara sarapan bersama.
"Mama mau pergi?" tanya Raka.
"Iya, Mama ingin jalan-jalan. Sudah lama tidak merasakan macet," seloroh nya.
Raka menggelengkan kepalanya melihat tingkah mamanya, baru kali ini ada seseorang yang merindukan macet. "Papa?" Ia tidak melihat Papa nya.
"Katanya tadi mau bertemu temannya, mumpung ada di sini. Ya sudah Mama pergi dulu." Wanita paru baya itu kemudian pergi.
Sore harinya, terlihat Raka dan papa nya sedang bersantai di teras belakang rumah.
"Mama kamu tumben jam segini belum pulang?" Raja, papanya Raka melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul empat sore.
Biasanya istrinya itu tidak pernah pergi terlalu lama jika hanya sendiri.
Baru saja Raka akan menelpon Mamanya, ternyata Raja berdiri begitu saja setelah menerima panggilan telepon di ponselnya. Terlihat raut khawatir dan cemas di sana. "Baik saya akan segera ke sana!"
"Ada apa Pa?"tanya Raka.
"Mama kamu ada di kantor polisi!" jelas Raja. Ia lalu bergegas pergi kekantor polisi di ikuti oleh Raka.
"Pa!" Anita langsung saja memeluk suaminya. Ia tak kuasa menahan air matanya, bahkan tubuhnya bergetar karena masih terkejut dengan kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu.
"Mama tidak apa-apa?" Kini giliran Raka yang memeluk Anita, ia juga tak kalah khawatirnya dengan Raja.
Sedangkan Raja sedang menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada polisi.
"Mama tidak apa-apa, tapi mamang masuk rumah sakit. Tadi dia kena sabetan senjata tajam di lengannya." Anita mengingat kejadian tadi yang hampir mencelakai nya. Dan untung saja supirnya itu dengan sigap melindunginya. "Untung saja tadi juga ada yang menolong." Ceritanya di sela-sela isak tangisnya.
"Yang penting Mama sekarang tidak apa-apa," Raka kembali memeluk mamanya.
Setelah mendapat penjelasan dari polisi, Raka dan orang tuanya segera pulang.
"Lain kali lebih hati-hati lagi Bu!" pesan polisi sebelum mereka pergi.
Anita yang ternyata tadi hampir saja menjadi korban begal di jalan menuju pulang.
*
__ADS_1
*
Hari ini adalah hari di mana semua murid kelas tiga akan wisuda, dan tentu saja ini adalah momen yang paling di tunggu-tunggu.
Raka dan kedua orang tuanya sudah terlihat rapi dengan pakaian warna senada.
Di sekolah, para murid dan orang tua sudah terlihat banyak yang hadir.
Raka membiarkan kedua orang tuanya untuk menyapa orang tua dari para sahabatnya. Mereka memang jarang bertemu jika tidak di momen seperti ini.
Namun yang mencuri pandangannya saat ini adalah di mana salah satu sahabatnya yang di temani istrinya di hari penting seperti ini.
Sungguh pemandangan yang indah bukan?
Entah mengapa dirinya juga berharap akan ada seseorang yang menemaninya hari ini selain kedua orang tuanya. Tanpa sadar ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan seseorang, namun orang itu jelas saja tidak mungkin ada.
Mungkinkah?
Tanpa sadar timbul harapan di hati Raka. Hingga akhirnya lamunannya itu harus buyar ketika Raja memanggil karena acara wisuda akan segera di mulai.
Beberapa saat berlalu, semua peserta wisuda merasakan terharu, tanpa terkecuali. Perjuangannya menempuh pendidikan SMA selama tiga tahun kini terbayar sudah.
Semua murid di nyatakan lulus seratus persen, dan Nathan menjadi lulusan terbaik.
*
*
Setelah acara wisuda itu, sekolah tampak sedikit sepi.
"Jessy di acara prom night kamu ikut?" tanya Meili. Besok adalah hari perpisahan yang akan di selenggarakan di sekolah, dan semua murid boleh ikut menghadiri.
"Entahlah, kalau nggak lagi males ya datang." jawabnya. Ia tidak suka suasana ramai seperti itu sebenarnya. "Lo sendiri datang?"
Meili hanya mengangkat kedua bahunya, ia sendiri juga belum tau datang atau tidak. Semenjak ia dan Raka di pantai terakhir kali, juga tidak ada perubahan.
Sedangkan di bangku Tasya, gadis itu menatap Jessy dengan sendu. Karena setiap melihat kakaknya maka ia akan teringat jika laki-laki yang ia cintai sudah di miliki oleh kakaknya.
Apakah takdir tidak bisa berubah? Agar Nathan bisa menjadi miliknya?
...----------------...
__ADS_1
...Tuh kan, ada yang rindu tapi belum nyadar juga 🤭. Seperti biasa gengs, jangan lupa dukungannya 😁. Oh ya untuk visual nya udah aku taruh di grup ya, bagaimana menurut kalian? ...