
"Ini rumah sahabat Meili, Jessy. Dia istri dari Kak Nathan,mungkin Mama sudah tau." jelas Meili.
"Ah iya, yang habis melahirkan itu kan. Mama belum sempat menjenguknya."
"Iya."
Meili berusaha mengumpulkan keberaniannya. "Ma, ada sesuatu yang ingin Meili bicarakan. Ini tentang Meili dan keluarga Meili."
Anita menoleh ke arah Meili, menunggu gadis itu untuk berbicara.
Hingga kemudian Meili menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutup tutupi. Mulai dari perceraian kedua orang tuanya, hingga ia bisa hidup sendiri seperti ini.
Meili sebenarnya juga takut menceritakan tentang keluarganya, karena ia takut jika Anita tidak akan merestui nya.
Namun sebentar lagi ia dan Raka akan melangkah ke jenjang pernikahan, itu artinya bukan hanya ia dan Raka yang akan bersatu. Namun juga dua keluarga.
"Sayang!" Anita menggenggam erat tangan Meili. Ia sungguh bangga dengan gadis di depannya ini, karena bisa melewati masa-masa sulit dalam hidup nya.
"Apa Mama akan tetap merestui hubungan kami?" Suara Meili bergetar, rasanya tenggorokannya benar-benar tercekat. Bahkan matanya seketika memerah, ia berusaha membendung air matanya yang siap mengalir begitu saja.
Anita menggelengkan kepalanya. "Mama akan tetap merestui hubungan kalian, Mama tau ini juga sulut untuk kamu."
Jawaban Anita, rasanya memecah pertahanan Meili. Air mata gadis itu mengalir begitu derasnya, hingga membuatnya semakin terisak. "Terima kasih Ma!"
Anita membawa Meili dalam pelukannya. "Mungkin kamu memang di takdir kan untuk menjadi putri Mama."
__ADS_1
*
*
Mobil Raka berhenti tidak jauh dari bangunan rumah mewah. Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Meili.
Malam hari Meili dan Raka memutuskan untuk menemui Irfan, mengutarakan tentang apa yang mereka rencanakan.
Sebelumnya, Meili sudah menceritakan tentang kegelisahannya pada Raka. Dan Raka seketika itu juga mau untuk menemui Irfan.
Karena walaupun sekarang atau nanti, Raka juga harus bertemu dengan calon mertuanya.
"Apa Kakak gugup?" Meili bertanya.
Raka melihat ke arah Meili. "Sepertinya kamu yang sedang gugup." katanya sembari tersenyum. Karena sedari tadi Meili terlihat gusar.
"Hm." sahut Raka. "Sudah, jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja."
"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu."
*
*
Kini mereka sudah berada di ruang tamu. Meili dan Raka duduk berdampingan, sedangkan Irfan duduk di hadapan mereka.
__ADS_1
Suasana di ruang tamu sedikit sunyi, karena dari mereka belum ada yang memulai untuk berbicara.
"Maaf, Om. Saya mengganggu waktu Om beristirahat." Raka memulai berbicara.
"Hm," sahut Irfan. Matanya menatap putri dan calon menantu nya itu bergantian.
Sedangkan Meili, ia hanya bisa diam dan membiarkan Raka untuk berbicara.
"Saya ingin menikahi putri Om." Raka tanpa basa basi langsung pada intinya.
Hati Meili rasanya semakin berdebar menunggu jawaban dari papanya.
Irfan tersenyum tipis mendengar pengakuan Raka. "Kamu sudah bekerja?"
"Pa!" Meili menginterupsi. Ia merasa tidak enak dengan Raka karena pertanyaan papa nya.
"Sudah Om." jawab Raka.
"Ha!" Meili yang terkejut. Karena sebelumnya, ia tidak pernah melihat kekasihnya itu bekerja.
"Meskipun gaji saya tidak sebesar seperti Om, tapi saya yakin masih bisa menghidupi dan mencukupi kebutuhan putri Om." jelas Raka dengan yakin. Bahkan di matanya sama sekali tidak ada keraguan.
Irfan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, secepat mungkin bawa orang tua kamu kesini." Irfan kemudian beranjak dari sana. "Saya mau kembali istirahat dulu." Ia lalu meninggalkan Meili dan Raka.
...----------------...
__ADS_1
...Ternyata Bang Raka tancap gas ðŸ¤...