
Raka langsung mengantarkan Meili pulang, setelah Mamanya mengatakan ide nikah dadakannya itu.
Ia tau jika Meili merasa tidak nyaman di suasana itu, yang terpenting kesalahpahaman mereka sudah selesai.
Di dalam mobil hanya ada keheningan, hingga kemudian mereka sampai di rumah Mariam.
Kini mereka berdua duduk di teras depan rumah, tapi mereka hanya diam dengan pikirannya masing-masing.
"Jangan di pikirkan omongan Mama," Raka membuka suara.
"Hm!" sahut Meili.
Sebenarnya ia sedang memikirkan banyak hal. Tapi ia sendiri tidak tau apa yang harus ia lakukan. Dulu ia memang tidak ingin menikah mudah seperti sahabatnya Jessy, karena ingin fokus menggapai cita-citanya.
Namun dengan seiring berjalannya waktu, sepertinya pola pikirnya sedikit berubah. Apalagi setelah ia merasakan bahagianya menjalani hubungan dengan Raka, dan tadi Mama dari kekasihnya itu menyuruhnya untuk cepat menikah. Tanpa sadar ada harapan kecil di sudut hatinya.
Tapi mendengar ucapan kekasihnya barusan, membuat sedikit kecewa di dalam dirinya.
Kecewa?
Benarkah?
*
*
__ADS_1
Hingga hampir tengah malam pun, Meili sulit untuk memejamkan mata. Tentu saja itu semua karena ucapan Mama Anita yang terngiang-ngiang di pikirannya.
Entah kenapa semakin lama ia memikirkan nya semakin pula rasa itu timbul, tapi apakah Raka juga sama sepertinya? Entahlah.
Kemudian Meili teringat akan sesuatu. "Sepertinya aku pernah bertemu Mama nya Kak Raka!" Ia merasa tidak asing dengan wajah Mama Anita. "Tapi di mana?"
Tak lama, mata Meili semakin lama semakin redup. Hingga tanpa sadar membuatnya tertidur dengan sejuta pikiran.
Pagi harinya di kediaman Raja, tampak penghuni rumah tengah menikmati sarapan. Di dominasi suara Anita yang sedari tadi terus menanyakan banyak hal kepada putranya.
"Oh ya, pacar kamu kemarin siapa namanya? Mama lupa tanya." Tentu saja ia lupa bertanya, karena kemarin ia terlalu bahagia akan memiliki cucu yang ternyata hanya salah paham.
"Meili Ma," jawab Raka sembari memakan roti isinya sebagai menu sarapan.
Sedangkan Raja hanya menyimak percakapan antara ibu dan anak itu.
"Hm, hanya beda jurusan."
"Bagus kalau begitu, kalian jadi sering bertemu. Kalau bisa sering-sering ajak kemari, Mama jadi ada teman mainnya."
"Mama biasanya pergi menemui temen Mama."
"Tapi sekarang beda lagi ceritanya."
"Sama aja Ma."
__ADS_1
"Beda, Meili kan calon mantu Mama."
Seketika membuat Raka tersedak, ia lalu segera meraih gelas yang berisi air putih meneguk nya hingga tinggal setengah. "Ma, kami masih kuliah."
"Memang apa masalahnya? Kalian masih bisa kuliah setelah menikah." tutur Anita.
Raka menghembuskan nafasnya pelan.
"Dan--" Anita terdiam begitu suaminya menggenggam tangannya, dan menggelengkan kepalanya. Menandakan agar ia tidak meneruskan ucapannya.
Setelah selesai sarapan, Raka berpamitan untuk pergi ke kampus.
"Hati-hati," pesan Anita saat melihat putranya beranjak dari sana.
Kini di meja makan hanya tinggal Raja dan Anita.
"Ma, biarkan Raka menyelesaikan kuliahnya dulu." Kata Raja.
Anita mengerutkan dahinya. "Jadi Papa tidak suka melihat Raka cepat-cepat menikah?" Ia merasa jika suaminya tidak ada di pihaknya.
"Bukan tidak setuju, hanya saja Papa tidak mau memaksa anak kita jika dia belum mau menikah. Mungkin ia masih ingin fokus dengan pendidikannya," Raja mengutarakan tentang pendapatnya.
"Padahal Mama sudah terlanjur suka sama Meili sejak bibi menelpon," ujar Anita dengan sendu. "Tapi Mama sepertinya pernah bertemu dengan Meili!" Anita mencoba mengingatnya. "Tapi lupa di mana!"
...----------------...
__ADS_1
...Sabar ya, yang pengen lihat Meili nikah. Kan semua butuh persiapan ðŸ¤...