Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Fitting Gaun Pengantin


__ADS_3

Pagi harinya, di kampus Meili sedang mencari seseorang. Seseorang yang sudah ia anggap seperti kakak. Siapa lagi kalau bukan Rian.


Tadi ia sempat melihat bebrapa teman Rian, artinya Rian juga sedang ada kelas pagi.


Ia berniat untuk memberikan undangan pernikahannya.


Setelah mencari di beberapa tempat yang biasa Rian dan teman-temannya berada, rupanya Meili tidak berhasil menemukannya.


Hingga ketika jam kuliah nya usai, Meili langsung berjalan menuju di mana kelas Rian berada.


Ketika sampai di sana, rupanya kelas Rian baru saja selesai. Terlihat Dosen yang baru mengajar keluar dari kelas.


Meili tidak berani untuk lagsung masuk, ia hanya mengintip di ambang pintu.


"Bro, ada yang cariin tuh!" Salah satu teman Rian mengetahui keberadaan Meili. Tentu saja gadis itu bisa di pastikan hanya akan mencari Rian tidak mungkin yang lainnya, karena yang biasa bersama Meili adalah Rian.


Rian seketika menoleh ke arah Meili berada, dan melihat gadis itu yang tersenyum padanya.


Tapi, ternyata kedatangan Meili juga menyita perhatian Rosi dan Mila.


*


*


Kini di taman kampus terlihat Meili dan Rian yang sedang duduk bersama.


"Nanti cowok lo bakalan marah sama gue kalau tau ceweknya duduk bareng cowok lain," Rian berucap.


Meili menggelengkan kepala. "Kakak berlebihan!" kata Meili.


Dan sekarang justru giliran Rian yang tertawa. "Lo di kasih tau malah nggak percaya."


Namun Meili juga ikut tertawa, karena ia hanya menganggap omangan Rian sebuah candaan. Ia lalu mengambil undangan dalam tasnya. "Ini."


Deg.


Rian sempat tertegun melihat apa yang di bawah Meili, ia tau jika itu adalah undangan pernikahan gadis yang sempat singgah di hatinya.


Rian kemudian tersenyum, sembari mengambil undangan itu. "Nggak nyangka kalau bakalan lo yang nikah duluan," ujarnya. Matanya melihat nama Meili dan Raka terukir indah di undangan. Tiba-tiba saja ada rasa yang tak bisa ia mengerti, yang ia tahu dadanya tiba-tiba saja merasa sesak.


"Kakak hadir ya?" pinta Meili. Ia tau ini akan sakit untuk Rian. Tapi jika tidak melihat Rian di acara pernikahannya, rasanya ia akan semakin bersalah karena pernah menolak cintanya. "Dan maaf." imbuhnya.


"Hei... kenapa jadi baperan sih calon pengantin!" Rian mengacak rambut Meili. Ia mencoba menunjukkan senyum yang menandakan ia baik-baik saja.

__ADS_1


Meili kali ini tidak kesal karena Rian mengacak rambutnya, padahal jika dulu ia akan marah. Matanya justru mengembun. "Kakak adalah salah satu orang yang berharga dalam hidup Meili, Kakak yang selalu ada buat Meili ketika aku butuh sandaran." Suaranya terdengar bergetar. "Jadi aku mohon, Kakak juga hadir di acara bahagia ku."


Air matanya mengalir begitu saja, apalagi kenangan bersama Rian begitu saja melintas dalam ingatannya.


"Hei... kenapa nangis?" Rian mengusap air mata Meili. "Gue pasti datang." ucap Rian.


"Terima kasih," ucap Meili di sela-sela tangisnya.


*


*


"Kamu belum ambil cuti kuliah?" tanya Irfan di sela-sela makan malam mereka.


Meili menggelengkan kepalanya, ia segera menelan makanan yang ada di mulutnya. "Belum Pa, aku mau ambil cuti pas di hari pernikahan aja. Jadi biar lamaan dikit liburnya setelah menikah."


"Ehm... kamu tidak ingin memberi tau Mama soal pernikahan mu?" Irfan rasa mantan istrinya itu perlu tau. Karena bagaimana pun Meili adalah putri satu-satunya mereka.


Meili terdiam, ia sebenarnya juga sempat memikirkan hal itu. Namun ia masih ragu untuk bertemu Mama nya. "Nanti saja Pa, kalau udah dekat acara pernikahan."


"Ya sudah terserah kamu saja."


*


*


Pernikahan Meili sudah di depan mata, bahkan acara itu hanya tinggal dua hari saja.


Meili terlihat tergesa begitu ia keluar dari mobil, ia lalu memasukki butik yang cukup terkenal di kota metropolitan itu.


Ia hari ini sudah ada janji dengan Anita, kalau akan fitting gaun pengantin yang akan ia gunakan. Jika saja sore itu jalanan tidak macet tentu ia tidak akan terjebak kemacetan.


"Ma!" sapa Meili begitu ia melihat Anita yang rupanya sudah sampai lebih dulu, terlihat Anita sedang mengobrol dengan perancang yang menangani gaun calon menantunya. "Maaf terlambat," Meili mendekati Anita kemudian memeluknya.


"Tidak apa sayang, Mama juga baru datang." sahut Anita.


"Mama sendirian?"


"Iya, tapi nanti Raka juga akan nyusul." jawab Anita. "Ya sudah kamu coba dulu gaunnya." Yang segera Meili lakukan, di temani oleh sang perancang dan satu pegawainya.


Hari ini adalah hari terakhir Meili fitting gaun pengantin nya, terdiri dari kebaya modern, yang akan ia gunakan waktu akad. Dan gaun satu lagi yang akan ia gunakan ketika acara resepsi.


Beberapa saat kemudian, Meili keluar dari ruang ganti dengan kebaya modern melekat pas pada tubuhnya. Meskipun tidak ada make up pada wajahnya, tapi ia begitu cantik saat itu.

__ADS_1


"Ma--" Suara Meili menguap di udara ketika matanya menangkap sosok tampan yang sekarang sudah berdiri tepat di samping Anita.


Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, bahkan Raka juga sudah mengenakan setelan jas bewarnah senada dengan kebaya Meili, putih.


Mata keduanya saling terkunci, mereka saling mengagumi. Betapa ciptaan Tuhan begitu sempurna dan mereka beruntung akan saling memiliki.


"Hei, kenapa kalian malah bengong?" Anita menginterupsi. Tapi bibirnya sedang mengulum senyum.


Meili seketika mengalihkan pandangannya, pipinya rasanya benar-benar terasa panas. Sedangkan Raka hanya memutar bola matanya panas melihat kelakuan Mama nya.


"Kalian pasangan yang memang sangat serasi," Anita memuji. "Ayo-ayo, sekarang Mama ingin foto kalian." Anita menyuruh Raka untuk mendekat ke arah Meili, lalu ia mengambil ponselnya dan bersiap akan memotret.


Raka berjalan ke arah Meili dengan tatapan yang sama sekali tidak terahlikan. Dan Meili ia hanya bisa menundukkan pandangannya, karena semakin ia melihat Raka, jantungnya akan semakin berdebar.


Anita mengarahkan ponselnya pada mereka, tapi kemudian terheran dengan pose calon pengantin itu. "Hei! ini foto romantis bukan foto KTP." ujarnya. Melihat Raka dan Meili berdiri dengan jarak di antara mereka, dan lihatlah ekspresi mereka yang terlihat kaku. "Raka taruh tanganmu di pinggang Meili, kenapa begitu saja tidak mengerti." Anita memberi intruksi.


Mendengar itu Meili semakin gugup di buatnya, mungkin kalau hanya berdua ia tidak akan segugup ini. Tapi lihatlah, di sini ada ibu mertuanya dan beberapa pegawai butik memperhatikan mereka.


Bukannya mendekat, Meili justru bergeser ke samping semakin membuat jarak di antara mereka.


"Astaga!" Anita menepuk keningnya. "Kenapa kalian seperti seseorang yang baru kenal, huh!"


Mata Meili membulat saat merasakan sebuah pergerakan di pinggangnya, matanya langsung tertuju pada perutnya. Benar saja tangan kokoh itu sudah nyaman di sana.


Di detik berikutnya, dengan cepat jarak mereka terhapus ketika Raka menariknya begitu saja.


"Bagus!" Anita begitu senang melihat pose calon pengantin itu. "Ok kita mulai," ia mengarahkan kamera ponselnya pada mereka.


"Satu"


Lihatlah wajah tegang Meili.


"Dua"


"Cantik," kata Raka tanpa menoleh ke arah Meili.


"Huh!" Meili terkejut, yang membuat ia menoleh ke arah Raka.


"Tiga"


...----------------...


... Untuk hasil fotonya kalian bisa bayangin sendiri-sendiri ya 🤭...

__ADS_1


__ADS_2