Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Obat P


__ADS_3

Ketika matahari mulai meninggi Raka dan Meili memutuskan untuk kembali ke hotel. Meskipun udara tidak terlalu panas, tapi Meili sudah merasa lelah.


Apalagi mulutnya yang sedari tadi tidak berhenti mengunyah makanan, kini ia sudah merasakan kekenyangan.


Sesampainya di hotel Meili segera merebahkan dirinya di ranjang, setelah ia menyingkirkan kelopak bunga mawar yang berada di atas ranjang.


"Tidak mandi dulu?" Tanya Raka melihat istrinya hampir saja memejamkan mata.


"Kakak saja duluan, setelah itu aku." jawab Meili.


Akhirnya Raka lebih dulu membersihkan diri. Sedangkan Meili, ia sudah terlanjur nyaman dengan posisinya sekarang.


Hampir saja ia terlelap, tapi kemudian ia mendengar ponsel suaminya berdering. Jika dari deringnya, itu seperti sebuah pesan.


Meili hanya meliriknya tanpa berniat untuk membukanya, dan ia dapat melihat jika pesan itu dari Reza.


Bel kamar hotelnya tiba-tiba saja berbunyi, setengah malas Meili membukanya. "Iya!" Begitu ia melihat pelayan hotel di depan kamarnya dengan membawa dua gelas dan beberapa kue.


"Ini adalah hadiah dari hotel kami bagi penyewa sweet room," pelayan itu menjelaskan.


"Oh iya silahkan masuk," Meili mempersilahkan pelayan itu untuk menaruh di dalam kamarnya.


Setelah selesai pelayan itu pamit.


Di lorong, pelayan yang tadi mengantarkan makanan untuk Meili bertemu dengan seorang wanita.


"Terima kasih ya!" Wanita yang tidak lain adalah Anita itu memberikan sejumlah uang kepada pelayan.


"Terima kasih nyonya," pelayan itu tampak sumringah.


Anita tersenyum puas, sepertinya rencananya akan berhasil.


Pagi tadi setelah mengetahui putra dan menantunya sudah pergi, Anita juga segera mengajak Raja berlibur. Dengan alasan ia juga sudah lama tidak berlibur.


Tentu saja itu hanya alasannya saja. Ia mengetahui alamat hotel putranya setelah bertanya kepada Dika.


Di perjalanan, Anita meminta untuk mampir ke rumah Dokter keluarga mereka yang masih ada hubungan keluarga.


Anita berkata jika ia akan meminta obat mual, berjaga jaga jika nanti ia mabuk di perjalanan. Alasan yang sebenarnya sangat konyol, karena sejak dulu Anita tidak pernah mabuk meskipun melakukan perjalanan jauh.


Raja hanya menuruti saja ucapan istrinya, dari pada mereka harus berdebat jika ia menanyakan sebenarnya apa yang di lakukan istrinya.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke hotel tempat Raka menginap.


Setelah sampai di hotel, Diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya Anita menyuruh salah satu pelayan untuk membawakan makanan ke kamar putranya. Dan tidak lupa menyerahkan obat yang tadi ia bawa untuk di campur ke dalam makanan dan minuman.


"Maaf sayang, jika tidak begini Mama takut kamu gagal." Anita lalu kembali ke dalam kamarnya yang berjarak dua lantai.


...Adegan 21+ Gengs, Kalau Yang Di Bawah Umur Tetep Baca Bukan Salah Othor Ya....


Di dalam kamar, Meili membiarkan makanan itu di atas nakas. Perutnya yang kenyang sudah tidak membuatnya tergoda.


Klek.


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Raka yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


Mata Meili mengerjab beberapa kali, pemandangan yang sulit untuk ia hindari. Tapi ia cukup malu jika terus memandangnya.


"Aku lupa bawa baju ganti." Raka menyadari jika istrinya terus memandang ke arahnya.


"Oh... iya," Meili tersadar dari lamunannya. Ia langsung berdiri dan berjalan ke kamar mandi, ketika ia akan masuk. Ia lupa memberi tahu Raka. "Kak, tadi ada pesan dari Kak Reza." Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi ia memegang dada nya yang berdebar dengan cepat. Melihat suaminya seperti itu selalu saja membuatnya gugup.


Raka yang tadinya ingin mengambil baju ke lemari ia urungkan, ia berjalan menuju ponselnya berada. Memang benar ada pesan masuk dari Reza, tapi pesan itu sepertinya sebuah video.


Raka mendudukkan dirinya di tepi ranjang, ia membuka pesan video itu.


Awalnya matanya menyipit, hingga beberapa saat kemudian matanya seketika membulat saat mengetahui video yang di kirim oleh Reza adalah video situs biru.


Bahkan bukan hanya satu yang Reza kirim, melainkan ada beberapa.


Anehnya, Raka tidak berniat untuk berhenti menonton. Jakunya terlihat naik turun, ia merasakan tenggorokannya seketika kering.


Raka mengambil salah satu minuman yang ada di atas meja, menenggaknya hingga habis.


Beberapa saat kemudian, Meili sudah selesai mandi. Ia tidak berniat berlama-lama, karena ingin menikmati tidur siang.


Tapi ia tertegun melihat keadaan suaminya yang masih sama.

__ADS_1


"Kak Raka nggak ganti baju?" tanya Meili. Namun ia langsung menuju ke lemari untuk mengambil pakaian ganti, ia sendiri tadi juga lupa membawanya dan sekarang hanya menggunakan bathrobe bewarna putih.


Raka mengalihkan perhatiannya pada Meili, lihatlah paha mulus istrinya begitu menggoda. Tetesan air masih tersisa di sana, membuatnya tampak menggiurkan.


Apalagi adegan demi adegan yang tadi di lihatnya sekarang terus berputar di pikirannya.


Tubuhnya juga merasakan hawa panas, bahkan kini ia juga merasa gelisah.


Tanpa sadar ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja, ia berjalan ke arah istrinya.


Di saat jarak mereka yang cukup dekat, Raka bisa melihat leher putih Meili. Rasanya akan nikmat jika ia mencicipi nya.


"Kak, Raka nggak mau ganti baju sekalian? Biar aku ambilkan." Meili menawari tanpa menoleh ke arah Raka hingga ia tidak tau jika suaminya kini sudah berada di belakangnya.


Karena tidak ada jawaban Meili mencoba menawarinya kembali. "Kak --"


Meili tertegun, saat tiba-tiba merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


Nafas hangat dengan aroma mint menerpa belakang telinganya.


Sedangkan Raka, dirinya semakin di buat tak karuan. Tubuhnya yang memanas bagaikan di siram air segar saat memeluk istrinya.


"Sayang... " Nada suara Raka sudah tidak seperti biasanya. Ia memberikan kecupan pada leher Meili.


Sontak membuat Meili memejamkan matanya, tubuhnya ikut bereaksi. Suaminya sebelumnya tidak pernah seperti ini.


Raka membalik tubuh istrinya, hingga kini mereka saling berhadapan.


Meili bisa melihat mata suaminya sedikit memerah, dan nafasnya tidak beraturan. Entah kenapa sinyal di otaknya langsung berbunyi.


Apakah Kak Raka akan meminta hak nya?


Ia teringat ucapan Jessy waktu itu.


Tenang saja, sakitnya hanya sedikit.


Tapi kenapa malah aku tidak percaya.


Setelah itu, lo bakalan ketagihan.


Kenapa justru aku semakin ragu.


Raka menatap lekat wajah cantik istrinya. "I want you."


Meili hanya bisa terdiam, ia masih terkejut dan mencerna apa yang di ucapkan suaminya.


Raka yang di kuasai gairah, terlihat begitu menggebu. Ia tidak seperti biasanya.


Meili tersadar ketika Raka memaksa untuk menerobos mulutnya di sela-sela ciuman mereka.


Raka mulai menuntun Meili agar berjalan ke arah ranjang. Tentu saja tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Ketika sampai di ranjang Raka mulai mendorong istrinya agar berbaring.


Meili merasakan jika suaminya menyesap bibirnya lebih kuat dari biasanya.


Setelah puas bermain di bibir Meili, Raka kini mulai menyusuri leher putih yang tadi sempat menggodanya.


Jika tadi ia hanya mengecupnya, berbeda dengan sekarang. Ia menyesapnya dengan gemas, seolah itu adalah sesuatu yang begitu manis.


"Akh--" Meili memekik. Tubuhnya kian menegang saat suaminya mulai memberi tanda kepemilikannya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Kini tubuhnya juga mulai memanas akibat sentuhan yang di berikan oleh suaminya.


Tangan Raka tidak tinggal diam begitu saja, salah satu tangannya mulai mencari di mana tempat ternyaman nya untuk singgah.


Hingga salah satu bulatan Meili, adalah tujuannya. Ia meremasnya perlahan, membuat sang empu menggelinjang.


Setelah puas meremas, tangan nakal itu kemudian menelusup begitu saja di sela bathrobe. Ia ingin merasakan secara langsung jika meremas bulatan itu tanpa penghalang.


Ia yakin jika istrinya tidak menggunakan apapun.


Benar saja, ketika Raka menemukannya puncak pada bulatan itu terasa mengeras. Menandakan jika Meili juga seperti dirinya.


Meili semakin tak karuan di buatnya, sesapan di lehernya dan tangan Raka yang sudah bermain di puncak dadanya membuat kesadarannya sudah hilang entah kemana. Yang ia inginkan sekarang hanya permainan yang lebih dari ini.


Di rasa sudah tidak ada lagi tempat untuk ia berikan tanda di leher, Raka semakin turun.


Meili tidak menyadari jika tali bathrobe nya sudah di tarik oleh suaminya.

__ADS_1


"Kak--" Meili rasanya malu sekali saat Raka membuka bathrobe nya, hingga tubuh polosnya kini bisa di lihat oleh suaminya.


Raka semakin menelan ludahnya. Lihatlah, betapa indah tubuh istrinya yang selama ini belum pernah ia lihat seutuhnya.


Ia bahkan menahan tangan Meili saat istrinya itu ingin menutupi aset pribadinya.


Tanpa di komando, Raka langsung menyerang dua bulatan istrinya secara bergantian.


"Unghh..." Meili melenguh ketika merasakan Raka menyesap salah satu bulatan nya.


Ia dapat melihat, betapa rakusnya suaminya itu. Seolah akan ada orang yang akan merebutnya.


Semakin lama, Meili merasakan tubuhnya semakin panas.


Merasa istrinya sudah di bawa kendalinya, Raka mulai melepaskan tangan Meili. Di sela-sela ia menyesap, ia juga meremasnya dengan gemas.


"Kak..." Meili merintih.


Di rasa sudah puas bermain di dua bulatan, Raka mencoba menyentuh pusat inti Meili dengan tangannya. Ia merasa jika istrinya sudah siap jika harus melakukan penyatuan.


Ia menjeda kegiatannya, dan melihat istrinya yang memejamkan mata. Dahinya sudah di penuhi oleh peluh.


Ia mencoba menyadarkan diri dari kabut gairahnya, karena ini adalah yang pertama untuk mereka jadi ia harus melakukannya dengan hati-hati. Terutama untuk istrinya yang akan merasakan sakit.


Raka mulai melepas handuk yang melilit pinggangnya, dan terlihat jika alat tempurnya sudah siap tegak berdiri untuk bertempur.


Meili membuka matanya, ketika merasakan suaminya melebarkan kakinya.


Rasanya sudah tidak bisa ia bandingkan, rasa malu dan ingin bercampur menjadi satu.


Saat tanpa sadar ia melihat ke alat tempur suaminya, Meili seketika mengalihkan pandangannya. Pikirannya semakin tak karuan.


"Mungkin ini akan terasa sakit," kata Raka sebelum ia memulai.


Meili hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan ragu, ia bahkan tidak berani menatap wajah Raka.


Raka mulai mencumbu kembali untuk mengalihkan rasa sakit yang nantinya akan ia buat.


Meili merasakan ada sesuatu yang menyentuh pusat intinya, itu langsung membuatnya menegang kembali.


"Uhm... " Meili mulai menggeram, saat merasakan alat tempur suaminya perlahan mulai memaksa untuk masuk.


Hingga mencoba beberapa kali, Raka rasanya begitu sulit untuk menembus pertahanan istrinya.


Melihat istrinya yang sudah merintih sedari tadi, ada rasa tidak tega dalam hatinya. Tapi jika tidak di teruskan, rasanya ia juga akan tersiksa.


Raka akhirnya memilih untuk mempermainkan kembali dua bulatan Meili, ia yakin jika itu dapat mengalihkan rasa sakit di pusat inti istrinya.


Raka menghisap salah satu bulatan Meili dengan kuat, sebelum ia menghentak di bawah sana.


Raka menghentak kuat saat merasakan pusat Meili tidak menegang, dan itu berhasil.


"Akh!" Meili mencengkeram punggung Raka seketika saat merasakan pusat intinya terasa terkoyak. Ia memejamkan matanya dengan dalam, hingga kemudian ada air mata yang mengalir.


Raka sendiri terdiam, ia membenamkan alat tempurnya di dalam sana. Mencoba menyesuaikan dengan hal baru yang di alami, dan di sana terasa sesuatu mengalir.


"Maaf," bisik Raka.


Meili hanya diam dan menganggukkan kepalanya, tapi air matanya masih belum berhenti mengalir.


Di saat istrinya sudah bisa menguasai diri, dengan perlahan Raka mulai bergerak. Menghentak perlahan, merasakan rasa nikmat yang tidak bisa ia umpamakan.


Rasa yang bisa membuatnya lupa akan segala hal. Namun beberapa saat kemudian Raka kembali di kuasai gairah yang menggebu.


Hentakan nya semakin lama semakin cepat, hingga di dalam kamar itu terdengar menggema suara de sahan mereka.


Di saat Raka sudah tidak mampu lagi untuk menahan dirinya, ia menghentak kuat dan dalam di pusat inti istrinya. Seakan ia tak mau apa yang dia keluarkan keluar dari sana.


Begitu pun apa yang di alami Meili juga sama, ia merasa jika di dalam rahimnya terasa hangat. Nafas keduanya memburu, dan Raka yang hanya bisa ambruk di atas tubuh Meili. "I love you, dan Terima kasih karena aku yang pertama."


...----------------...


Kok panas ya 🤭


Jika ceritanya anu kurang panas mohon di bayangkan sendiri sama pak suami masing-masing ya 🤭


Jika anu nya kurang anu, ya begitulah. Namanya juga anu, yang penting kan ceritanya malam ini spesial sudah panjang kayak anu.


Eh...

__ADS_1


Ya sudah lah, othor mau cari pak suami dulu 🤭


Eits jangan lupa hadiahnya 🥰


__ADS_2