
*
*
"Iya Ma, baiklah-baiklah." Raka mengakhiri panggilan telepon setelah di rasa tidak mampu berdebat dengan Anita. Ia menghembuskan nafasnya kasar, kemudian menoleh kepada Meili yang duduk di sampingnya. Gadis yang sedari tadi mendengarkan obrolannya. "Mama nyuruh bawa kamu pulang." beritahu nya.
Bola mata Meili membesar, seketika ia merasakan gugup.
Terakhir bertemu dengan orang tua Raka dalam situasi yang tidak baik, ia takut jika itu memberi kesan buruk tentang dirinya.
Mereka sekarang berada di parkiran rumah sakit, namun belum sampai Raka menjalankan mobilnya ternyata Anita menghubunginya.
Meili tersenyum kaku. "Iya." jawabnya.
Mereka akhirnya meninggalkan area rumah sakit.
Ketika setengah perjalanan, Meili rasanya semakin gugup. "Kak, Mamanya Kakak suka apa? Biar aku belikan dulu." Meili menoleh ke arah Raka.
"Atau, di bawakan sesuatu gitu?" tanya Meili lagi.
Raka tersenyum, lalu meraih tangan Meili untuk ia genggam. "Apa kamu belum siap ketemu Mama lagi? Kalau masih belum, lain waktu masih bisa." Terlihat jelas di wajah cantik Meili jika gadis itu merasakan kegugupan yang luar biasa.
"Apa terlihat jelas kalau aku lagi gugup?" Meili justru bertanya.
"Sedikit," Raka memperlihatkan ibu jari dan telunjuknya yang hampir menempel.
"Hhaa!!" Meili menghembuskan nafasnya kasar. "Aku takut jika Mama Kakak berpikir buruk tentang aku gara-gara kejadian di apartemen."
"Tenanglah, Mama bukan orang seperti itu."
"Tapi aku takutnya seperti itu."
__ADS_1
"Jadi sekarang gimana? Mau ketemu atau tidak?"
"Ya ketemu lah, tadi kan udah bilang iya. Nggak enak kalau tiba-tiba ngebatalin gitu aja."
Hingga akhirnya melanjutkan perjalanan ke tujuan awal.
*
*
"Apa bener nggak apa-apa aku nggak beliin sesuatu?" Meili masih tetap ragu. Padahal mereka sekarang sudah tiba di rumah Raja.
"Iya," Raka meyakinkan.
Mereka kemudian turun dari mobil. Mereka sampai saat hari sudah gelap.
"Akhirnya kalian sampai." Anita menyambut kedatangan Raka dan Meili begitu memasuki rumah. Ia lalu memeluk Meili, bahkan ia tidak terlihat canggung. "Ayo masuk, kebetulan Mama baru selesai masak buat makan malam." ajaknya setelah pelukannya berakhir.
"Eits! No Tante, tapi Mama. Ok!" Anita menegaskan. Ia lalu menggandeng tangan Meili, mengajaknya menuju meja makan. Meninggalkan Raka yang hanya bisa menggelengkan kepala.
Tapi tak di pungkiri, ada rasa bahagia di hatinya. Jika Mamanya menyukai gadis yang bisa memenuhi seluruh hatinya.
Di meja makan, terlihat Raja yang sudah duduk di sana. Ia tersenyum melihat kedatangan kekasih putranya.
"Malam Om," Meili menggapai tangan Raja untuk ia cium.
"Loh, tadi kan Mama sudah bilang. Kalau tidak ada Tante, berarti juga tidak ada Om. Tapi Papa!" Anita menginterupsi. Membuat Meili tersenyum canggung.
"Duduk lah Meili, kita makan malam bersama." ujar Raja.
"Iya, Terima kasih." Meili tidak bisa membayangkan jika dirinya bisa di Terima begitu baik oleh keluarga Raka. Bahkan perlakuan dari kedua orang tua Raka benar-benar di luar dari bayangannya.
__ADS_1
Mereka memperlakukannya tanpa canggung, seolah ia sudah bagian dari keluarga mereka.
Makan malam itu berlangsung dengan hangat, di mulai dari Anita yang mengambilkan makanan untuk semua orang. Di sela-sela makan malam, terdengar obrolan hangat yang di mulai oleh Anita.
*
*
Setelah makan malam usai, terlihat dua wanita berbeda generasi itu sedang bersantai di halaman belakang.
Sekarang Meili merasa lebih baik, tidak seperti pertama datang tadi. Rasa gugupnya sedikit menghilang walau masih ada.
Anita memintanya untuk bersantai di halaman belakang, ia beralasan ingin mengenal Meili lebih dekat.
"Jadi kamu satu sekolah dengan Raka sejak SMA!" Anita terkejut, ia baru mengetahui setelah Meili bercerita. "Tapi pacarannya baru beberapa bulan!" ia menggelengkan kepalanya merasa tak percaya.
Meili menganggukkan kepalanya dengan tersipu malu.
"Lalu kenapa bisa selama itu baru bisa pacaran?" Anita bertanya lagi.
"Kak Raka nya susah buat di deketin Ma!" Meili mengadu. Mengingat perjuangannya ketika putih Abu-Abu dulu sangat luar biasa.
"Mama sendiri juga heran kenapa anak Mama seperti itu, padahal Mama dulu waktu hamil Raka itu begitu tergila-gila sama aktor hongkong. Siapa ya namanya? Duh Mama lupa, yang pandai bela diri itu loh."
Meili mencoba mengingat siapa tau ia mengenalnya.
"Je.. Je..Je siapa ya?" Anita masih lupa dengan namanya. "Padahal dia itu humoris kan kalau main film, ternyata anak Mama pas keluar malah jadi kulkas enam pintu."
Meili mau tidak mau ia tertawa mendengar perumpamaan Anita terhadap putranya.
...----------------...
__ADS_1
...Yaelah si Mama malah ghibahin anaknya sendiri ðŸ¤...