
Rian kemudian menoleh ke arah Meili, terlihat gadis itu kesal terhadapnya. Ia mulai menata bagaimana akan menyampaikannya agar gadis itu tidak terlalu terluka, meskipun ia yakin jika hati Meili akan tetap tergores. "Tadi pagi ada berita tentang lo," Rian memulainya.
Sedangkan Meili mulai mendengarkannya dalam diam, tapi entah kenapa hatinya mulai gusar.
"Katanya lo ngerebut Raka dari seseorang," jelas Rian hati-hati. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. "Dan lo rela tidur bareng sama Raka demi ngelakuin itu semua."
Membeku.
Jelas saja, itu Meili rasakan. Siapa yang tidak terkejut jika mendengar berita tentang itu, hal yang jelas-jelas tidak ia lakukan.
Merebut?
Bahkan ia sempat membuang perasaannya ketika tahu Raka pernah dekat dengan sahabatnya sendiri, padahal itu hanya kesalahpahaman.
Siapa yang tega membuat berita seperti itu? Tidak tahukah mereka jika ia dan Raka membutuhkan waktu yang cukup lama hingga sampai seperti ini.
"Gue percaya kalau itu berita tidak benar, gue kenal siapa lo." Rian terus memberikan dukungan moral pada Meili. "Dan gue percaya, pasti masih banyak orang yang tidak mempercayai berita itu selain gue." Ia menepuk bahu Meili.
Rasanya ia ingin sekali memberikan bahunya sebagai sandaran, namun keadaannya sekarang berbeda. Ia tidak mau nanti masalah Meili akan semakin rumit.
Meili seketika tersadar, ia tersenyum kepada Rian. "Oh," tanggapan nya dengan terkekeh. "Aku kira apaan, mungkin orang yang buat berita itu kurang kerjaan." katanya.
__ADS_1
Meili bahkan masih tersenyum seperti biasanya seolah tidak ada beban, ia ingin menunjukkan jika dirinya baik-baik saja. "Kakak nggak usah khawatir, aku nggak pusingin berita kayak gitu." Meili sebisa mungkin meyakinkan Rian.
Rian yang melihat ekspresi Meili justru semakin bertambah khawatir, ia tau jika tersimpan luka di balik senyum yang ia tampilkan. "Jika ingin nangis, nangis aja. Itu hal lumrah bagi semua orang."
Meili langsung terdiam, ia menggelengkan kepala. "I'm ok," sahutnya dengan tersenyum.
*
*
Setelah kepergian Rian kini Meili masih terdiam di tempat yang sama. Suasana di sana begitu sepi, mungkin anak-anak yang lain sudah pulang karena jam kuliah sudah selesai sadari tadi.
Tadi Rian sempat mengajaknya untuk pergi, namun Meili lebih memilih untuk tetap tinggal.
Mulai dari ia kehilangan sosok ibu, tekanan dari papanya yang mengharuskan ia menjadi yang terbaik namun ia gagal hingga menyebabkan sekarang ia harus hidup sendiri.
Sekarang harus ada masalah seperti ini, apa tidak cukup penderitaan yang ia alami selama ini.
Ia terkekeh, merasa takdir telah mempermainkan hidupnya.
"Hhaa!!" Ia menghembuskan nafasnya kasar, berharap semua beban di dadanya iku lenyap bersama udara.
__ADS_1
"Kak Raka!" gumamnya. Ketika ia ingat dengan kekasihnya. "Pasti Kak Raka juga tau tentang masalah ini."
Mengingat hampir semua mahasiswa menerima pesan itu, berarti kemungkinan besar Raka juga menerimanya.
Ia memutuskan untuk menemui Raka, namun baru saja ia beranjak. Nyatanya ia melihat Raka yang berdiri tidak jauh darinya.
Meili melihat tatapan Raka yang begitu khawatir. Ia kemudian tersenyum. "Kakak," sapa nya. "Kakak katanya kuliah siang?"
Meili justru menanyakan hal yang tidak tepat.
Tanpa banyak bicara Raka berjalan tegap ke arah kekasihnya, ketika sudah di hadapan Meili ia lalu memeluknya. Mendekap nya erat, ia tau sesakit apa hati yang di rasakan Meili sekarang.
Senyum yang tadi menghiasi bibir Meili, seketika sirna. Tubuhnya membeku, bahkan ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Semuanya akan baik-baik saja," Raka berujar. "Tenanglah, aku pastikan itu."
Mata Meili memanas dengan sendirinya, perkataan Raka rasanya mendobrak pertahannya. Air mata yang sedari tadi ia simpan kini mengalir dengan derasnya.
Hati Raka rasanya ikut tersayat mendengar Meili yang mulai terisak.
...----------------...
__ADS_1
...Ikut mewek rasanya ðŸ˜...
...Tapi tetep seperti biasa gengs, jangan lupa dukungannya 🥰...