
Meili melambaikan tangan begitu mobil Raka meninggalkan kediaman Mariam. Matanya yang memerah nyatanya tidak mengurangi kecantikannya, rasa haru tentu saja masih menghinggapinya.
Senyum manis itu masih saja terukir di bibir nya, ia rasanya tidak sabar membagi kabar bahagianya dengan sang sahabat Jessy.
Ia kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dengan hati yang berbunga.
Tidak jauh dari rumah Mariam ternyata sebuah mobil mewah berhenti di sana. Mobil yang sudah beberapa kali terlihat di sana.
Sang pemilik mobil yang tak lain Irfan ayah Meili, hanya bisa melihat putrinya dari jauh.
Sudah beberapa kali ia berada di sana, bahkan ia tau jika putrinya sedang dekat dengan seorang pria. Yang ia tau adalah mantan siswa di sekolahnya dulu, yang berarti pernah satu sekolah dengan putrinya.
"Bapak tidak ingin menemui Non Meili?" supir Irfan bertanya.
Irfan menghembuskan nafasnya pelan. "Mungkin lain waktu," jawaban yang selalu sama seperti sebelumnya.
Bukan Irfan tak ingin menemui Meili, namun ada suatu perasaan yang mengganjal di hatinya. Hingga membuatnya hanya bisa melihat putrinya dari jauh.
Beberapa waktu lalu, Irfan tidak sengaja bertemu dengan sang mantan istri di sebuah restoran.
Irfan yang kala itu ada pertemuan dengan kliennya, dan sang mantan istri yang sedang bersama anak sambungnya.
Hingga keduanya akhirnya memutuskan untuk bicara sejenak.
"Bagaimana keadaan Meili Mas?" Dena, mantan istrinya memulai bertanya lebih dulu.
Dari mata keduanya tersirat sudah tidak ada lagi cinta yang tertinggal, melainkan kekecewaan yang begitu mendalam.
Irfan tersenyum tipis mendengar itu. "Aku pikir kamu sudah melupakan putrimu, karena sudah menemukan kebahagiaan yang baru."
"Bukankah, kamu sendiri yang sudah lama tidak menghubungi dan menemui Meili. Lalu kenapa sekarang menanyakan kabarnya? Aku pikir kamu sudah melupakannya." Lanjut Irfan.
"Mas!" Dena rasanya tersinggung mendengar ucapan Irfan. Meskipun itu adalah kenyataannya.
"Kenapa? Bukankah itu kenyataannya!" Irfan tidak peduli dengan Dena.
Dena meremas kedua tangannya, rasanya berbicara dengan mantan suaminya itu adalah hal yang sia-sia. Meskipun mereka sudah berpisah, tapi hubungan mereka tetap tidak baik-baik saja.
"Mas, seharusnya Mas ingat kenapa kita dulu berpisah. Ambisi dan ketidak perhatianmu yang membuat rumah tangga kita hancur." Setelah mengatakan itu, Dena memutuskan beranjak dari sana. Kembali ke tempat anak sambungnya berada.
Meskipun mereka dulu di jodohkan, namun seiring berjalannya waktu ada rasa cinta hadir di antara mereka. Dan kehadiran Meili menambah kebahagiaan itu.
__ADS_1
Tapi semakin lama, rumah tangga mereka semakin hambar. Dimana Irfan yang selalu menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja, hingga tidak ada waktu untuk keluarga kecil mereka.
Tidak hanya sekali Dena meminta agar Irfan meluangkan waktunya untuk keluarga, namun itu hanya selalu sia-sia. Yang akhirnya membuat Dena memutuskan untuk mengakhiri rumah tangga mereka.
Dena berpikir, untuk apa membina rumah tangga jika tidak ada kehangatan di dalamnya.
Tapi mereka juga tidak menyadari, jika seseorang yang paling terluka dari semua ini adalah putri mereka. Meili.
Sejak kejadian di restoran itu Irfan mulai diam-diam melihat keadaan Meili meskipun tidak secara langsung. Entah kenapa, semenjak tidak adanya Meili di rumah membuat ia mulai merasa jika orang yang ia sayangi perlahan-lahan pergi meninggalkannya.
*
*
Di dalam kamar Meili sedang menghubungi sahabatnya.
"Jessy!" Meili begitu antusias saat wajah sahabatnya menghiasi layar ponselnya.
Jessy memutar bola matanya malas. "Apa terjadi sesuatu?" tebaknya. Melihat Meili yang cukup aneh.
"Apa aku mengganggu?" Meili justru memberikan pertanyaan pada Jessy. Karena ia takut mengganggu istirahat Jessy pasca melahirkan.
"Ehm... ya sudah kalau begitu besok saja aku menelpon lagi." Meili merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, tunggu sebentar." Jessy mencoba mencari sanggahan untuk ponselnya. Agar ia bisa leluasa menggendong baby Al. "Sudah." Katanya setelah menemukan posisi yang pas untuk menaruh ponselnya. "Ada apa?"
Di seberang sana, belum juga Meili menjawab namun ia justru tersenyum lebih dulu.
"Ada apa Meili?" Jessy rasanya jengah melihat tingkah Meili.
"Oh, aku dan Kak Raka berniat untuk menikah."
"Lo hamil?"
"JESSY!!" kesal Meili.
Jessy terkekeh.
"Habisnya lo tiba-tiba aja pengen nikah, tadi waktu lo ke sini anteng-anteng aja."
"Itu semua karena tadi baru saja di rencanakan." Hingga kemudian Meili menceritakan bagaimana kronologi nya hingga bisa ada rencana pernikahan.
__ADS_1
"What! Lo yang ajak Raka menikah!" Jessy menepuk keningnya.
Meili dengan polosnya menganggukkan kepala. "Memangnya kenapa? Ada yang salah?"
"Meili, biasanya yang ngajak nikah itu pihak laki-laki."
"Benarkah! Ya sudahlah, terlanjur juga." Meili seakan tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting ia akan menikah.
Di sela-sela obrolannya, terdengar ada seseorang yang baru masuk ke ruangan rawat inap Jessy.
"Sayang, Al minum lagi." tanya nya yang rupanya itu Nathan. Dan itu mengalihkan perhatian Jessy dari Meili.
"Aku juga mau susu," kata Nathan yang masih belum menyadari jika istrinya sedang melakukan VC dengan Meili.
Sedangkan Meili di seberang sana terdiam dan menyimak obrolan suami istri itu.
"Sayang!" Jessy merengek dan ingin menghindar ketika Nathan mendekat ke arahnya. Tapi karena ada baby Al yang ada dalam gendongannya membuatnya susah bergerak.
"Dari pada menganggur, satunya buatku. Sebelum nanti di habiskan oleh Al." Nathan yang sudah berada di dekat Jessy.
Susu?
Satunya?
Menganggur?
Di habiskan baby Al?
Meili masih mencerna kata-kata yang ia dengar.
Hingga matanya membulat ketika matanya melihat Nathan yang bersiap membuka baju Jessy.
Reflek ia langsung mematikan panggilannya, lalu melempar ponselnya begitu saja.
"Astaga! Jadi yang waktu itu di bilang Jessy!" Ia mengusap wajahnya kasar. Ia mengingat kejadian waktu menginap di rumah Jessy.
"AAAAAA!!!!!" teriaknya.
...----------------...
...Tuhkan, pasutri emang nggak tau tempat ðŸ¤...
__ADS_1