Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Merindukan


__ADS_3

Setelah kepergian Jessy dan keluarganya, kini hanya Caca sendiri yang tinggal di rumah Mariam. Selain itu ia juga juga mendapat amanah dari Nenek agar mengurus rumah makan nya.


Mariam yakin Meili mampu untuk melakukannya.


Kini Meili sedang berada di rumah makan, seperti biasanya rumah makan itu selalu ramai pengunjung.


Raka pun sedang berada di sana untuk menikmati makan siangnya. "Lo nggak ngelanjutin kuliah?" Raka bertanya setelah menghabiskan makan siangnya.


Meili terdiam, sejujurnya ia juga ingin melanjutkan pendidikannya. Namun ia masih ragu, entah kenapa perkataan papa nya waktu itu membuatnya pesimis. Jika dirinya akan sia-sia bila meneruskan pendidikannya. "Entah lah Kak, lagi pula kan sudah terlambat. Ajaran baru sudah di mulai."


"Lo pingin kuliah?" Entah kapan datangnya Rian, tapi lelaki itu mendengar apa yang di ucapkan Meili. Ia lalu duduk begitu saja di samping Meili dan bergabung dengan mereka.


Raka yang melihatnya, tentu saja ia merasa tidak suka dengan kehadiran Rian.


Seperti waktu itu, ketika ia sedang mengunjungi gadis itu setelah di tinggal Jessy dan keluarganya tiba-tiba saja Rian juga berkunjung ke sana. Meskipun ia tahu Meili hanya menganggap Rian tidak lebih dari kakak, tapi tidak dengan Rian. Ia tahu jika lelaki itu mempunyai perasaan terhadap Meili.


"Lo mau kuliah?" Rian mengulangi pertanyaannya.


Meili menggelengkan kepalanya. "Udah telat kak, lagi pula udah di mulai juga ajaran tahun barunya."


"Kalau lo mau kuliah, biar gue bantu. Pasti masih bisa di terima," kata Rian.

__ADS_1


Dan Raka semakin mendengus mendengar itu.


*


*


Malam hari, Meili semakin galau ia masih memikirkan tentang kelanjutan pendidikannya. "Apa seharusnya aku kuliah ya?"


Kalau tentang uang, Meili tidak memusingkannya. Uang tabungannya sudah lebih dari cukup jika untuk membayar uang pendaftaran dan beberapa semester ke depan.


Ia menghembuskan nafasnya kasar. "Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik."


Ia lalu mencoba menghubungi seseorang, yang tak lain adalah bibi pekerja di rumahnya. Hanya bibi yang menurutnya hanya bisa di pintai tolong untuk membawa berkas-berkas miliknya dan beberapa pakaian yang masih berada di rumahnya.


*


*


"Non!" Mang Didin yang ternyata mengantarkan barang pesanan Meili. Terlihat pria itu sangat senang bertemu dengan nona nya kembali begitu pun dan Meili merasakan hal yang sama.


"Apa kabar Mang?" tanya Meili.

__ADS_1


"Alhamdulillah Non baik, Non sendiri bagaimana?"


Mata keduanya tampak sama-sama saling memanas, terlihat jelas jika keduanya saling merindukan. Seperti Meili yang menganggap supirnya sudah seperti saudara, dan Mang Didin yang sudah menganggap Meili seperti putrinya sendiri.


"Alhamdulillah Baik," jawab Meili sembari tersenyum.


Meili kemudian mempersilahkan Mang Didin.


Kini mereka berdua duduk di kursi yang berada di teras, di temani secangkir teh hangat.


"Bagaimana kabar Papa?"


Walaupun terakhir kali mereka bertengkar hebat, namun jujur saja Meili juga merindukan sosok Papa nya.


"Baik Non." Yang Mang Didin tau Tuannya itu masih seperti biasa, bekerja berangkat sangat pagi dan pulang hampir tengah malam.


"Syukurlah," sahut Meili. Meskipun Papa nya sama sekali belum menghubunginya, namun ada kelegaan mengetahui kabarnya baik-baik saja.


"Apa Non tidak mau pulang?" Takut-takut Mang Didin bertanya.


Meili hanya tersenyum kaku. "Untuk saat ini masih belum Mang."

__ADS_1


...----------------...


...Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan 🥰. ...


__ADS_2