
"Kak Raka nggak mau istirahat dulu?" Meili melihat suaminya ikut membantu merapikan kamar di lantai satu yang nantinya akan mereka gunakan.
Raka hanya duduk sebentar setelah pulang kuliah tadi hanya untuk memberikan ponselnya, kemudian mulai ikut membantu memindahkan segala keperluan mereka.
Kamar yang sekarang tidak jauh berbeda dari kamar yang sebelumnya, hanya berbeda pada warna cat temboknya saja.
"Nanti saja, nanggung bentar lagi selesai." sahut Raka.
Benar saja, tidak lama kamar itu sudah tertata rapi.
Dari baju yang sudah rapi di lemari, make up milik Meili juga sudah tertata di meja rias bersama parfum mereka berdua.
Malam harinya di saat makan malam baru saja usai, di rumah Raja kedatangan oleh hadirnya Dena serta sang suami.
"Maaf sayang, Mama tidak bisa mengantar saat kamu pulang dari rumah sakit." Dena merasa tidak enak hati.
Karena di saat itu ia ada urusan penting yang tidak bisa ia tinggalkan.
Sedangkan Meili hanya menanggapinya dengan tersenyum, ia sendiri tidak tau harus meresponnya seperti apa. Tinggal terpisah dengan Dena untuk waktu yang lama, membuatnya merasa terbiasa.
Ia sendiri juga mulai berdamai dengan keadaannya yang dulu, di saat Dena tidak pernah menemuinya.
__ADS_1
*
*
"Mau istirahat sekarang?" Raka bertanya. Sekarang ia dan Meili sedang berada di halaman belakang, menikmati udara malam yang tidak terlalu dingin.
"Sebentar lagi," jawab Meili. Matanya menatap ke arah langit yang hari ini terlihat begitu indah, langit malam yang bertaburan ribuan bintang.
Raka akhirnya menuruti apa yang di inginkan oleh istrinya.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sepasang suami istri itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar.
Tapi setelah berada di kamar, hanya Meili yang berada di atas ranjang. Sedangkan Raka ia sibuk dengan laptopnya, entah sedang mengerjakan apa.
Raka sekilas menoleh ke arah istrinya sebelum melanjutkan kegiatannya kembali. "Hmm...."
"Lalu kenapa Kak Raka masih saja belajar, maksudnya kenapa tidak libur dulu belajarnya."
"Aku tidak belajar, tapi ini pekerjaan. Aku harus segera menyelesaikannya."
Dahi Meili berkerut, ia merasa bingung. Waktu itu memang suaminya pernah mengatakan jika sudah bekerja, tapi ia tidak tahu pekerjaan yang seperti apa.
__ADS_1
Raka mengetahui kebingungan istrinya. "Aku bekerja sebagai editor video, jadi bisa di kerjakan di mana saja. Termasuk seperti sekarang ini," jelasnya.
"Oh..." Meili menanggapi.
Raka memang mengerjakan pekerjaannya jika ada seseorang yang meminta bantuannya, namun ia juga sudah mempunyai pelanggan tetap yang memakai jasanya.
"Pekerjaanku hanya begini, jadi bersabarlah hingga aku menjadi seorang Dokter." Raka melihat istrinya yang tersenyum kepadanya.
"Tidak apa-apa, apapun pekerjaannya yang penting halal."
Meskipun begitu, Raka masih bisa mendapatkan bayaran lima ratus ribu bahkan lebih sekali ia mengedit video.
Saat malam sudah larut, Raka baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Di saat ia menoleh ke arah ranjang, rupanya ia melihat jika istrinya sudah terlelap dalam tidurnya.
Setelah merapikan laptopnya, ia perlahan mulai naik ke atas ranjang. Ketika ia membenahi selimut istrinya, ada sesuatu yang mencuri perhatiannya.
Bibir yang selalu saja menggodanya, namun ia dengan sekuat hati untuk menahannya. Karena ia takut jika sekaki saja ia merasakannya ia tak mampu untuk menghentikan diri.
Sebagai calon Dokter ia tahu bagaimana rasa yang di rasakan oleh seorang perempuan saat pertama kali melakukannya, apalagi kondisi Meili masih seperti ini.
Ia merapikan anak rambut yang terburai, hingga kemudian meninggalkan kecupan di sana. "Selamat tidur, semoga mimpi indah." bisiknya. Yang kemudian ia juga menyusul Meili mengarungi mimpi.
__ADS_1
...----------------...
...Maaf cuma dikit 🙏, gak ke kejar waktunya. Di lanjut besok 🙂...