
Setelah mereka menyelesaikan saraannya, kini mereka semua berkumpun di gazebo halaman belakang rumah. Gazebo itu tidak terlalu besar, namun masih cukup untuk menampung mereka.
Hal seperti ini jarang terjadi semenjak mereka menjadi mahasiswa.
Suasana pagi itu semakin menunjang, angin semilir yang begitu menyegarkan.
"Sering-seringlah kalian kemari." kata Jessy. Ia begitu senang melihat mereka berlibur di rumahnya.
"Nanti kami akan kesini jika ada waktu lagi," sahut Reza.
Jessy mencebik, ia sudah tau sepak terjang kedua sahabat suaminya itu. "Halah, kalian berdua sibuk pacaran." Ia melihat Reza juga Ariel bergantian.
Dan kedua pemuda itu hanya tertawa, tidak menyangkal juga tidak mengiyakan.
"Nanti kalau libur semester aku akan ke sini, sekalian untuk liburan." ujar Meili.
"Meili, kandungan gue udah tujuh bulan. Kalau nunggu lo liburan semester udah brojol duluan." sungut Jessy.
Mereka tertawa mendengar ibu hamil itu yang sedari tadi terus mengoceh. Jessy sendiri sebenarnya terkadang juga merasa kesepian, namun ia sendiri masih belum bisa jika harus kembali untuk saat ini.
Percakapan itu akhirnya terus berlanjut, mengenang masa-masa mereka sewaktu SMA. Lebih tepatnya mereka mengingat bagaimana Jessy yang hampir setiap hari terkena hukuman dari suaminya sendiri. Dan hal itu adalah salah satu sejarah yang tidak akan mereka lupakan.
Riuh tawa dari semua orang nyatanya tidak berpengaruh pada Meili, gadis itu sedari tadi terus saja menguap. Mata indahnya mulai berair, menandakan ia teramat mengantuk.
Ia mencoba menahannya, tapi sepertinya tak berhasil. Tubuhnya sesekali terasa akan limbung, saat matanya tanpa ia sadari terpejan.
Raka yang menyadari keadaan kekasihnya yang berada di sebelahnya, tanpa banyak bicara menggeser duduknya lebih dekat.
Dan benar saja, tidak menunggu lama kepala Meili tepat mendarat di bahu Raka. Rasa ngantuk itu sekarang benar-benar menguasainya, bahkan ia sendiri tidak menyadari posisinya sekarang.
Untuk beberapa saat Raka membiarkan keadaannya dan Meili seperti itu, sesekali ia juga merapikan anak rambut Meili yang tertiup angin.
Tanpa terasa sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, meskipun itu adalah hal sederhana namun terasa luar biasa.
"Meili tidur?" Jessy pertama kali menyadarinya. Tapi melihat itu sesungguhnya ia merasa bahagia, karena sahabatnya itu juga merasakan kebahagiaan seperti dirinya.
Hal itu membuat semua orang menatap ke arah Raka.
"Kalau begini yakin deh, yang lain ngontrak." celetuk Ariel.
"Bau-baunya ada yang resmi nih kelihatannya," kata Reza.
Semuanya semakin mentap ke arah Raka, namun ia justru hanya terlihat biasa saja.
"Udah?" Nathan yang ikut-ikutan bertanya.
__ADS_1
Di saat semua orang menantikan jawaban, Raka justru beranjak dari sana dengan menggendong Meili.
"Hei! Bagaimana?" teriak Reza.
Sebelum Raka memasuki rumah, ia sejenak berhenti lalu menoleh ke arah mereka. "Sudah," ucapnya datar. Kemudian ia melanjutkan jalannya.
"Ha!"
Semuanya masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, rasa jatuh cinta masih belum mencairkan sepenuhnya si gunung es.
*
*
Sore harinya semua bersiap akan kembali, terlihat nampak Jessy yang rasanya tidak rela melepaskan suaminya.
"Sayang!" Jessy terus saja memeluk Nathan tanpa berniat untuk melepaskannya. "Aku masih kangen," rajuknya.
Nathan yang sebenarnya juga tidak rela semakin mendekap erat istrinya.
Meili hanya bisa mengalihkan pandangannya, Lagi-lagi ia harus melihat adegan pasutri itu.
"Ayo kita ke mobil lebih dulu," Raka menggandeng tangan Meili. Ia sendiri juga tidak nyaman melihat itu.
Ternyata setelah di mobil, kini justru hanya ada mereka berdua. Dan seketika saja keadaan menjadi canggung.
"Ehm," Meili melegahkan tenggorokannya. "Kenapa semuanya belum ke sini ya?"
"Mungkin sebentar lagi," sahut Raka.
Sesaat kemudian semuanya hening.
"Oh, aku lupa." Tiba-tiba Meili teringat dengan ponselnya. Dari kemarin ketika ia sampai, ia melupakan keberadaan ponselnya hingga sekarang.
Ia ingat jika menaruh ponselnya di dalam tas,. "Yah, mati." Melihat daya batrenya sudah habis hingga menyebabkan ponselnya mati. "Nanti kalau ada yang telpon bagaimana!"
Ia takut jika pegawai di rumah makan menghubunginya untuk memberitahukan sesuatu.
Lain Meili, lain juga Raka.
Mendengar itu pikiran Raka justru tertuju pada sosok laki-laki yang menaruh hati pada Meili, ia yakin pasti Rian sering menghubungi kekasihnya itu.
"Biarkan saja, nanti saja jika sampai di rumah baru di cas." ujar Raka.
"Tapi nanti kalau ada yang menghubungi bagaimana?" Meili berniat turun dari mobil. Mumpung masih belum berangkat, ia ingin pinjam pengisi daya milik Jessy.
__ADS_1
"Tunggu!" Raka mencekal tangan Meili, membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
Meili menoleh ke arah Raka yang masih tidak melepaskan tangannya. "Kak, mumpung masih di sini. Mau pinjam charge Jessy sebentar."
Entah kenapa yang Raka perhatikan sekarang justru bibir pink milik Meili yang sedari tadi terus mengoceh, ia bahkan tidak mendengarkan ocehan Meili.
Di detik berikutnya, justru pembicaraan kedua sahabatnya semalam yang terngiang di ingatannya.
Apa mungkin?
Apa seenak itu?
Pikiran Raka bermonolog.
Tanpa sadar ia menarik Meili begitu saja, hingga jarak mereka kini cukup dekat.
Mata Meili membulat menyadari kini jarak mereka yang bisa di bilang hanya sejengkal saja. "Ka-kak!" gugupnya.
Tapi Raka justru semakin mengikis jarak mereka.
Meili merasakan jantungnya semakin lama semakin cepat, mungkin sebentar lagi jantungnya akan melompat dari tempatnya. "Apa sebentar lagi aku akan merasakan first kiss?" batinnya.
Benar saja jarak mereka semakin lama semakin menghilang, bahkan mata keduanya kini sudah terpejam. Menyambut rasa baru yang akan mereka rasakan untuk pertama kalinya.
Klek.
"Whoi mojok aja!" Ariel yang tiba-tiba datang.
Kehadiran Ariel, tentu membuat sepasang kekasih itu gelagapan dan langsung membuat jarak. Meili sama sekali tidak berani melihat ke arah Ariel, ia hanya bisa mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
Mata Ariel memicing melihat kelakuan aneh dari Raka dan Meili. "Jangan bilang kalian?"
Raka langsung melemparkan bantal leher ke arah Ariel.
Ariel secepat kilat menghindarinya, dan bantal itu ternyata tepat mengenai wajah Reza yang baru tiba di sana. "Ada apa sih?" Ia melihat wajah kesal Raka.
Ariel membisikkan sesuatu kepada Reza, yang membuat matanya melebar.
"What! Kalian ci pokan?" katanya dengan raut wajah yang di buat terkejut. Padahal sebenarnya bagi dirinya itu adalah hal yang biasa.
Meili mendengar itu semakin menyembunyikan wajahnya, karena merasa tidak ada jalan lain. Akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan jurus terakhir, yaitu berpura-pura tidur.
...----------------...
...Ya ampun, baru juga mau coba. Eh... gagal rupanya ðŸ¤ðŸ˜‚...
__ADS_1