Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Kedatangan Rian


__ADS_3

Rian memandang ponselnya dengan dahi berkerut, ia merasa heran karena beberapa saat lalu ia menghubungi Meili namun yang menjawabnya seorang laki-laki dan sepertinya sedang kesal.


"Dia siapa?" Rian mengecek kembali no yang tadi di hubungi nya, dan memang benar itu no Meili. "Apa itu pacarnya? Tapi ia tidak pernah bercerita."


Ia memutuskan untuk menghubungi Meili karena gadis itu beberapa hari tidak ada kabar.


*


*


Pagi harinya Meili sudah segar setelah di bantu perawat untuk membersihkan diri.


Sedangkan Raka, ia berpamitan pulang juga untuk membersihkan diri. Semalam ia menjaga Meili di rumah sakit.


Sesaat kemudian Meili baru tersadar jika ponselnya sudah berada di atas nakas. "Siapa yang membawakannya?" herannya.


Baru saja ia mengambilnya, ponsel itu sudah berdering nyaring. Dan nama Rian yang tertera di layar ponselnya.


"Halo." sahut Meili begitu panggilan tersambung.


"Gue pikir yang akat telpon pacar lo lagi." cibir Rian dari seberang sana.


Meili menautkan alisnya.


Angkat telepon? Pacar?


Yang benar saja, ia sendiri baru melihat ponselnya pagi ini.


"Benar kan?" tebak Rian.


"Kakak apaan sih!" sewot Meili. "Aku saja baru pegang hape pagi ini."


"Halah." Rian tak mempercayainya.


"Iya, semalam aku sama sekali tidak pegang hape. Kalau tidak percaya tanya saja sama Kak Ra--"


Tunggu?

__ADS_1


Meili seperti menyadari kejanggalan.


"Mungkinkah Kak Raka yang angkat telepon? Lalu kenapa tidak bilang?" batin Meili.


"Hei, kecil. Malah diem aja!" kata Rian. "Bener kan pacar lo, makanya kemarin dia bilang lo nggak ada."


"Aku nggak punya pacar Kak Rian," jelas Meili. "Mungkin kemarin yang angkat itu Kak Raka, kakak kelas aku dulu."


Sejenak suasana hening.


"Sekarang lo masih sama kakak kelas lo?"


"Nggak."


"Uhm ... bagaimana kalau kita cari sarapan?"


"Aku nggak bisa."


"Kenapa?"


"Karena lagi di rumah sakit." jawab Meili.


"Hm," Meili menganggukkan kepalanya seolah Rian bisa melihatnya.


*


*


Setelah bertelpon ria dengan Rian kini suasana kamar Meili kembali hening. Meili mengedarkan pandangannya, di kamar itu hanya ada dia sendiri.


"Apa Papa nggak khawatir ya?" Tiba-tiba ia teringat dengan Papanya.


Meili mengotak atik ponselnya namun di riwayat panggilan telepon dan pesan masuk, kontak Papa nya sama sekali tidak terlihat.


"Hhahh." Ia menghembuskan nafasnya kasar. Dan Mama nya pun juga sama sekali tidak ingin mencari tahu tentang dirinya. "Mungkin mereka lupa."


Iya, mereka lupa jika memiliki seorang putri.

__ADS_1


Perut Meili tiba-tiba berbunyi. Tentu saja itu adalah pertanda lapar, ia sama sekali belum mengisi perutnya dengan makanan.


Makanan yang di sediakan oleh rumah sakit, semakin membuatnya tidak berselera makan.


Klek.


"Kak Rian!" Meili tidak percaya dengan kehadiran lelaki itu.


Karena baru tadi ia memberitahu tempat ia di rawat, dan sekarang sudah menjenguknya.


"Hai!" sapa Rian dengan tersenyum. Ia lalu mendekat ke arah Meili. "Gue pikir lo nggak bisa sakit!" godanya.


Seperti bisa mereka jika bertemu akan selalu bertengkar.


Meili mencebikkan mulutnya mendengar itu. "Semua manusia juga bisa sakit."


Rian tertawa mendengar itu.


Mata Meili kemudian tertuju pada kantong kresek berisi styrofoam yang di bawa oleh Rian. "Kakak bawa makanan?" tanya Meili antusias. Ia membayangkan makanan dari luar pasti lebih enak.


"Hm," Rian menunjukan nya pada Meili. "Bubur ayam, mau?"


"Boleh," jawab Meili cepat.


Bahkan air liurnya rasanya sudah menggenang, membayangkan bubur ayam dengan kuah santan, ayam suir, kacang goreng, taburan bawang goreng dan daun pre. Di tambah kerupuk.


Rian langsung membuka styrofoam itu, dan aroma khas bubur ayam seketika memenuhi ruang rawat inap Meili. "Mau di suapi?"


Meili menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku makan sendiri saja." Tanpa sungkan Meili begitu saja mengambil bubur ayam itu dari tangan Rian.


Sesuap sendok besar langsung masuk ke dalam mulutnya. Matanya terpejam menikmati rasa makanan itu. "Hm... enak." katanya.


Rian begitu gemas melihat tingkah Meili, tangannya begitu saja mengacak rambut gadis itu. "Pelan-pelan makannya."


Tapi Meili hanya tersenyum.


Tanpa mereka sadari seseorang melihat interaksi mereka dari ambang pintu dengan rahang mengeras.

__ADS_1


...----------------...


...Seperti biasanya gengs jangan lupa jempolnya 🥰...


__ADS_2