
Meili masih tidak menyangka jika dirinya sudah menikah, pernikahan yang tidak ia tahu bagaimana prosesnya.
Berarti waktu itu ia tidak salah dengar, ketika baru sadar ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan sayang.
Dan waktu ia benar-benar membuka mata, ternyata yang berada di sana ada Dokter dengan beberapa perawat lalu Raka yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Pipinya seketika merona, baru kali ini ia mendengar Raka memanggilnya seperti itu. Sungguh kemajuan yang luar biasa.
"Sayang ayo buka mulut, dari tadi kamu tidak mengunyah nya." Anita membuyarkan lamunan Meili.
Ini adalah waktunya Meili makan siang, dan Anita yang menyuapi nya. Namun menantunya itu justru sedari tadi sedang melamun.
Meili tersenyum kaku, sembari menyembunyikan rasa malunya.
"Uhm... Ma!" Meili yang juga mulai merubah nama panggilan untuk Anita.
"Ada apa sayang? Kamu membutuhkan sesuatu?"
Tapi Meili seketika menggelengkan kepala. "Meili mau bertanya!"
Anita terdiam sembari menanti pertanyaan Meili.
Sejak mengetahui ia dan Raka sudah menikah ada pertanyaan-pertanyaan yang terus mengusiknya. Dengan sedikit ragu Meili memberanikan diri untuk bertanya. "Apa Mama tidak apa-apa mempunyai menantu seperti Meili?"
Ada ketidak percayaan diri pada Meili, ia tidak seperti dulu. Bahkan ia membutuhkan waktu untuk bisa sembuh. Ia menatap sendu ke arah Anita. "Karena keadaan Meili seperti ini!" Kemudian ia menundukkan pandangannya.
Anita seketika meletakkan piring yang berisi makanan itu di atas nakas. Lalu ia meraih kedua tangan menantunya, dan mencoba membuat gadis itu menatapnya.
"Apapun keadaan kamu, Mama tetap menerimanya. Ini semua musibah sayang, dan kamu pasti bisa melewatinya." ujar Anita meyakinkan, ia lalu mengarahkan pandangannya pada Raka yang sedang tertidur pulas di sofa.
"Mama, Papa maupun Raka menerima kamu apapun keadaannya." Anita segera membawa Meili kedalam pelukannya saat melihat menantunya itu hampir menangis.
*
*
Ketika malam hari Meili melihat Raka yang sedang terlihat serius belajar sembari menemaninya.
__ADS_1
Besok adalah ujian semester, dan Meili terpakasa akan mengikuti ujian susulan karena keadaannya yang tidak memungkinkan.
"Kak Raka kenapa tidak belajar di rumah saja? Agar lebih nyaman?" Meili memperhatikan suaminya.
Raka menjeda kegiatannya, dan melihat ke arah Meili. "Aku lebih nyaman di sini karena ada kamu juga."
Meskipun Raka mengucapkannya tanpa ekspresi, namun berhasil membuat jutaan bunga sedang bermekaran di hati Meili.
"Kamu tidur saja, sudah malam." Raka melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Hmm," tanpa menunggu lama Meili memejamkan matanya. Entah kenapa melihat wajah suaminya sendiri, membuat ia berdebar. Apalagi jika Raka sedang menatapnya, rasanya ia sudah tidak mampu melakukan apapun.
Hingga beberapa saat, Raka melihat istrinya yang masih belum tidur.
Terlihat Meili yang masih bergerak di atas ranjang, mungkin sedang menyesuaikan posisinya.
Raka memutuskan menutup bukunya dan beranjak dari sana untuk menghampiri istrinya.
"Sayang, apa butuh sesuatu?" tanya nya.
"Apa butuh sesuatu?" tanya nya lagi.
"Ah ti-tidak," jawab Meili cepat dan mata yang berkedip beberapakali. Karena sebenarnya ia merasakan belum mengantuk. Dan ia tiba-tiba merasakan rindu terhadap papanya yang masih belum bisa bertemu hingga sekarang. "Kak, aku ingin bertemu Papa!"
Raka menghela nafas dalam, pertanyaan seperti inilah yang selalu ia takutkan. Takut jika jawabannya tidak bisa meyakinkan istrinya.
Ia menatap lekat istrinya. "Iya nanti jika kamu sudah sembuh."
"Tapi aku sangat rindu!" Meili mulai merajuk.
"Iya, tapi kamu juga sedang sakit."
"Hanya sebentar saja... !"
"Iya, kalau kamu sudah sembuh nanti aku antar ketemu papa."
"Bagaimana kalau telepon saja?" Meili memberi cara lain.
__ADS_1
Raka terdiam, memikirkan bagaimana ia mendapatkan alasan selanjutnya.
"Bagaimana?" Meili bertanya kembali. Sejak kecelakaan itu, ia sama sekali tidak memegang hape. Raka memberitahunya jika ponselnya hilang dan belum sempat membelikannya.
Raka semakin lekat menatap wajah istrinya yang sedang menunggu jawabannya. Entah kenapa justru sekarang ada sesuatu yang lain melintas di pikirannya. Apalagi melihat ekspresi Meili yang terlihat menggemaskan.
"Kak, bagai--"
Meili membeku ketika wajah Raka tiba-tiba mendekat ke arahnya.
"Apa yang mau kakak lakukan?" Meili terlihat gugup.
Tapi tidak ada jawaban dari Raka, ia tanpa sadar justru lebih mendekat ke arah istrinya.
Hingga tatapannya tertuju pada bibir pink Meili yang sedari tadi terus berceloteh. Tanpa ia sadari, bibirnya mulai mendarat tepat di bibir Meili.
Membuat mata Meili membola.
Tubuhnya rasanya seketika kaku dan tidak bisa ia gerakkan.
Klek.
"Astagah!!!" Reza dan Ariel yang baru datang.
Membuat kegiatan pasutri itu berhenti, dan seketika memberikan jarak.
"Inget bro, bini lo lagi sakit! Masih aja minta jatah," cetus Ariel.
Padahal mereka tadi berniat menemani sahabatnya untuk bermalam di rumah sakit, tapi malah di suguhkan yang membuat mereka ingin melakukannya juga ðŸ¤.
Raka dan Meili juga nggak tau kalau readers juga senyum-senyum sendiri melihat kelakuan mereka 😂.
Meili langsung menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Menyembunyikan rasa malu yang rasanya sampai hingga ke ubun-ubun.
...----------------...
...Lah si upin ipin ganggu aja ðŸ¤...
__ADS_1