
Hari ini Meili sudah di perbolehkan pulang, karena keadaannya yang sudah membaik.
Namun ia harus tetap kontrol untuk beberapa hari ke depan hingga keadaannya benar-benar pulih. Kini ia pun harus menggunakan kursi roda.
Infus sudah di lepas setelah pemeriksaan terakhir tadi. Senyumnya sadari tadi terus merekah, karena rasa bahagia ia di perbolehkan pulang dan juga akan bertemu papa nya.
"Kalau begitu, Mama keluar dulu ya!" Anita yang membawa tas isi keperluan Meili selama menginap di sana. Di bantu oleh Raja yang juga membawakannya.
"Iya Ma," sahut Raka. Sedangkan Meili hanya mengangguk sembari tersenyum.
Ia masih tidak menyangka jika akan mendapatkan mertua yang sebaik mereka.
Hari ini Dena sendiri tidak bisa mengantar kepulangannya karena ada keperluan penting yang tidak bisa ia tinggalkan.
Setelah Anita dan Raja pergi dari ruangan Meili, Raka kemudian mensejajarkan dirinya dengan Meili yang duduk di kursi roda.
Ia menggenggam tangan istrinya dengan lembut, juga menatapnya penuh cinta. Tapi ada kekhawatiran di dalam benaknya, takut jika istrinya bersedih kembali setelah mengetahui keadaan Irfan yang sebenarnya.
"Sayang, nanti apapun keadaan papa nanti kamu harus percaya jika Papa akan sembuh." ujar Raka.
Senyum yang tadi merekah kini perlahan memudar, mendengar ucapan suaminya tiba-tiba ada ketakutan yang hadir di dalam hatinya.
"Apa sebenarnya kondisi Papa tidak baik-baik saja?"
Meili berharap jika apa yang di takutkan adalah salah.
Raka hanya diam sembari terus menatap Meili.
"Kak... !"
"Sebenarnya Papa mengalami koma, tapi kata Dokter masih ada kemungkinan Papa akan sadar kembali." Akhirnya Raka berterus terang.
__ADS_1
Bibir Meili bergetar, dan matanya memanas begitu saja.
Hingga di sini lah mereka sekarang, di depan ruang ICU. Di mana di dalamnya ada Irfan yang berjuang hidup di sana.
Dari dinding kaca, Meili bisa melihat Papa nya yang memejamkan mata. Dan Papa nya yang biasanya selalu terlihat gagah kini terbaring tak berdaya.
Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan, apalagi ingatan kecelakaan itu hadir dalam kepalanya.
Dimana Papanya terus memeluknya erat di benturan pertama, padahal waktu itu Papanya juga sudah terluka. Tapi Irfan tak memperdulikan keadaannya dan terus memeluknya.
"Jangan menangis!" Raka merangkul pundak Meili. "Nanti Papa juga ikut sedih."
Meili menoleh ke arah suaminya. "Benarkan, Papa sembuh?"
Raka tidak bisa mengiyakan pertanyaan istrinya, karena takut jika jawabannya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.
Dan ia hanya bisa membawa Meili dalam pelukannya.
*
*
Sesampainya di rumah, ternyata kepulangan Meili sudah di nantikan semua sahabatnya dan sahabat suaminya.
"Welcome home... !!" Teriak semuanya begitu Meili sudah keluar dari mobil dan duduk di kursi rodanya.
Meili melihat itu sungguh bahagia, ternyata masih banyak orang-orang yang begitu menyayanginya.
"Meili!" Jessy lalu berhambur memeluknya. "Akhirnya lo pulang, gue ikut seneng." katanya kemudian melepaskan pelukannya. Bahkan matanya sedikit memerah.
Meili tersenyum mendengar itu, tapi matanya juga ikut memerah. "Aku jadi pengen nangis!" ujarnya.
__ADS_1
"Hei.. !" Anita menginterupsi. "Hari ini tidak ada yang boleh nangis, hari ini dan seterusnya kita harus selalu bahagia." imbuhnya.
Dan mereka semua mengamini.
Hingga akhirnya mereka melanjutkannya dengan acara makan bersama.
"Terus kuliah lo gimana?" tanya Jessy setelah acara makan bersama selesai, dan kini ia dan Meili sedang duduk di ruang keluarga.
"Ya ikut ujian susulan, kamu sendiri nggak mau nerusin kuliah?"
"Nggak dulu, gue berat kalau ninggalin Al." Jessy melihat ke arah suaminya yang sedang menggendong Al duduk bersama para sahabatnya.
Ia sedang menikmati menjadi mama mudah, dan hal itu menurutnya adalah hal baru yang menyenangkan.
Meili mengangguk anggukkan kepalanya.
"Lo sendiri masih belum bisa menikmati surganya dunia?" cetus Jessy kemudian.
"Surga dunia?"
Jessy menepuk keningnya. "Astaga, malam pertama Meili." gemasnya. "Kan kaki lo lagi sakit, jadi gak bisa buat ngang kang."
"Astaga!" sekarang Meili yang menepuk keningnya, ia saja ke mana-mana masih menggunakan kursi roda.
Tapi tidak di pungkiri pipinya sedikit merona, ucapan sahabatnya seketika membuatnya berpikir ke arah sana.
"Tapi kalau sudah enakkan sedikit boleh juga di tes drive." Jessy yang kemudian tertawa dengan ide konyolnya.
"Ya ampun!" Meili merasa ngeri pada sahabatnya itu, apalagi dengan membayangkan ucapan Jessy.
...----------------...
__ADS_1
...Seperti biasa genges, setelah membaca jangan lupa tinggalkan like dan komen 😁. Terima kasih 😘💕...