Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Membuat Malu


__ADS_3

"Udah nangisnya?" Tanya Rian dengan mengendarai motornya.


Setelah kejadian di kedai ice cream tadi Rian lebih memilih mengajak Meili pergi dari sana, dari pada mereka menjadi tontonan pengunjung karena Meili tidak bisa berhenti menangis.


Meili yang berada di jok belakang motor hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Tadi dia menangis sebenarnya karena terharu karena masih ada orang yang peduli padanya.


Namun rasa haru itu tidak bisa ia kendalikan hingga ia menangis tanpa bisa menghentikannya.


"Ck," Rian berdecak kesal ketika merasakan lagi jaketnya di tarik oleh Meili. Kalau hanya di tarik biasa mungkin ia tidak akan kesal, namun gadis itu menggunakannya untuk mengusap ingusnya. "Meili, jaket gue kotor!" kesalnya.


Tapi gadis yang bersangkutan tidak memperdulikan nya. "Pelit banget sih, cuma sedikit doang!" cetusnya.


Padahal kenyataanya di jaket Rian sudah berbentuk sebuah pulau.


Hingga sore hari, nyatanya keduanya masih duduk di rerumputan di sebuah bukit.


Tadi mereka tidak tau harus pergi kemana, hingga hanya menyusuri jalan yang kemudian membawa mereka sampai ke bukit.


"Jangan patah semangat!" Rian menasehati.


Meili hanya diam, sedari tadi cowok yang sudah seperti kakaknya itu terus berbicara.


"Belajar yang lebih giat," Rian berbicara kembali. Ia lalu menoleh pada Meili, karena gadis itu hanya diam saja. "Denger nggak!" Ia menjewer telinga Meili.


"Iya, ih ....!" Meili berusaha melepaskan tangan Rian dari telinganya.


"Kalau di kasih tau nu--"


Belum sempat Rian meneruskan kata-kata nya, sudah ada seseorang yang menghampiri mereka.


"Kalian jika pacaran jangan di sini!" Seorang wanita berbadan tambun menghampiri. Sepertinya ia warga sekitar terlihat dari barang belanjaannya yang berisi sayuran juga ia yang hanya berjalan kaki.


Meili dan Rian sontak saja menoleh ke arahnya.


"Ibu, kami bukan lagi pacaran. Lagi pula dia kakak saya," kata Meili pada wanita yang sepertinya berumur 40tahunan itu. Dan Rian hanya diam membiarkan Meili berbicara.


Wanita itu menelisik wajah Meili dan Rian bergantian. "Jika kalian bersaudara kenapa tidak mirip?" Terlihat wajah Rian dan Meili yang memang sama sekali tidak mirip. "Kamu jangan bohong, dosa! Masih muda suka bohong."


Mata Meili mendelik mendengar itu.


"Memangnya kalau saudara harus mirip?" sahut Meili yang mulai kesal dengan wanita itu. "Apa ibu mau minta kejelasan dengan bidan yang membantu Mama saya lahiran dulu?"


Wanita itu terdiam.

__ADS_1


Meili kemudian menarik tangan Rian untuk beranjak dari duduknya. "Kak, ayo pergi. Tempat ini sepertinya angker, aku takut benar yang di katakan orang jaman dulu. Jika hanya berdua di tempat sepi. Yang ketiganya setan."


Setelah mengatakan itu, Meili memaksa Rian untuk segera menghidupkan motornya. Dan pergi dari sana, meninggalkan wanita tua yang sekarang sedang kesal. Karena ia merasa jika ucapan Meili ia tujukan padanya.


Di jalan, Meili akhirnya meminta Rian untuk mengantarkannya pulang saja.


"Terima kasih ya," Meili turun dari motor Rian.


"Hm," Rian menganggukkan kepalanya.


"Ya udah pulang sana!" ujar Meili. Membuat mata Rian mendelik ke arahnya.


Biasanya orang akan berbasa-basi untuk menawarinya mampir, namun Meili justru mengusirnya.


"Ya udah aku masuk." Meili yang benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Ya ampun gadis itu!" Rian hanya bisa menggelengkan kepalanya.


*


*


Malam hari, Meili sudah menyiapkan diri. Tentu saja untuk ritualnya di setiap tahun, kemarahan dari sang papa karena nilai raport nya yang jelek.


Meili mengerutkan keningnya di saat bibi pekerjaan rumahnya, membawa koper yang ia ketahui milik papanya.


"Untuk apa bi?" tanya Meili di saat bibi menaruh koper itu di ruang tamu.


"Bapak katanya mau ke luar kota Non, tadi sudah menelpon di suruh siapin bajunya." ujar bibi. "Saya permisi kalau begitu."


Setelah kepergian bibi, kini Meili hanya sendirian di ruang tamu.


Benar saja, di luar rumah terdengar suara deru mobil. Kemungkinan itu adalah mobil Irfan yang baru pulang dari kantor.


Sungguh dunia Irfan hanyalah tentang pekerjaan.


"Pa," sapa Meili begitu papanya masuk ke dalam rumah.


"Kamu belum tidur?" Melihat putrinya yang masih terjaga di tengah malam.


Meili menggelengkan kepalanya. "Belum."


"Papa mau keluar kota?" tanya Meili kemudian.

__ADS_1


Irfan yang berjalan menuju kopernya kemudian menoleh ke arah Meili. "Iya, ada urusan pekerjaan mendadak."


Meili menggigit bibirnya ketika melihat papanya sudah akan pergi kembali, entah senang atau apa yang ia rasakan.


Hingga saat Irfan di ambang pintu, ia tiba-tiba berhenti. Ia menatap ke arah putrinya. "Papa sudah tau nilai raport mu Meili."


Deg.


Tenggorokan Meili tiba-tiba terasa tercekat.


"Papa tidak tau harus bagaimana lagi denganmu, kenapa kamu sama sekali tidak ada perubahan. Apa kamu senang jika membuat malu Papa di depan guru-guru," kata Irfan.


Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Meili, sekuat tenaga ia membuat benteng di hatinya agar tidak merasakan sakit oleh ucapan papanya.


Bukankah ini sering terjadi!


Dan seperti sebelumnya, ia selalu gagal. Ucapan papanya selalu berhasil melukai hatinya.


Hanya ada helaan nafas kasar dari mulut Irfan, setelah itu ia pergi dari sana.


Air mata Meili keluar begitu saja tanpa mampu ia cegah.


"Kenapa rasanya seperti ini!" Meili memukul dadanya yang mulai terasa sesak.


Ia beberapa kali mencoba membuang nafasnya kasar, tapi dadanya masih saja terasa sesak.


Tanpa pikir panjang, Meili langsung berlari di mana mobilnya berada.


"Non mau kemana?" teriak satpam yang berjaga. Tadi ia belum sempat menutup pintu gerbang setelah Irfan pergi, kini bergantian Nonanya yang pergi.


Meili tidak memperdulikan teriakan satpam rumahnya, karena sekarang pikirannya sungguh kacau.


Di dalam mobil, hanya terdengar isakan yang menyayat hati.


Hatinya benar-benar merasakan sakit.


Meili mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, entah ia akan kemana. Mobilnya terus melaju membela dinginnya malam, suasana yang sepi tanpa sadar membuat Meili semakin memacu kecepatan mobilnya.


Hingga tanpa di sadari, seseorang sedang mengikuti mobilnya.


...----------------...


...Yang sabar ya Meili 😭...

__ADS_1


__ADS_2