Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Biar Kuat


__ADS_3

"Anak-anak tumben belum bangun?" Anita hanya melihat suaminya di meja makan.


"Mungkin mereka sebentar lagi turun Ma." sahut Raja.


"Ya sudah, Mama mau panggil mereka dulu." Anita yang kemudian berlalu dari sana.


Ketika sampai di depan kamar putranya, ia melihat pintu kamar yang tidak tertutup dengan rapat.


"Loh, mereka sudah bangun." Kata Anita, karena tidak mungkin pintu kamar di buka oleh orang lain jika bukan pemiliknya. "Tapi tumben Raka nggak minta tolong buat bantu Meili," herannya.


Karena biasanya ia membantu Meili setelah mandi.


"Apa sekarang Raka sudah berani ya?" Anita dengan pemikirannya sendiri, dan ia terkikik setelahnya.


"Saya--" Anita terkejut melihat apa yang terjadi di dalam kamar, dan segera ia menutup pintu kamar Raka. Namun ia masih berdiri di depan pintu. "Ya ampun mereka proses membuat cucu."


Padahal tadi ia pikir hanya ada Meili di dalam kamar, dan mengira putranya sedang berolah raga.


Di detik berikutnya, Anita justru membuka pintu kamar itu kembali. "Sayang, bagaimana kalau kalian melakukannya di ranjang saja agar tidak kedinginan!"


Setelah mengatakan itu, Anita kembali menutup pintu dan pergi dari sana dengan hati yang riang.


Di dalam kamar, Raka dan Meili masih dalam posisi yang sama. Mereka masih terkejut dengan apa yang baru terjadi.


"Kak, Mama!" Meili rasanya merasakan malu hingga ke ubun-ubun.


Untuk kesekian kalinya kedekatan mereka terpergok orang lain, bedanya jika dulu adalah sahabatnya namun kini adalah orang tua mereka.


Raka hanya terdiam sembari memperhatikan raut wajah istrinya yang terlihat panik, tapi dia jadi semakin cantik.


"Kak bagaimana?" Meili yang awalnya tadi merasa malu karena mencium suaminya terlebih dahulu, sekarang justru lebih malu karena kepergok oleh ibu mertuanya.


Meili lalu melihat ke arah Raka yang ternyata sedang menatapnya lekat. "Ka-kakak kenapa?" Tiba-tiba ia merasa gugup melihat suaminya seperti itu.

__ADS_1


"Mungkin Mama benar," kata Raka.


Kening Meili berkerut karena tidak tidak mengerti. "Apanya?"


Tanpa banyak bicara, Raka kemudian bangit dan menggendong Meili untuk ia pindahkan di atas ranjang. Ia lalu berjalan ke arah pintu hingga terdengar suara kunci yang terputar beberapa kali.


Raka kembali mendekati istrinya. "Mungkin Mama benar, agar kita tidak kedinginan jika melakukannya di lantai." Membuat mata istrinya melebar seketika.


"Tapi kak--" Meili ingin menghentikan suaminya yang kembali ingin menyerangnya, namun ia kalah cepat.


Raka sudah lebih dulu melakukan apa yang ia inginkan, ia rasanya merasa candu dengan kegiatan barunya. Rasanya ia takkan pernah puas jika hanya melakukannya sebentar.


Rasanya benar-benar manis, apalagi bibir istrinya terasa begitu lembut ketika dia menyesapnya.


*


*


Setelah kejadian pagi tadi, membuat keduanya semakin dekat. Seperti Raka yang mulai berani menyiapkan pakaian untuk istrinya, meskipun Meili masih memakainya sendiri.


Meskipun tadi pagi di dalam kamar hawanya sempat memanas, tapi Raka bisa mengontrol dirinya agar tidak meminta hak nya. Ia mencoba menyadari keadaan istrinya yang masih belum sembuh sepenuhnya.


Mereka kemudian menuju meja makan untuk sarapan yang terlambat, dan di sana sudah tidak ada siapa-siapa.


"Mau makan apa?" Raka sudah mengambil piring dan bersiap untuk mengisinya. Berbagai macam lauk dan sayur ada di atas meja.


"Uhm..." Meili mencoba melihat apa saja yang tersaji di atas meja. "Udang asam manis juga boleh, sama tumis brokoli."


Raka mengambilkan apa yang di inginkan Meili. "Sambal boleh?" pinta nya.


"No!" yang jelas di larang Raka.


Membuat Meili mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Semenjak kecelakaan dan mulai tinggal dengan Raka, suaminya itu memang melarangnya memakan sambal di pagi hari dengan alasan nanti sakit perut. Apalagi Raka masih ingat apa yang di alami Meili gara-gara sambal waktu itu.


Meili boleh makan sambal asal tidak di pagi hari dan itupun tidak boleh terlalu banyak.


"Ini," Raka memberikan piring yang sudah terisi seperti apa yang Meili mau.


"Terima kasih," sahut Meili sembari menerimanya.


"Mama dan Papa nggak kelihatan?" Meili tidak melihat keberadaan mertuanya, padahal ia hanya memastikan jika mereka benar-benar tidak berada di sana. Ia tidak tau bagaimana jadinya jika bertemu dengan Anita.


"Mungkin sedang keluar, inikan akhir pekan." Raka menjawab dan ia bersiap untuk memakan sarapannya.


"Oh..." Meili menanggapi.


Meili akhirnya sedikit lega, Mudah-mudahan yang di katakan suaminya itu benar adanya.


Baru akan memasukkan suapan pertamanya, Meili di buat terkejut dengan kedatangan Anita yang entah dari mana.


"Sayang," Anita menghampiri menantunya yang terlihat kikuk. "Makan yang banyak, biar kuat." imbuhnya.


Meili rasanya ingin sekali pergi dan bersembunyi di dalam kamar. Apalagi melihat ibu mertuanya yang tersenyum penuh arti.


Tentu saja Anita mengulum senyum, setelah mengingat kejadian tadi pagi dan sekarang melihat bibir menantunya sedikit membengkak.


Anita kemudian menoleh ke arah putranya yang menatapnya jengah. "Raka mainnya jangan kasar-kasar, slow aja kayak di pantai."


Anita lalu pergi dari sana dengan tawanya yang menggelegar.


"Astaga!" Meili yang frustasi


...----------------...


...Biar kuat apa ni Ma, maklum masih polos 🤭...

__ADS_1


__ADS_2