
Beberapa hari berlalu.
Meili sudah beraktifitas kembali seperti biasanya, ia juga sudah kembali pulang ke rumah nenek Mariam.
Di kampus, berita tentang dirinya lambat laut perlahan menghilang dengan sendirinya. Meskipun begitu, masih saja ada yang menatapnya tidak suka.
Pagi ini jadwal kuliahnya sama dengan Raka, hingga mereka memutuskan untuk berangkat bersama.
Sebelum turun dari mobil, Lagi-lagi Raka menanyakan hal yang sama. "Beneran nggak mau cari pelakunya?" Ia sudah menawarkan untuk melacak orang yang sudah menyebarkan berita, tetapi kekasihnya itu menolaknya. Dengan alasan yang sama, jika ia mengetahui pasti akan muncul sakit hati dalam dirinya.
Meili menggelengkan kepala. "Nggak usah Kak, mungkin dengan begini mereka nggak akan membuat berita seperti itu lagi." ia tetap berfikir positif.
Raka menghembuskan nafasnya pelan. "Baiklah," ia akhirnya mengalah. Namun ia tetap akan mencari tahu tanpa sepengetahuan Meili.
*
*
Rian yang akan pergi ke toilet, tidak sengaja mendengar seseorang menyebut nama Meili.
Langkahnya tentu saja seketika berhenti, ternyata suara itu dari dalam toilet wanita yang ia lewati.
Suasana di sekitar sana begitu sepi, karena jam kuliah yang sedang berlangsung.
Rian akhirnya berjalan lebih dekat untuk mendengar lebih jelas, siapa tau ia mendapatkan suatu informasi tentang berita kemarin.
Di dalam toilet terlihat dua perempuan yang sedang memperdebatkan sesuatu.
"Mila kelihatannya rencana kita gagal," Rosi yang melihat keadaan Meili baik-baik saja.
Iya, yang menyebarkan berita itu adalah Rosi dan Mila. Mereka berbuat seperti itu agar Meili tertekan dan merasa tidak pantas bersama Raka.
Meskipun awalnya Rosi tidak setuju dengan rencana Mila, tapi demi mendapatkan seseorang yang ia cintai hingga membuatnya rela melakukan apapun. Yaitu menyakiti hati perempuan lain.
"Gue juga heran, kenapa tiba-tiba bisa hilang ya berita yang kita buat?" Mila masih tidak habis pikir. "Apa ada orang lain di belakang tuh cewek?"
"Maksud lo?"
"Yang ngelindungin dia, karena nggak mungkin berita itu tiba-tiba menghilang. Bahkan semua berita yang kita sebar hilang begitu saja dalam waktu bersamaan."
Mereka kemudian terdiam.
Hingga mereka tersentak kaget ketika Rian datang tiba-tiba menghampiri.
__ADS_1
"Jadi kalian berdua pelakunya?" Terlihat Rian yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Kedua perempuan itu bisa melakukan hal seperti itu.
Mulut Rosi dan Mila rasanya terkunci rapat.
"JAWAB!" sentak Rian.
"Maksud lo apaan sih!" Mila mencoba mengelak.
"Halah, gue denger semuanya!" kata Rian.
"Lo punya bukti?" Mila yang justru balik bertanya.
Melihat Rian hanya bisa terdiam, membuat Mila tersenyum miring. "Kenapa diam? Nggak punya kan!"
Setelah mengatakan itu, Mila menarik Rosi pergi dari sana.
*
*
Malam harinya, Raka begitu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia temukan. Entah bagaimana caranya Raka baru mengetahui jika dalang di balik semuanya adalah Rosi, tetangga apartemennya.
Tanpa pikir panjang, ia lalu keluar dari unitnya. Tujuannya sudah jelas menuju ke unit Rosi, tapi baru saja ia keluar ternyata Rosi dan Mila juga sedang berada di luar, sepertinya baru saja sampai.
Tapi tidak dengan Raka, ia yang biasanya terlihat datar kini pandangannya begitu tajam menatap Rosi dan Mila.
"A-ada apa?" Rosi menyadari keanehan pada Raka.
"Kenapa lo lakuin ini semua?" tanpa basa basi Raka langsung bertanya.
"Maksud lo apaan? Gue nggak ngerti!" Tampilan tenang dalam diri Rosi nyatanya berbanding terlaik dengan apa yang dia rasakan. Ia bisa menebak jika Raka sudah mengetahuinya, dan pasti Rian yang memberitahunya.
Raka tersenyum miring. "Gue nggak tau apa yang buat lo bisa ngelakuin ini, tapi yang pasti setelah ini lo nggak akan bisa nyakitin Meili lagi. Karena gue akan jadi orang pertama yang akan beri perhitungan sama lo!"
Raka tidak peduli jika ia sedang berhadapan dengan perempuan, karena apa yang di buat Rosi sudah merupakan salah satu tindakan kriminal pencemaran nama baik.
"Hei, lo itu nggak sopan banget bicara dengan perempuan!" Mila menyela.
"Perempuan?" Raka membeo. "Perempuan seperti apa yang bisa menyakiti hati perempuan lain!"
"Asal lo tau, Rosi ngelakuin ini semua karena dia cinta sama lo!" Mila tidak terima karena terus di sudutkan oleh Raka, dan tanpa sadar secara tidak langsung mengakui perbuatan mereka.
"Jadi kalian mengakuinya?" ujar Raka. Ia lalu menatap ke arah Rosi yang kini membeku. "Sorry di hati gue cuma ada Meili."
__ADS_1
Jahat?
Mungkin hanya itu yang bisa di katakan oleh Raka, ia tidak pandai bermulut manis seperti sahabatnya.
Ia akan beranjak dari sana, Raka merasa sudah cukup tidak ada lagi yang harus di bicarakan. Matanya ternyata menangkan keberadaan seseorang.
Dan ternyata Meili sudah berdiri di sana, tidak ada raut wajah marah. Ia berjalan ke arah kekasihnya. "Kak!"
Meili bahkan masih bisa tersenyum ke arah Raka. Matanya kemudian beralih pada Mila dan Rosi yang menatapnya penuh kebencian.
"Ayo kita masuk saja!" ajak Raka.
"Kenapa gue nggak bisa?"
Belum juga Raka dan Meili beranjak, mereka harus mendengarkan pertanyaan Rosi yang jelas-jelas sebenarnya sudah tau jawabannya.
Raka sebenarnya tidak ingin meladeni Rosi dan Mila dan mengajak Meili untuk kembali saja ke unitnya, tapi ternyata Meili memilih untuk tetap berada di sana.
Meili menghembuskan nafasnya perlahan, agar dirinya tidak terpancing emosi. "Kak, masih banyak lelaki di luaran sana yang masih belum mempunyai kekasih." tutur Meili dengan tenang. "Jadi kakak tidak perlu melakukan berbagai cara untuk mengambil milik orang lain."
Raka hanya diam membiarkan Meili berbicara.
"Apa kakak tidak laku? Padahal kakak cantik. Apa kakak terlalu murah!" kali ini terlihat kilatan amarah dalam mata Meili.
"Jaga ya mulut lo!" Mila rasanya sudah ingin sekali menampar mulut Meili. Tetapi Meili masih terlihat masih bisa mengontrol emosinya.
"Dan ingat! Jangan pernah mencampuri urusan orang lain. Meskipun aku sudah tidur dengan kak Raka bahkan aku sedang hamil pun itu bukan urusan kakak." Meili berbicara dengan lantang.
Bahkan Raka tidak menyangka jika kekasihnya bisa seberani itu.
Tapi itu semua membuat sepasang paruh baya yang baru tiba begitu terkejut. "Cucu!" katanya.
Hingga para anak muda yang berada di sana seketika menoleh ke arah sumber suara.
...----------------...
...Hei gengs, mau curhat dikit ya. ...
...Kemarin ada yang komen katanya cerita Meili ini nggak nyambung. Aku bingung, nggak nyambungnya dari segi mananya. ...
...Ya maaf saja kalau cerita yang aku buat bukan selera untuk yang komen begitu. ...
...Jadi intinya, ya begitulah ๐ . Mungkin kakak yang juga punya karya juga tau rasanya gimana kalau ada yang bilang gitu๐. Sekian dan Terima kasih ๐คญ...
__ADS_1