
Di dalam kamar, Irfan memandang foto Meili yang masih kecil. Mungkin waktu itu Meili baru bisa berjalan.
Pipi tembem dan rambut nya yang tidak terlalu panjang membuat Meili kecil begitu menggemaskan.
"Tidak terasa kamu sudah akan menikah," Irfan bergumam. Berkali-kali ia menghembuskan nafasnya kasar. "Maafkan Papa yang tidak bisa memberikanmu kebahagian selama ini, dan Papa juga yang membuat kamu harus kehilangan kasih sayang seorang ibu."
Sungguh dadanya semakin lama rasanya semakin sesak. Air matanya bahkan sudah menggenang dan siap jatuh saat dia berkedip.
"Mungkin dengan Papa merestui hubungan kalian, rasa bersalah Papa akan sedikit berkurang. Karena Papa sudah memberikanmu pada orang yang tepat."
Sejujurnya Irfan tadi hanya menguji Raka saat ia bertanya tentang pekerjaan, ia hanya ingin melihat sebesar apa rasa tanggung jawabnya kepada sang putri.
Dan ternyata Raka mampu untuk menyakinkan nya.
Lagi-lagi Irfan membuang nafasnya kasar. "Setelah ini, pasti kamu akan bahagia bersama suami mu. Dan itu artinya Papa harus kehilangan putri Papa."
Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tak mampu lagi ia bendung. "Maafkan Papa sayang, maaf."
Ia begitu menyesali dengan apa yang sudah ia lakukan, membuang waktu kebersamaan dengan putrinya hanya demi pekerjaan. Hingga ia tidak menyadari jika kini Meili telah dewasa dan akan menikah.
Jika saja waktu dapat di putar, tentu ia akan menukar segalanya agar bisa bersama putrinya.
*
*
"Kenapa Kak Raka harus berbohong sama Papa soal pekerjaan! Nanti kalau Papa tau bagaimana!" Meili tak habis pikir jika Raka akan berbohong.
Raka yang sedang mengemudikan mobilnya menatap sekilas ke arah Meili dengan bibir membentuk senyuman. "Siapa yang bohong?"
"Itu tadi Kak Raka, soal pekerjaan." Rasanya Meili gemas sekali dengan kekasihnya itu. Lihatlah dia masih tetap santai saja.
Dan sekarang justru Raka malah tersenyum.
"Menyebalkan."
*
*
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Sore ini Meili terlihat sudah berada di rumah rumah mewah papanya. Ia berada di sana sejak tadi pagi.
Hari ini keluarga Raka akan berkunjung ke rumah Irfan untuk membicarakan rencana pernikahan mereka.
Meskipun ini bukan pertemuan yang pertama, namun ia masih saja merasakan gugup. Ia juga bersyukur ternyata Papa nya dan orang tua Raka dapat berhubungan baik. Apalagi Raja dan Irfan yang sama-sama pembisnis membuat semuanya semakin mudah.
Raka dan Meili sepakat untuk langsung menggelar acara pernikahan, sehingga tidak ada acara untuk bertunangan. Dan itupun sudah di setujui oleh kedua keluarga.
Malam harinya, Meili sudah terlihat cantik dengan riasan tipis menghiasi wajahnya.
Hubungan nya dengan sang Papa juga perlahan membaik, meski masih ada jarak di antara mereka.
Tok.
Tok.
Tok.
"Non, tamunya sudah datang!" Bibi memberitahu dari luar kamar.
"Iya," sahut Meili.
Lihatlah, kekasihnya sekarang pun terlihat begitu tampan dan mempesona. Hingga ia kesulitan untuk mengalihkan pandangannya.
Ketika pembahasan itu terjadi, rupanya kedua anak manusia itu sibuk sendiri dengan mencuri curi pandang. Keduanya menahan senyum ketika mata mereka terkunci dalam pandangan yang sama.
Bahkan pembahasan penting yang nantinya juga untuk mereka rasanya tidak mampu mengalihkan perhatian mereka. Mereka sudah menyerahkan semuanya kepada orang tua, sehingga mereka hanya menyetujui saja.
"Sayang bagaimana?" Anita yang membuyarkan lamunan Raka. Begitupun Meili yang seketika mengalihkan pandangannya.
"A-appa!" Raka tidak mengerti.
Anita mendengus mendengar itu. "Kamu ini, sedari tadi tidak mendengarkan." omelnya. "Calon istrimu cuma duduk di sana kenapa kamu awasi."
Ucapan Anita langsung membuat pipi Meili merona, sehingga ia hanya bisa menundukkan pandangannya.
Raka berdecak melihat kelakuan mamanya.
__ADS_1
"Rencananya, pernikahan kalian akan di langsungkan dua minggu lagi. Bagaimana menurut kalian?" Raja memberitahu.
"Terserah kalian bagaimana baiknya." jawab Raka.
"Ya sudah kalau begitu, berati kita akan melangsungkan pernikahan dua minggu lagi." ujar Irfan.
Setelah pembahasan itu selesai, keluarga Raka akhirnya berpamitan untuk pulang. Karena mereka juga akan menyiapkan segala hal untuk acara pernikahan yang terbilang cukup mendadak.
*
*
Kini tinggallah ayah dan anak yang tinggal di ruang tamu itu.
"Pulanglah," ujar Irfan sembari mantap ke arah putrinya.
Meili menatap mata papanya yang terlihat penuh penyesalan.
"Maafkan Papa, jika selama ini selalu menyakiti hati kamu." ucap Irfan. Bahkan kini ia menatap putrinya dengan sendu.
Sedangkan Meili, semarah-marahnya ia. Ia tetap menganggap Irfan sebagai Papa terhebat, dan cinta pertama dalam hidupnya.
Karena setelah kehilangan sosok Mama, hanya Irfan lah yang ia punya.
"Pulanglah, Papa ingin menjalankan kewajiban Papa yang sebentar lagi akan berakhir. Karena sebentar lagi, tanggung jawab Papa akan di ambil alih oleh suamimu." jelang Irfan kembali.
Perkataan itu, seakan seperti sayatan bagi hati Meili. Selama ini ia tidak tau jika Papa nya juga menderita seperti dirinya.
Bukankah seseorang berhak mendapatkan kesempatan kedua, dan Papa nya juga berhak mendapatkan kesempatan itu.
Tanpa pikir panjang, Meili berhambur memeluk Irfan. Menyalurkan rasa rindu yang selama ini ia pendam. "Meili juga minta maaf Pa, maaf selama ini juga belum bisa menjadi putri yang Papa inginkan." Suaranya bergetar begitu saja. Rasa kecewa dan luka yang dulu ia rasakan kini rasanya lenyap begitu saja.
Irfan pun juga menyambut pelukan putrinya, pelukan yang sudah lama tidak ia rasakan. "Papa juga minta maaf, karena Papa sudah gagal menjadi orang tua."
Meili menggelengkan kepalanya. "Papa adalah Papa yang terbaik buat Meili."
Meskipun air mata kini mengalir menghiasi wajah Meili, tapi ia merasakan kebahagiaan yang begitu besar.
Mulai dari rencana pernikahannya yang berjalan lancar, hingga kini hubungan dengan sang Papa membaik.
__ADS_1
...----------------...
...Bentar lagi ada yang nyebar undangan ini, jangan lupa datang ya ðŸ¤...