
Setelah hari sudah larut malam, Jessy dan Nathan memutuskan untuk pulang. Karena baby Al yang sudah tertidur dari tadi di gendongan ayahnya.
Kemudian Raka juga menyuruh Meili untuk istirahat, ia tau jika istrinya itu juga lelah.
Raka lalu menggendongnya, karena kamar mereka berada di lantai dua.
"Mulai besok saja kamar kita pindah di lantai satu," Raka berbicara sembari menggendong Meili.
"Hmm... !" sahut Meili.
Ia merasakan dadanya berdebar. Apalagi mendengar ucapan Raka tentang 'kamar kita' itu rasanya seperti mimpi.
Hingga tidak lama, Raka berhenti di depan kamarnya. "Tolong bukakan pintunya."
"Ha... !" Meili yang rupanya sedang melamun.
"Buka pintu kamarnya, aku tidak bisa membukanya."
"Oh, iya." Yang kemudian Meili buka.
Awal masuk Meili sudah bisa merasakan wangi parfum yang biasa di gunakan oleh suaminya, dan rasanya ia akan nyaman di tempat baru nya.
Perlahan Raka membaringkan Meili, di ranjang yang biasa ia tempati untuk tidur sendiri. Namun sekarang sudah ada istri yang akan selalu menemaninya.
"Sayang, sebelum tidur minum dulu obatnya." Anita datang dangan segelas air putih dan obat untuk menantunya.
Meili segera meminumnya, ia sebenarnya sedikit tidak enak kepada ibu mertuanya. Baru juga ia menjadi menantunya tapi ia sudah merepotkan.
"Terima kasih Ma, Meili jadi merepotkan." Ia mengembalikan gelas yang sudah kosong kepada Anita.
"Tidak ada yang merepotkan, kamu juga sudah menjadi putri Mama. Dan tugas Mama memang merawat anaknya jika sakit." Tersirat ketulusan di mata Anita. Ia memang benar-benar menyayangi Meili apapun keadaannya.
Raka melihat itu, merasa jika dunianya bertambah sempurna.
"Ya sudah, kamu tidur dulu. Sudah malam," ujar Anita sebelum ia beranjak dari sana.
Sedangkan Raka sendiri merapikan selimut untuk istrinya. "Aku tinggal sebentar tidak apa-apa? Reza dan Ariel masih ada di bawah."
"Iya, tidak apa-apa." Sembari tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah kamu tidur dulu." Raka meninggalkan kecupan di kening Meili sebelum keluar dari kamar.
Membuat lagi-lagi Meili tak percaya, suaminya memang benar berubah. Dia semakin perhatian tanpa di minta, dan itu membuatnya semakin bahagia.
*
*
Di dalam tidurnya, Samar-samar Meili mendengar seseorang yang sedang berbicara. Hingga perlahan ia kembali dalam kesadarannya, dan dalam pandangan yang masih sedikit buram ia melihat rupanya suaminya yang sedang berbicara lewat sambungan telepon.
"Iya tidak apa-apa, baiklah kalau begitu." Raka mengakhiri panggilan teleponnya. Saat akan merebahkan tubuhnya, ia melihat istrinya sudah dalam keadaan terbangun.
"Apa aku mengganggu tidur mu?"
Meili menggeleng. "Tidak, hanya saja aku terbangun karena haus."
Raka langsung mengambil air minum yang berada di meja kecil tepat di samping ranjangnya, lalu membantu Meili untuk meminumnya.
"Sesudah Kak, Terima kasih."
"Sekarang tidurlah lagi," Raka juga merebahkan tubuhnya.
"Hm... !"
Tadi ia bisa tertidur karena tidak ada Raka di samping nya, dan kini suaminya itu berbaring tepat di sampingnya. Bahkan hanya berjarak beberapa jengkal saja, tentu ini terasa aneh baginya.
Hal yang sama juga di rasakan oleh Raka, memiliki teman tidur rupanya membuatnya canggung.
"Kamu tidak bisa tidur?" Raka menoleh pada istrinya. "Mau aku buatkan susu hangat?" tawarnya.
Tapi Meili menggeleng. "Tidak usah, Terima kasih."
"Ehmm, sebenarnya aku tidak bisa tidur karena masih menyesuaikan diri saja." ujar Meili.
Raka menatap wajah istrinya yang tidak menoleh padanya.
"Tidur dengan Kakak merupakan hal baru, jadi rasanya masih belum terbiasa." imbuh Meili. Ia kemudian menoleh kepada Raka dan tersenyum. "Apa kakak juga?"
Raka tersenyum tipis. "Tentu, aku juga merasakan hal sama." Ia lalu meletakkan tangannya pada dadanya. "Dan di sini berdebar begitu cepat."
__ADS_1
Pipi Meili bersemu merah di buatnya.
"Kalau begitu mari kita coba belajar biasakan mulai sekarang," Raka lebih mendekat ke arah istrinya. Dan menautkan tangan mereka. Jika saja keadaan Meili memungkinkan ia akan membawa Meili dalam pelukannya.
Ya ampun, jika begini malah nggak bisa tidur.
Benar saja, hingga beberapa saat berlalu Meili masih saja tidak bisa tidur. Padahal ia melihat suaminya perlahan mulai memejamkan mata.
"Kak!" Panggil Meili. Membuat suaminya itu gagal untuk tidur.
"Hmm!"
"Kakak tadi telepon dengan siapa malam-malam?"
Raka seketika menoleh pada Meili. "Kamu mendengarnya?"
Meili tersenyum kaku kemudian mengangguk. "Hanya sedikit."
"Itu bang Dika."
"Bang Dika!" Meili baru sadar jika ia sama sekali belum bertemu dengan kakak iparnya hingga sekarang. "Oh ya ampun aku lupa, jika sampai sekarang belum bertemu. Kak Dika nggak pulang kemarin?"
"Tidak, tapi seharusnya ia pulang selang beberapa hari kita menikah. Namun karena ada kejadian itu bang Dika tidak jadi pulang. Papa kan masih di sini, jadi bang Dika yang urus perusahaan di sana."
Dika memang sudah mulai terjun dalam perusahaan keluarga mereka, karena kejadian kecelakaan itu Raja menunda kembali ke sana karena membantu mengurus perusahaan Irfan. Jadi mau tidak mau Dika harus tetap berada di sana.
"Maaf," Meili merasa tidak enak.
Raka mengusap pipi Meili. "Tidak ada yang perlu di maafkan, karena itu semua musibah."
Hingga saat ini semua orang masih tidak memberitahu Meili tentang penyebab kecelakaan nya, hingga Meili masih menganggapnya sebuah kecelakaan biasa.
"Mungkin beberapa minggu lagi bang Dika pulang, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Dan dia juga menyampaikan salam buat kamu," jelasnya Raka.
"Wa'alaikum salam," jawab Meili sembari tersenyum.
"Ya sudah, sekarang kita tidur. Kamu juga tidak boleh tidur malam-malam seharusnya."
"Baiklah."
__ADS_1
...----------------...
Selamat hari raya idul adha gengs, bagi yang merayakan 🙏