
Setelah hari pernikahan sudah di tentukan, semuannya semakin sibuk mempersiapkan pernikahan itu. Meskipun sudah ada WO yang menangani, tapi tetap saja masih ada hal-hal kecil yang harus mereka tangani sendiri.
Sedangkan kedua calon pengantin itu sudah jarang saling bertemu, bukan karena pingitan. Melainkan jadwal kuliah yang mulai semakin padat mendekati ujian semester.
Seperti permintaan Irfan sebelumnya, Meili akhirnya kembali untuk tinggal di rumahnya. Dan setelah menikah, ia masih belum memutuskan akan tinggal di mana.
Bukan hanya dirinya yang kembali ke rumah, bahkan Meili juga memboyong Siti untuk ikut bersamanya.
Dan rumah Mariam, Meili menyuruh pegawai rumah makannya untuk menempati.
*
*
"Pa, Meili ke rumah Jessy dulu!" Sesudah makan malam Meili berniat untuk memberikan undangan pernikahannya secara langsung. Sekalian juga untuk menengok baby Al.
Kebetulan hari ini udangan pernikahannya sudah selesai di cetak, ia hanya mengambil beberapa untuk ia berikan langsung dan sisanya ia akan menyuruh seseorang untuk mengirimkannya.
"Di antar supir?"
"Iya."
__ADS_1
"Ya udah, nanti pulangnya jangan malam-malam."
"Ok."
Sejak putrinya sudah pulang ke rumah, Irfan sudah tidak lagi gila kerja seperti dulu. Ia ingin benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan putrinya.
Di perjalanan, meili menyempatkan untuk membeli sesuatu yang nantinya akan ia berikan pada baby Al.
Hingga tidak lama, ia sampai di kediaman Nathan.
"Tunggu sebentar Non, saya panggilkan dulu." Setelah bibi mempersilahkan Meili masuk, dan akan memanggilkan Jessy.
Benar saja, terlihat Jessy keluar dari kamar dengan menggendong putranya. "Sendirian lo?" Jessy pikir Meili datang bersama Raka. Ia kemudian duduk di sampingnya.
"Yeee... calon manten baper amat." sahut Jessy.
Meili kemudian mengambil undangan dari dalam tasnya. "Ini," ia memberikannya kepada Jessy. Lalu memberikan oleh-oleh yang tadi ia beli. "Ini untuk si ganteng," katanya.
Meili melihat bayi tampan itu yang hampir terlelap.
"Ya ampun, jadi ngerepoti." Jessy mengintip dalam paperbag ternyata beberapa pasang baju untuk Al. "Tapi kalau bisa yang lebih banyak lagi, biar gue nggak perlu beli." ujarnya di susul dengan tawa renyah.
__ADS_1
"Dasar tukang irit," Meili mencibir. Tapi Jessy justru semakin tertawa.
Sejak Meili membelikan baju untuk Al waktu itu, ia jadi senang dengan keperluan bayi. Terutama baju yang menurutnya lucu.
"Oh ya Kak Nathan di mana? Kok nggak keliatan." Meili bertanya.
"Sedang mengantar Mami sama Papi ke Bogor mulai pagi tadi, Mamang yang biasanya antar sedang sakit." jelas Jessy.
Meili sebenarnya merasa legah jika Nathan tidak berada di rumah, karena jika melihatnya ia pasti terbayang-bayang dengan kejadian itu. "Ohh.."
"Meili, lo nikah dadakan emang udah tau caranya malam pertama?" Entah kenapa Jessy tiba-tiba mempunyai pertanyaan konyol.
Meili bukannya menjawab, justru ia salah tingkah di buatnya. "Apaan sih, ada-ada aja yang di tanyain."
"Seriusan, Lo udah tau apa belum?"
"Jessy!" Meili rasanya enggan untuk membahasnya, karena itu terasa aneh. Lihatlah bahkan pipinya sudah merona.
Jessy mengedarkan pandangannya ke sekitar, takut jika ada bibi yang lewat. Lalu ia lebih mendekat pada Meili. "Mumpung masih kurang satu minggu, kalau lo mau tanya-tanya gue jawab. Gimana cara dan rasanya malam pertama."
"Astaga!!" Meili tak habis pikir jika sahabatnya itu semakin konslet sejak punya anak.
__ADS_1
...----------------...
...Hayo semakin dekat nih sama hari H, jangan lupa bawa seserahan ya yang mau ikut kenikahan Meili sama Raka 😁...