
Di saat makan malam bersama berlangsung, Meili merasakan keadaan yang aneh di sana. Mata mereka sesekali mencuri pandang ke arahnya, dan senyum yang seakan penuh makna.
Di meja makan yang terlihat normal Papa Raja, Dika, Nathan juga suaminya. Selebihnya semua orang terasa aneh.
"Kak!" Meili mendekat ke arah Raka yang duduk di sampingnya.
Raka lalu menjeda kegiatan makan nya.
"Kakak ngerasa nggak, jika ada yang aneh sama semua orang?" Meili bertanya dengan suara lirih.
Alis Raka saling bertautan, bukannya ia tidak mengerti. Hanya saja sedari tadi ia tidak memperdulikan sikap orang-orang. "Benarkah?"
"Iya."
"Aku tidak memperhatikannya."
"Ish... kakak!"
"Karena yang aku ingat cuma janji kamu di mobil tadi."
"Janji! Janji apa?" Meili merasa tidak menjanjikan apapun.
"Nanti malam dua ronde."
Mata Meili membulat. "KAKAK!!!" teriaknya, membuat semua orang menatapnya.
"Sayang kenapa?" tanya Anita.
"Kenapa sih Meili?" Jessy ikut bertanya.
"Hah?" Meili baru menyadari kelakuannya, ia hanya tersenyum kaku. "Tidak apa-apa."
Di saat makan bersama sudah selesai, Anita menahan semua orang agar tidak beranjak dulu dari meja makan.
"Terima kasih untuk semuanya yang sudah datang," Anita memulainya. "Makan bersama ini di adakan untuk meresmikan pembukaan pabrik cucu Mama," Anita tertawa setelahnya.
Ia merasa senang, bahagia, dan konyol dengan idenya sendiri.
Lagi-lagi mata Meili membulat sempurna, ya ampun... rasanya ia ingin sekali cepat lari ke dalam kamar dan bersembunyi di bawah selimut.
__ADS_1
Pemberitahuan yang di sampaikan Anita membuat gelak tawa Ariel, Reza juga Jessy. Mereka rasanya bisa melepas tawanya yang sejak tadi di tahannya.
Mereka sendiri awalnya terkejut mendapat undangan makan dari Anita secara tiba-tiba, namun yang membuat mereka lebih terkejut karena tujuan acara tersebut.
Raja menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. "Ma... !" tegur nya. Ia tidak tega melihat menantunya.
"Baiklah, baiklah itu saja yang mau Mama sampaikan." Anita menyudahi.
"Kakak... " rengek Meili pada suaminya. "Aku malu."
"Sudah jangan di dengarkan," Raka tampak biasa saja.
"Terlanjur."
*
*
"Gimana Meili, enak nggak?" tanya Jessy.
Sekarang mereka berdua duduk di gazebo dekat kolam renang, memisahkan diri dari kelompok pria di sisi lain.
Pipi Meili merona seketika. "Apanya?" Pura-pura tidak mengerti.
Meili memutar bola matanya malas, jadi seperti ini rasanya saat ia dulu menggoda sahabatnya ketika pengantin baru.
Menyebalkan.
"Goyangan Raka di ranjang tahan berapa lama?" Jessy terus mencecarnya. Ada senyum menyebalkan di wajah cantiknya.
Pipi Meili rasanya memanas, ia teringat beberapa hari kejadian di hotel yang hanya mereka habiskan di dalam kamar.
Belum Meili menjawab, Jessy sudah tertawa.
"Ada apa sih?" Meili heran melihat sahabat nya.
"Paling Raka numpak bolak balik ya?" tebak Jessy. Karena dari waja Meili sudah terlihat jelas.
"Numpak?"
__ADS_1
"Meili, maksud gue. Raka naikin lo bolak balik." jelas Jessy.
"Astaga!" Meili menepuk keningnya. "Tuh mulut nggak ada filternya."
Entahlah, sahabatnya itu begitu berubah setelah sejak punya anak. Tapi bagaimana pun Meili bahagia melihatnya, karena Jessy lebih sedikit terbuka untuk mengungkapkan suatu hal. Meskipun terkadang di luar batas.
Hingga sore menjelang, Meili akhirnya bisa mengistirahatkan tubuhnya. Tentunya setelah sahabat dan yang lainnya pulang.
Tubuhnya terasa lelah, setelah tadi menempuh perjalan dari hotel lalu di lanjutkan acara makan bersama.
Saat di kamar, tujuan utamanya adalah ranjang. Ia ingin sekali membaringkan tubuhnya untuk beristirahat sebelum nanti malam mengantarkan kakak iparnya ke bandara.
Ketika ia baru saja menjelajahi mimpi indah, ia meresakan semilir angin menerpa kulitnya.
Hawa dingin itu rasanya langsung menerpa kulitnya seperti tidak ada penghalang.
Ia bermimpi seperti berada di tempat relaksasi, merasakan nikmatnya memanjakan diri.
Tapi ia sedikit aneh, ketika sang terapis melepaskan baju atasnya dan melepas penutup kedua asetnya. Hingga kini dua bulatan itu terpampang seutuhnya.
Tangan sang terapis perlahan memijat di area tulang selangka nya, hingga perlahan turun di kedua bulatannya.
Pijatan itu terasa nyaman, membuatnya teringat jika beberapa hari ini ia menyukai kegiatan itu.
Meili merasakan puncak dadanya yang berdenyut, seperti ada seseutu yang menghisap nya.
"Ungh... !" tanpa sadar ia menlen_guh.
Sensasi itu terasa nyata, apa lagi hisapan itu semakin lama semakin kuat. Hingga membuatnya merasa jika ini benar-benar nyata.
Mata Meili perlahan terbuka, ia merasa jika tidurnya terusik. Ia dapat melihat ada seseorang sudah berada di atas nya dan sedang bermain di kedua bulatanya, meremas juga menghisapnya seperti bayi yang kelaparan.
"Kak!" Meili terkejut ketika ia benar-benar tersadar dan mendapati ternyata seseorang itu adalah suaminya.
Dan sekarang ia baru mengerti jika tadi bukanlah mimpi, melainkan perbuatan suaminya. Bahkan keadaan tubuhnya sudah tanpa sehelai benang, begitupun keadaan suaminya.
Raka menjeda kegiatannya, nafasnya terlihat memburu. Ia sudah merasakan lonjakan gairah yang begitu dalam. "I want you."
Hingga kejadian yang menguras tenaga itu terjadi kembali, saling menggapai nikmatnya dunia.
__ADS_1
...----------------...
...Anu... anu nya bayangin sendiri ya 😅...