
Meili segera bangun untuk menghampiri laki-laki yang baru datang ke rumahnya, terlihat satpam membukakan gerbang untuk laki-laki itu.
Dari belakang, Jessy rupanya juga ikut menghampiri.
"Kak Dika!" Meili yang mengenali. Ia memang belum pernah bertemu secara langsung, hingga ia tidak bisa mengenali.
Dika seketika mengalihkan perhatiannya pada Meili, gadis cantik dan imut. Ia tertegun melihat Meili, gadis itu ternyata lebih cantik jika bertatap langsung. Apalagi dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Adiknya memang sungguh beruntung, dan bisa menikah lebih dulu dari pada dirinya. Sedangkan ia harus sibuk dengan pekerjaan setelah lulus kuliah.
"Ayo Kak masuk," ajak Meili. Kemudian ia memanggil satpam. "Pak, tolong bawakan koper Kak Dika ke dalam." pintanya dan segera di laksanakan.
"Jessy ayo masuk juga," Meili juga mengajak sahabatnya. Ia mungkin akan gugup jika menemani kakak iparnya itu sendirian.
"Ok," sahut Jessy. Tapi rasanya mulutnya sudah gatal sekali ingin mengomentari Dika, ia merasa jika Dika ternyata lebih dingin dari pada Raka. Padahal, Raka menurutnya sudah sangat dingin tapi ternyata masih ada lagi yang melebihi.
*
*
Makan malam terlihat berbeda malam ini, tentu saja karena ada tambahan anggota baru yaitu Dika.
Mertuanya dan suaminya terlihat senang dengan kedatangan Dika, sedangkan ia hanya bisa menyimak obrolan mereka. Karena ia sama sekali belum pernah mengobrol dengan kakak iparnya sehingga tidak tau bagaimana sifatnya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau mau pulang, Mama sama Papa bisa jemput di bandara." Anita ketika di kantor mendapatkan telepon dari rumah jika putranya telah pulang, langsung memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sayangnya setelah sampai di rumah, putranya itu sudah terlelap. Mungkin akibat kelelahan setelah perjalan yang cukup lama.
"Aku hanya ingin buat kejutan Ma." Dika menjawab dengan raut wajah biasa dan datar. Bukan seperti orang yang senang karena kejutannya telah berhasil membuat keluarganya terkejut.
"Ck, kamu ini kenapa masih saja tidak berubah." Anita kesal melihat sikap kedua putranya yang hampir tidak ada perbedaan. "Cobalah lebih hangat sedikit, agar perempuan tidak takut mendekat."
Petuah yang sering kali di ucapkan oleh Anita, dan bagaikan angin lalu untuk Dika.
"Dika merasa biasa saja Ma." sahut Dika.
"Astaga!" Anita menghembuskan nafasnya kasar.
Raja dan Raka hanya menggelengkan melihat interaksi ibu dan anak itu, bagi mereka itu adalah pemandangan yang sering mereka lihat.
"Oh ya, kamu sudah berkenalan dengan adik ipar mu?" Anita baru ingat.
"Hm... sudah," Dika menjawab tanpa melihat ke arah Meili. Ia lebih fokus pada makan malamnya.
Itu membuat Meili hanya bisa tersenyum kaku.
__ADS_1
"Sayang, kamu harus mulai terbiasa dengan sikap kakak ipar mu. Ok!" Kata Anita memberi pengertian.
Meili hanya bisa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Bukankah Raka juga tidak jauh berbeda denganku, tapi buktinya dia bisa menikah." Kata Dika.
Dan itu sukses membuat Meili tersedak seketika.
Raka melihat itu langsung mengambilkan minum.
"Ma, sudahlah. Kita selesaikan dulu makan malamnya." Raja menengahi.
Mau tidak mau akhirnya Anita diam.
Setelah makan malam hampir usai, Dika mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Ini," ia memberikan ya kepada Raka. "Anggap saja sebagai hadiah pernikahan yang tertunda."
Semua orang seketika mengalihkan perhatiannya pada Raka, menunggu apa sebenarnya yang di berikan oleh Dika.
Raka membuka amplop yang di berikan Dika, di amplop itu tertera logo salah satu hotel terkenal di luar kota.
"Bang, ini maksudnya?" Raka masih belum paham. Di dalam nya terdapat tanda bukti, penyewaan sweet room selama satu minggu.
"Mungkin kalian butuh liburan." Sebelum kepulangannya, ia menyuruh seseorang untuk menyewa di salah satu hotel.
Setelah mengatakan itu, Dika pergi dari sana. Kebetulan ia juga sudah menyelesaikan makan malamnya.
*
*
Ketika Raka dan Meili bersiap tidur, mereka masih menimbang dengan apa yang di berikan oleh Dika. Tanggal yang tertera adalah besok untuk menginap di hotel.
"Kak!" panggil Meili.
Raka segera menoleh ke arah istrinya. "Hm... "
"Tentang tadi bagaiman?"
"Apa kamu mau pergi?" Raka justru balik bertanya.
Meili terdiam. "Apa kakak mau kalau pergi? Kalau tidak pergi juga tidak apa-apa, tapi tidak enak sama Kak Dika."
"Baiklah kalau begitu besok kita pergi," Raka melirik ke arah kalender kecil yang berada di atas meja kecil samping tempat tidurnya. "kebetulan besok tanggal merah juga, dan setelahnya akhir pekan. Jadi kita ijin kuliahnya tidak terlalu lama."
Setelah itu mereka memutuskan untuk tidur, karena tidak mau bangun kesiangan esok hari.
__ADS_1
Hingga ketika pagi buta, bahkan matahari belum menunjukkan sinarnya sepasang suami istri itu sudah bersiap. Mereka hanya membawa satu koper, untuk membawa keperluan mereka berdua.
"Kak, nggak apa-apa kita nggak pamit?" Meili merasa tidak enak jika pergi tanpa berpamitan. Sedangkan ia juga tidak enak kalau harus membangunkan mertuanya.
"Nanti kita bisa menelponnya." ujar Raka.
Mereka kemudian menuju mobil, setelah memasukkan koper serta barang-barang lainnya mereka siap untuk berangkat.
"Aden mau kemana pagi-pagi?" Satpam membukakan pintu gerbang untuk mereka.
"Ada urusan Pak," jawab Raka. "Nanti kalau Mama sama Papa bangun tolong beritahu kalau saya sama istri saya berangkat pagi-pagi sekali."
"Baik Den."
Mobil Raka perlahan mulai melaju, membela jalan yang masih petang.
Ia memutuskan berangkat pagi buta agar menghindari kemacetan, di hari libur seperti ini sudah di pastikan jalanan akan macet. Apalagi jalur yang menuju tempat wisata.
Hingga tidak berapa lama, mereka sudah mulai memasuki kawasan puncak. Dan udara dingin begitu saja menusuk tulang.
Pukul enam pagi, mereka akhirnya sampai dan langsung check-in.
Sesampainya di kamar, Meili di buat takjub. Kamarnya di dekor sedemikian rupa, harum mawar tentu saja mendominasi.
Di atas ranjang bahkan ada selimut yang di bentuk menjadi sepasang angsa kemudian di sekelilingnya di taburi oleh kelopak bunga mawar.
Kelopak bunga mawar bahkan tidak hanya di atas ranjang, namun mulai dari pintu ia masuk ke dalam kamar. Ternyata tidak sampai di situ saja, di bath up dan kolam renang juga bertaburan kolam renang.
Jika begini ia teringat dengan drama Korea yang sering ia tonton.
Kalau di drama Korea, bukankah ini untuk seseorang yang berbulan madu?
Pikiran Meili seketika berceceran ke mana-mana.
Kenapa jadi merinding ya?
"Istirahatlah," Raka mulai membereskan barang mereka.
Meili tidak menyahut, tapi ia terus memperhatikan suaminya dari belakang yang sedang menata baju mereka ke lemari.
"Ada apa?" Raka baru menyadari jika istrinya sedari tadi sedang memperhatikannya.
"Ti-tidak," Meili yang tersadar dari lamunannya.
...----------------...
__ADS_1
...Gengs aku mau kasih info ya, mungkin novel ini jumlah bab nya tidak jauh berbeda sama novel ku yang lain. Dan mungkin, novel ini mau aku tamatin. Tapi tenang aja masih ada beberapa bab selanjutnya, pokoknya ceritanya nggak bakalan aku gantung dan di jamin akan tuntas. Setelahnya aku mau lanjutin novel ku yang Cinta Untuk Airin. Terima kasih 🥰...