
Kini Raka sedang duduk di kursi sebelah ranjang Meili, ia dapat melihat mata gadis itu sedikit sembab. Ia bisa memastikan jika gadis itu habis menangis.
"Kenapa Kak Raka repot-repot?" Meili merasa tidak enak. Karena lagi-lagi ia harus merepotkan orang lain.
"Tidak, sama sekali tidak merepotkan." Karena memang dari hati Raka sendiri ingin menjenguk Meili. "Kenapa tidak ke rumah sakit jika sakit?"
"Kak Raka tau sendiri alasannya." jawab Meili.
Raka baru tersadar jika Meili takut dengan jarum suntik, waktu di apartemen Meili berhasil di infus karena sedang pingsan.
*
*
Setelah Raka tadi menjenguknya, Meili akhirnya baru bisa memejamkan matanya.
Entah sudah berapa lama ia tertidur, namun ia melihat warna langit di luar sudah berubah jingga.
Sejenak pandangannya tak sengaja melihat paper bag yang ada di atas nakas. "Ini apa ya?" Ia berusaha mendudukkan dirinya kemudian mencoba melihat isi di dalam paperbag itu.
__ADS_1
Senyumnya terbit begitu saja ketika tau bahwa di dalam paperbag itu adalah gaun yang begitu cantik. "Pasti Jessy." Ia sudah bisa menebak jika itu adalah pemberian dari sahabatnya yang akan mereka gunakan di acara prom night.
Klek.
"Sudah baikan?" Mariam membawakan semangkuk bubur beserta teh hangat. Ia lalu duduk di tepi ranjang.
"Lebih baik Nek," jawab Meili. Gadis itu sungguh bersyukur keluarga sahabatnya begitu baik terhadapnya.
Mariam menyentuh kening Meili dengan punggung tangannya. "Masih demam sayang." Merasakan suhu panas pada tangannya. "Sekarang makan dulu, biar Nenek yang suapi." Mariam menyendokkan bubur lalu sedikit ia tiup untuk mengurangi panasnya. "Aa... " katanya menyuruh Meili untuk membuka mulutnya.
"Meili bisa makan sendiri Nek," Meili merasa sungkan. Ia sudah di Terima dengan baik saja sudah bersyukur.
"Tidak apa-apa, Nenek mau melakukannya untuk mu." Kata Mariam tulus. Ia sudah menganggap Meili sudah seperti cucunya sendiri.
Jangankan di suapi, bahkan kedua orang tuanya tidak punya waktu untuknya. Atau mungkin memang tidak mau mengingatnya.
Hingga di suapan terakhir, tak terasa air mata Meili mengalir begitu saja. Sungguh ia merasa bahagia.
"Loh, kenapa?" Mariam yang terkejut.
__ADS_1
Meili dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, hanya saja Meili sungguh beruntung bertemu Jessy dan Nenek." Air matanya tidak dapat ia bendung.
"Sayang ..." Mariam langsung membawa Meili dalam pelukannya. "Kamu juga sudah seperti cucu nenek sendiri."
Meili semakin sesenggukan di pelukan Mariam, jika boleh ia ingin menukar semua yang ia punya untuk mendapat seseorang seperti Mariam. Seseorang yang begitu tulus memberinya kasih sayang.
Setelah di rasa Meili sudah lebih baik, Mariam kemudian melepas pelukannya. "Sudah jangan menangis, nanti kepalamu bertambah pusing." Ia mengusap sisa air mata Meili.
Gadis itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.
Jessy yang berada di ambang pintu tanpa sadar juga meneteskan air matanya, ia tahu seperti apa rasanya seperti Meili. Karena kehidupannya juga tidak jauh beda dengan sahabatnya.
"Sayang!" Nathan yang menghampiri dengan seseorang dengan menggunakan jas putih. Dokter yang tadi di hubungi oleh Jessy. "Ada apa?" melihat istrinya menangis.
"Tidak apa-apa," jawabnya. Ia lalu menoleh ke arah sang Dokter, silahkan masuk.
Jessy membuka pintu kamar Meili lebih lebar.
Meili tentu saja segera menoleh karena kedatangan sahabatnya, namun ia lebih terkejut ketika melihat sosok seseorang yang di belakang sahabatnya. Dan ia tau, orang itu pasti Dokter.
__ADS_1
...----------------...
...Jangan lupa buat dukungannya ya ðŸ¤...