Ku Kejar Cintamu

Ku Kejar Cintamu
Kita Pacaran


__ADS_3

Di ruang makan itu terlihat ramai dengan kedatangan para anak muda yang mendadak mengadakan liburan di sana.


Makan malam itu akhirnya berlangsung dengan suasana hangat, canda tawa terdengar di sela-sela acara makan mereka.


Jessy pun makan dengan anteng, semangkok seblak keinginannya sudah tersaji setelah beberapa saat lalu Meili membuatkannya.


Meskipun suasana makan malam itu terlihat riuh, tapi tidak dengan Raka dan Meili.


Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, bahkan di setiap pandangan mereka yang tak sengaja bertabrakan pun akan membuat mereka salah tingkah.


*


*


Malam semakin larut, namun semua seakan masih betah terjaga.


Para lelaki bersantai di teras rumah, sedangkan Jessy dan Meili bersantai di ruang tengah ditemani Oma juga Nenek.


"Bagaimana Siti?" Mariam yang merindukan kucing jantan nya. Biasanya ia akan menyempatkan bermain di saat tubuhnya dulu masih sehat.


"Baik Nek, dia semakin gendut. Terus sering banget jalan bareng sama Karina," Meili mengadu.


Ia yang sering melihat Siti selalu mencari perhatian pada Karina.


"Karina?" Semua yang merasa tidak mengenalnya.


"Itu kucing tetangga, Karina baru saja di adopsi." jelas Meili.


Semua orang tertawa mendengar cerita Meili.


Di lain tempat, tepatnya di kelompok lelaki semuanya sedang menggoda Raka.


Apalagi Ariel dan Reza, tentu mereka yang paling bersemangat.


"Jadi kehadiran gue tadi di waktu yang tidak tepat?" Nathan baru mengetahui. Namun raut wajahnya terlihat biasa saja.


Ariel dan Reza tentu saja kembali tertawa, apalagi jika mengingat bagaimana cara sahabat kaku nya itu menyatakan cinta.

__ADS_1


Sedangkan Raka mendengus melihat para sahabatnya yang justru terlihat bahagia di atas malunya dirinya. "Apa kalian merasa senang sekarang!"


"Oh, tentu... " sahut Reza.


Dan kemudian terdengar suara tawa mereka yang menggelegar.


*


*


Setelah puas menertawakan Raka, kini mereka terlihat begitu serius.


"Pasti setelah ini sahabat kita akan sedikit melunak karena sudah menemukan penghangatnya," Ariel memulainya lebih dulu.


"Iya, bener banget." Reza yang setuju. "Apalagi kalau sudah tau rasanya ci pokan, beh... pasti ketagihan."


Mereka berdua sepertinya sengaja ingin mengotori otak Raka. Sedangkan Raka sendiri, entah kenapa tiba-tiba merasa tenggorokan lnya tercekat mendengar itu.


Nathan sebagai yang paling berpengalaman hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia kemudian melihat jam pada layar ponselnya, ternyata sudah lumayan larut malam. "Gue balik dulu ke kamar." katanya beranjak dari sana.


Tentu saja hal itu membuat ketiga sahabatnya menoleh ke arahnya.


"Gue mau nengokin anak gue dulu!" sahut Nathan, setelah itu benar-benar pergi dari sana.


Ketiga lelaki itu terdiam, sebelum akhirnya mengerti apa yang di maksud Nathan.


"Semprul, mentang-mentang udah punya lubang!" sungguh Reza.


"Iya," Ariel yang setuju. Ia lalu menoleh ke arah Reza. "Gimana kalau kita cari aja lubang gadis di desa ini!" idenya.


Reza tersenyum penuh arti. "Boleh juga." Yang ternyata sama-sama mesum nya dengan Ariel.


"Kalian semakin lama semakin tidak waras." Raka lebih memilih pergi, dari pada otaknya ikut ngelantur ke mana-mana.


"Woy, bilang aja juga kepingin!" teriak Ariel pada Raka yang sudah pergi.


Plak.

__ADS_1


Reza memukul kepala Ariel. "Jangan teriak-teriak bodoh! Ini di desa. Bukannya bidadari yang nongol malah kunti yang datang."


*


*


Ketika Meili yang baru saja dari dapur, ia tertegun ketika berpapasan dengan Raka di tangga.


Suasana seketika menjadi canggung, apalagi mengingat kejadian tadi sore yang belum rampung.


"Kak Raka," Meili yang tidak berani menatap mata Raka. Tapi detak jantungnya sekarang sungguh tidak bisa di bohongi, ia merasakan gugup yang teramat sangat. "Untuk yang tadi sore itu--"


"Itu memang benar," sela Raka. Tidak ada keraguan sama sekali di diri Raka. "Dan tidak perlu ada jawaban," katanya.


"Ha!" Meili yang seketika menjadi linglung.


"Bukankah gue bilang lo harus jadi pacar gue, itu berarti lo harus mau." jelasnya. Entah rumus menyatakan cinta dari mana yang di ambil Raka.


"Ha!" Otak Meili rasanya masih belum paham, tapi senang? Tentu saja.


Raka yang melihat reaksi Meili menghembuskan nafasnya pelan, kenapa gadis seperti Meili yang bisa menyita semua dunia nya. "Lo suka sama gue kan?"


Dengan spontan Meili menganggukkan kepalanya, seolah itu adalah jawaban yang memang harus ia berikan pada pertanyaan Raka.


Tanpa sadar sudut bibir Raka tertarik ke atas membentuk senyuman. "Ya sudah, kita pacaran." ucapnya. Ia lalu mengusap kepala Meili. "Tidurlah sudah malam."


Ia lalu berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Meili dengan rasa keterkejutannya.


"OMG," beberapa saat kemudian saat Meili tersadar. "Aku jadian sama Kak Raka," speechless nya. Ia menepuk kedua pipinya, memastikan jika ia tidak bermimpi. "Ouch." ketika pipinya sedikit terasa panas.


Di detik berikutnya ia menghentakkan kakinya, dan senyum yang terus mengembang. "Raka Oppa," teriaknya tertahan.


Ternyata tindakan Meili di saksikan Raka dari celah pintu kamarnya. Ia menyentuh dadanya yang juga merasakan ada jutaan kupu-kupu berterbangan di sana. Senyum tampannya kini pun semakin lebar, meskipun tidak ada yang mengetahuinya. "Jadi begini rasanya."


...----------------...


...Ya ampunnn!!! Gemes banget deh lihat kalian 😚. ...

__ADS_1


...Seperti biasa gengs, dukunganya 🥰...



__ADS_2