
Ketika pagi menjelang, Jessy dan Nathan sudah bersiap untuk berangkat.
Namun beberapa saat kemudian, Jessy mengerutkan keningnya ketika mobil yang di kendarai suaminya tidak ke arah rumah Meili. Karena rencananya ia akan menjemput sahabatnya itu terlebih dahulu.
"Sayang, ini bukan jalan ke arah rumah Meili?" kata Jessy. Tapi ia melihat suaminya yang biasa saja, seolah itu memang di sengaja olehnya.
"Memang," jawab Nathan.
"Terus Meili gimana?"
"Dia sudah ada yang jemput."
"Siapa?"
"Nanti kamu juga tau."
Ada senyuman penuh arti di bibir Nathan. Tentu saja ia melakukan itu karena ia tidak mau suara cempreng Meili menganggu kebersamaanya dengan Jessy.
*
*
Di lain tempat Raka juga bersiap untuk berangkat. Tapi ia masih heran tentang isi pesan Nathan yang menyuruhnya untuk menjemput di alamat yang ia tau itu bukan alamat rumah Nathan maupun Jessy.
"Hay!" Sapa seorang perempuan.
Raka yang hampir saja masuk ke dalam mobilnya kemudian ia urungkan. Dan ternyata itu adalah Rosi, seniornya di kampus yang beberapa minggu lalu menjadi tetangga apartemennya.
__ADS_1
"Mau pergi?" tanya gadis itu. Karena Raka hanya terdiam sepertinya tidak berminat untuk membalas sapaannya.
"Hm," jawab Raka.
Entah kenapa semenjak kuliah ia semakin dingin, namun karena itu gadis-gadis justru semakin banyak yang mengejarnya. Dan salah satunya adalah Rosi.
"Oh... pergi kemana?" Rosi seakan ingin menahan kepergian Raka. Baginya kesempatan untuk mengobrol dengan Raka adalah sangat langkah.
Raka melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. "Sorry, gue harus pergi." tanpa menjawab pertanyaan dari Rosi, Raka kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Baiklah, hati-hati." kata Rosi yang jelas tidak di dengar oleh Raka. Karena mobil Raka sudah melaju pergi.
Gadis itu masih saja tersenyum manis sembari memperhatikan mobil Raka yang sudah menghilang dari pandangannya. "Kenapa semakin hari semakin tampan!" gumamnya.
*
*
Pasalnya beberapa saat lalu Nathan mengirimkan pesan katanya sudah hampir sampai, dan menyuruhnya untuk menunggu di depan rumah saja.
Tapi kenyatannya, mobil Nathan sedari tadi sama sekali tidak terlihat.
Raka yang mengemudikan mobilnya, ia hampir sampai pada alamat yang di berikan Nathan.
Hingga tak lama, pandangannya menangkap keberadaan seseorang yang lama tidak ia jumpai.
Jadi?
__ADS_1
Ia sekarang baru mengerti ternyata yang akan di jemput olehnya bukan sahabatnya, melainkan Meili.
Tepat di saat mobil Raka berhenti di hadapannya, Meili hanya bisa diam memaku. Ia sangat hafal siapa pemilik mobil itu.
Meili menggigit bibirnya kuat-kuat ketika Raka keluar dari mobilnya dan berjalan ke arahnya.
"Ya Tuhan, jantungku rasanya mau lompat!" batinnya. Meili tak tau harus mengatakan apa. Sungguh ia tak menyangka jika akan bertemu Raka, bahakan bukan hanya bertemu. Karena sebentar lagi di pastikan ia akan berangkat ke vila bersamanya.
"Ehm," Raka mencoba untuk mencairkan suasana. "Maaf lama," imbuhnya. Nyatanya ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh Meili.
"Tidak apa-apa," sahut Meili. Ia sama sekali tidak berani untuk menatap mata Raka, hanya sekilas ia menatapnya lalu ia segera mengalihkan pandangannya.
Gugup?
Mungkin yang di rasakan Meili lebih dari gugup.
Raka membuka kan pintu mobil untuk Meili. "Masuklah."
Sebelum Meili benar benar masuk, Raka mengambil tas yang di bawa oleh Meili dan menaruhnya di kursi belakang.
Meili rasanya semakin tidak tau harus berbuat apa, melihat sikap Raka seperti itu padanya. Sungguh itu hal yang luar biasa menurutnya, karena ia tahu Raka seperti apa.
...----------------...
...Ya ampun ada pendatang baru saingannya Meili. ...
...Awas Bang Raka, jangan sampai oleng 🤭...
__ADS_1
...Seperti biasa, like, komen dan hadiahnya 😁...
...Lope lope buat kalian 🥰...