
Sedetik kemudian tiba-tiba Meili masuk saja ke dalam kelas. "Ups, sorry!" ucapnya. Ia merasa hadir di saat yang tidak tepat, ia kemudian pergi dari sana. Pergi dengan membawa luka di hatinya.
Baru saja ia merasakan indahnya jatuh cinta, namun kini ia harus merasakan sakit juga karena cinta.
Pikirannya tiba-tiba mengingat usahanya beberapa terakhir belakangan untuk mendekati Raka. Pantas saja selama ia mendekati Raka, cowok itu sama sekali tidak pernah meresponnya.
Tanpa terasa mata Meili meneteskan cairan bening begitu saja ketika mengingat apa yang tadi ia lihat. Raka begitu tulus menenangkan Tasya. "Ternyata aku memang cengeng," ucapnya sambil mengusap air matanya dengan kasar. Ia bahkan tertawa getir.
Saat jaraknya sudah semakin dekat dengan keberadaan Jessy, Meili menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mencoba menetralkan perasaanya yang tadi sampat kacau.
"Maaf lama," ucapnya dengan tersenyum seperti biasanya. Ia bahkan tidak terlihat seperti orang yang habis menangis, lalu langsung duduk di samping Jessy.
"Tadi gue pesenin bakso, soalnya yang lainnya lagi antri." Jessy memberitahu. Ia malas sekali jika harus berdesak-desakan.
"Ok," sahut Meili bersiap untuk memakan baksonya.
Tidak lama setelah itu Raka datang lalu duduk di sebelah Meili seperti biasanya.
"Lo boker? Lama amat ke toilet!" cibir Ariel.
Plak.
Kepala Ariel seketika mendapat pukulan dari Reza. "Woy, lagi makan!" Bisa bisanya sahabatnya itu berbicara hal seperti itu. Tapi Ariel hanya tertawa menanggapi ocehannya.
Sedangkan Raka hanya diam seperti biasanya tidak menanggapi hal yang menurutnya tidak penting.
Suasana di meja mereka biasanya akan ramai dengan suara Meili yang terus mencari perhatian pada Raka, tapi kali ini gadis itu hanya diam menikmati bakso yang kuahnya tampak merah karena sambal.
"Meili, sudah!" Jessy yang terus memperhatikan Meili memasukkan sambal ke dalam mangkok baksonya. "Nanti sakit perut!" ingatkan nya. Ia bergidik ngeri, bakso Meili bahkan seperti sambal yang di kasih bakso.
Meili hanya tertawa mendengar ucapan Jessy. "Tenang saja, aku kuat makan pedas." Padahal, bibir dan wajah Meili sudah mulai memerah karena rasa pedas yang mulai menjalar.
"Tumben hari ini nggak berisik?" sindir Reza.
"Iya, bisanya Kak Raka mau makan? Kak Raka mau minum?" Ariel menirukan gaya Meili ketika merayu Raka.
Meili yang sedang melahap bakso, kemudian mengangkat pandangannya. Dan terlihat Ariel, Reza, Nathan juga Jessy menoleh ke arahnya.
Ia kemudian tersenyum, lalu menoleh ke arah Raka. "Kak Raka mau aku suapin?" Bertepatan makanan Raka yang baru datang. Nada suaranya pun masih sama seperti biasanya.
Raka menatap ke arah Meili, baru kali ini ia menatap lekat wajah Meili. Dan ia bisa melihat, jika tatapan Meili tidak seperti biasanya yang selalu berharap ia membalas perhatian yang di berikan Meili.
Sewaktu di kelas tadi, Raka sempat melihat mata Meili yang kecewa melihatnya bersama Tasya.
__ADS_1
Karena tidak mendapat jawaban, Meili melanjutkan memakan makanannya. "Ya sudah kalau tidak mau."
Semua yang di sana sedikit heran melihat Meili, tidak biasanya gadis itu cepat menyerah.
"Meili!" kesal Jessy. Ia kesal karena Meili masih saja menambahkan sambal ke dalam mangkuknya. "Cabai mahal Meili, nanti mamang bisa rugi."
"Nanti aku akan bayar lebih untuk sambalnya," tukas Meili.
Padahal maksud Jessy tadi hanya bercanda, karena ingin Meili berhenti. Tapi sepertinya Meili memang benar-benar aneh.
"Jangan makan sambal lagi!" untuk pertama kalinya Raka memberi perhatian pada Meili.
Seketika Meili menoleh ke arah Raka. Bibirnya kemudian melengkung begitu saja membentuk sebuah senyuman. "Terima kasih atas perhatiannya." Namun mata Meili masih saja tetap sama. Kemudian ia melanjutkan makannya lagi hingga tandas tak tersisa.
Mungkin dengan itu cara Meili mengobati rasa sakitnya.
*
*
Jam pelajaran sekolah belum berakhir, namun sudah beberapa kali Meili ijin ke toilet, perutnya terasa panas dan melilit.
Padahal di dalam toilet ia tidak mengeluarkan apapun, karena sudah terkuras habis untuk yang pertama tadi. Dan sekarang di tambah ia yang mulai muntah mengeluarkan isi perutnya. Tentu saja tenggorokannya terasa terbakar sisa dari makan bakso waktu istirahat tadi.
Meili menoleh ke arah Jessy. "Nggak apa-apa, tenang saja. Ok." jawabnya santai dengan senyum.
Sedangkan Tasya ia juga ikut menoleh ke arah Meili, namun bibirnya keluh untuk menanyakan keadaanya. Apalagi setelah kejadian tadi siang bersama Meili.
*
*
"Meili, lo gue anter ya?" Jessy tidak tega melihat Meili pulang sendirian.
"Nggak usah, aku mau mampir ke tempat lain dulu.!" tolaknya. Kemudian ia segera masuk kedalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya keluar dari area sekolahan.
Jalanan yang hampir sore itu, lumayan padat karena jam pulang sekolah. Ia sekarang hanya butuh waktu untuk sendiri, karena itu tadi ia tidak mau di antar oleh Jessy.
Tapi tidak lama, Meili merasakan tangannya yang mulai gemetar. Dan keringat dingin mulai keluar di saat perutnya di landa rasa sakit kembali.
Ia menepikan mobilnya, tangan kanannya mencengkeram kuat pada perutnya, sedangkan tangan kirinya ia jadikan tumpuan kepalanya yang ia telungkup kan pada setir mobil.
Sejenak Meili memejamkan matanya, berharap bisa menghalau rasa sakit di perutnya.
__ADS_1
Tidak lama, terdengar ketukan di kaca pintu mobilnya.
Meili mengangkat kepalanya, matanya menyipit melihat seseorang yang berdiri di samping pintu mobilnya. Ia tidak bisa melihat jelas seseorang itu karena matanya sedikit buram.
Ia kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Buka!" yang ternyata itu adalah Raka. Ia tadi sengaja mengikuti Meili karena tahu ada yang tidak beres dengan gadis itu. Dan benar saja ia melihat wajah Meili yang sangat pucat.
Meili mengenali suara itu, namun ia tidak memperdulikannya. Ia bahkan akan menaikkan kaca mobilnya kembali, namun dengan cepat Raka memasukkan tangannya dan membuka pintu mobil Meili.
"Kak Raka mau apa sih?" Jika dulu mungkin Meili akan senang melihat tindakan Raka sekarang, namun setelah ia merasakan rasa kecewa itu semua sudah tidak berarti lagi untuknya.
Mungkin dulu ia berjuang mendapatkan hati Raka karena ia yakin Raka tidak memiliki kekasih, tapi saat melihatnya dengan Tasya itu semua langsung meruntuhkan perjuangannya. Ia tidak mau berjuang untuk seseorang yang hatinya sudah tertanam oleh hati yang lain.
Raka tidak memperdulikan pertanyaan Meili, ia justru membuka lebar pintu mobil Meili.
Deg.
Meili membeku ketika Raka begitu dekat dengannya, ia bahkan bisa mencium wangi maskulin dari cowok itu.
Ternyata Raka membuka seat belt yang Meili gunakan, ia terpaksa melakukan hal itu karena ia yakin jika gadis itu tidak mau mendengarkan ucapannya.
"Kak Raka mau apa?" Meili yang semakin memundurkan tubuhnya, posisinya sekarang sungguh membuatnya tidak aman.
Raka langsung menggendong Meili, dan membawanya ke dalam mobilnya.
"Kak Raka!" kesal Meili karena Raka tanpa ijin langsung menggendongnya.
"Kita ke rumah sakit," tegas Raka.
Mata Meili membulat mendengar itu. "Nggak!" tolaknya langsung. Ia kemudian mencoba keluar dari mobil Raka namun ternyata sudah terkunci.
Ia tidak habis pikir, sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Raka. Tiba-tiba hadir, dan tiba-tiba memberikan perhatian. Apa dia mencoba mempermainkan perasaannya?
Dulu di saat ia ingin mendapatkan perhatian darinya, namun sama sekali tidak ada ada balasan. Dan sekarang?
Meili tiba-tiba saja memejamkan matanya ketika sakit pada perutnya semakin menjadi. Tangannya kembali mencengkeram kuat perutnya.
"Kalau sakit, harus ke rumah sakit!" final Raka. Dan mulai melajukan mobilnya.
Tapi Meili menggelengkan kepalanya mendengar itu. "Aku nggak mau," ia tetap menolaknya. "Aku takut jarum suntik." lirihnya yang langsung membuat Raka menoleh ke arahnya.
...----------------...
__ADS_1
...Jika sakit hati, emang paling enak itu mukbang. Gendut urusan belakangan ðŸ¤...